Hal ini, tidak bisa tercapai tanpa campur tangan seorang kepala desa yang kompatibel. Nur Rohmad, yang menjabat sebagai kepala desa sejak 2019 akhir ini membawa dampak perubahan yang signifikan untuk perubahan desa dengan luas wilayah 717,83 km² (BPS 2021). Proses untuk memberikan perubahan di segala lini ini tidak bisa dilakukan secara instan.
’’Untuk meraih perubahan yang diharapkan itu harus melalui sebuah proses. Tidak bisa langsung,’’ kata Kepala Desa Jabontegal, Nur Rohmad. Semuanya harus ada perubahan. Perubahan paling dasar yang harus dirubah. Yakni, Sumber Daya Manusianya (SDM). Sejak dini, semua perangkat harus disiplin terlebih dahulu. Mulai dari waktu, cara berpakaian dan job desk terkait bidang yang dipegangnya.
’’Tiap pagi semua perangkat harus datang sebelum jam 8 pagi. Setelah itu, kita adakan rapat koordinasi terkait apa yang menjadi permasalahan yang ada di masyarakat. Baru kita jalan untuk mencari solusinya bersama-sama,’’ tandasnya.
Selain kedisiplinan itu, lanjut, Nur Rohmad, keterbukaan atau transparansi juga diutamakan. ’’Semua harus terbuka dan harus mengetahui. Mulai dari program dan semua dana yang terkait dengan pembangunan dan pemberdayaan kepada masyarakat,’’ ujarnya.
Setelah kedisiplinan menjadi sebuah kebiasaan maka tidak mungkin hasil tidak mengikuti. Dalam membangun sebuah desa tidak mungkin dikerjakan secara mandiri. Semua harus terlibat. Mulai pemerintahan tingkat paling bawah. Yakni, Lingkup Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW) harus terlibat. ’’Makanya, apabila ada rapat mengenai anggaran desa atau bantuan semua harus mengetahui. Kita mengadakan Musyawarah Desa (Musdes) dengan mengundang semua elemen masyarakat,’’ imbuhnya.
Menurutnya, semua bermula dari SDM-nya. Jika, sumber daya manusianya sehat jasmani dan rohani serta ingin maju pasti pembangunan yang ingin dicapai juga akan mengikuti. Dengan menitik beratkan pembangunan infrastruktur diharapkan semua pembangunan disegala bidang bisa ikut berkembang. ’’Saat ini, hampir 80 persen pembangunan infrastruktur di Desa Jabontegal terpenuhi, tinggal sebagian jalan yang akan tersentuh,’’ terang bapak dari 2 anak ini.
Selain infrastruktur, untuk peningkatan ketahanan pangan terhadap masyarakat. Saat ini, pihak desa memberikan beberapa bibit tanaman kepada masyarakat. Yakni, tanaman rambutan, jeruk hingga apukat. ’’Kami memang memberikan bibit ini agar masyarakat secara langsung bisa ikut bercocok tanam dan bisa untuk kebutuhan. Dan selain itu, juga memberikan bibit lombok, terong dan tanaman yang lainnya,’’ beber Nur Rohmad.
Untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa. Pemerintah Desa melalui musyawarah desa membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yakni, Mekar Jaya. Melalui BUMDes ini diharapkan bisa melayani kebutuhan ekonomi dan/atau pelayanan umum masyarakat desa. Saat ini, BUMDes Mekar Jaya melayani pembayaran listrik masyarakat, penyewaan terop hingga pemberdayaan perikanan.
’’Saat ini, BUMDes Mekar jaya sangat memberikan kontribusi untuk pendapatan. Semua hal melalui BUMDes. Dan, semua untuk kesejahteraan masyarakat desa,’’ pungkasnya. (dik/fen)
Editor : Fendy Hermansyah