Program kebersihan lingkungan ini bertujuan menanggulangi banjir langganan serta mempercantik wajah wilayahnya sebagai pintu masuk Kabupaten Mojokerto.
Tempat pembuangan sampah (TPS) liar di jalan cor belakang Terminal Kertajaya itu tak lagi terlihat.
Dulu, tumpukan sampah rumah tangga membuat kawasan lalu lintas tersebut begitu kumuh. Padahal, papan imbauan bernada larangan bagi pembuang sampah tertancap di sana.
Bertahun-tahun berlalu, keberadaan TPS liar itu akhirnya dapat dimusnahkan. Khususnya sejak era kepemimpinan Mokh. Malik.
Camat Mojoanyar ini begitu tegas dengan persoalan sampah.
Setiap desa ia programkan untuk menjalankan program pengolahan sampah.
”Saya motivasi desa harus bersih dan sampah menjadi penghasilan bagi desa,” ujarnya. Untuk lebih memacu pemdes, program desa bersih ini sampai dilombakan.
Melalui program itu pula, setiap desa melakukan pemilahan sampah milik warganya melalui kerja sama dengan dinas terkait dan pabrik daur ulang sampah.
Sampah-sampah yang tak bisa didaur ulang diambil petugas DLH untuk dibuang ke TPA, sedangkan yang bernilai rupiah dijual ke pabrik di kawasan utara Desa Jabon.
Dengan pengolahan sampah tingkat desa yang telah berjalan ini, pihaknya berharap potensi banjir bisa teratasi. Banjir luapan itu rutin dialami desa-desa yang sekitar aliran sungai pada musim penghujan.
”Ini sebagai mitigasi banjir kami. Sebagaimana arahan Ibu Bupati Ikfina Fahmawati, Kecamatan Mojoanyar itu harus bebas banjir,” tandasnya.
Di samping itu, terciptanya lingkungan bersih di kawasan Kecamatan Mojoanyar dirasa penting dari sisi perwajahan.
Sebabnya wilayah ini berada di perbatasan dan menjadi pintu masuk ke wilayah Kabupaten Mojokerto, khususnya dari daerah Surabaya dan Kota Mojokerto.
”Kalau daerahnya kumuh, masyarakat mau datang kan malas, jadi harus bersih. Program pengolahan sampah ini kami kerjakan dari desa ke desa dan terus dikawal,” ungkapnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah