Ayam putih tembus memberi kesan unik dan menarik bagi sebagian orang. Tak sekadar indah, warna putih yang mendominasi di hampir seluruh tubuh luarnya dipercaya sebagai hal spesial. Tak ayal, hewan unggas ini mulai banyak dibudidayakan lantaran harga jualnya yang tinggi.
FARISMA ROMAWAN, Mojosari, Jawa Pos Radar Mojokerto
BERAWAL dari iseng, Agus Wahyu Cahyono asal Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini akhirnya serius membudidayakan ayam putih tembus. Dengan memanfaatkan lahan seadanya di belakang rumah, dia setiap hari merawat ratusan ekor ayam yang dia dapat dari Pasuruan itu.
Meski baru dua tahun, Agus mengaku sudah bisa meraup uang hingga jutaan rupiah dari hasil penjualan ayam putih kinantan itu. ’’Bibitnya saya beli di daerah Pasuruan, dan sekarang sudah berkembang menjadi seratus ekor lebih. Beberapa di antaranya sudah dijual, dan kini tersisa 50 ekor di kandang,’’ ujarnya.
Agus yang juga perangkat kelurahan setempat ini mengakui, merawat ayam putih tembus tak butuh teknik atau cara rumit. Cukup diberi makanan konsentrat ditambah sisa nasi, ayam yang dominan jantan ini bisa tumbuh besar dan siap jual.
Agus menambahkan, keunikan ayam ini tak lepas dari warna tubuhnya yang putih mulai dari paruh, bulu, hingga kaki. Khususnya bagi pejantan, jika disandingkan dengan ayam jenis lain, bentuk tubuhnya paling kekar, sehingga kerap diburu para pecinta ayam.
’’Untuk makannya seperti ayam biasa, setiap hari dikasih pakan pabrikan dicampur dengan nasi atau bekatul dan sedikit tumbuhan tumbuhan hijau,’’ tambahnya. Untuk perawatan, Agus hanya menekankan pada bulunya yang perlu dijaga kualitasnya, yakni dengan rutin memandikan sekali dalam sepekan. ’’Bulu putih gampang kotor, harus dimandikan seminggu sekali,’’ terang Agus.
Selain keindahan bulu tubuhnya, perburuan ayam jenis ini juga tak lepas dari mitosnya yang dipercaya mampu menangkal kekuatan gaib. Sama seperti ayam cemani, ayam putih tembus juga kerap dijadikan media sesembahan dalam ritual adat tertentu. Termasuk sedekah bumi dan acara syukuran oleh para penganut aliran kepercayaan.
’’Banyak permintaan untuk acara tumpengan di bulan-bulan tertentu. Seperti bulan Syura yang permintaannya paling banyak, katanya dimasak panggangan untuk ritual,’’ imbuhnya.
Untuk harga jual sendiri, Agus biasa membanderol Ayam putih tembus dewasa senilai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per ekor. Khusus untuk jenis jantan, harga jualnya bisa mencapai hingga Rp 2 juta, tergantung dari suara, kekar fisik dan putihnya bulu. ’’Untuk yang jantan yang sudah besar usia lima bulan saya banderol Rp 400 ribu,’’ tegasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah