Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menilik Eksistensi Candi Waji di Desa Sumbergirang Mojokerto

Fendy Hermansyah • 2023-02-01 18:56:33
PENUH FILOSOFI: Warga setempat membersihkan Candi Waji, candi buatan di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, yang dibangun untuk cerminan kerukunan umat lintas agama. (Martda Vadetya/JPRM)
PENUH FILOSOFI: Warga setempat membersihkan Candi Waji, candi buatan di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, yang dibangun untuk cerminan kerukunan umat lintas agama. (Martda Vadetya/JPRM)
Bangun Candi Buatan untuk Wujudkan Kerukunan Lintas Agama

Candi buatan di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, itu dinamai Candi Waji. Meski disebut candi, di sana biasa jadi tempat memanjatkan doa bagi umat lima agama. Serta menjadi tempat berkumpulnya masyarakat tanpa memandang latar belakang agama masing-masing.

MARTDA VADETYA, Puri, Jawa Pos Radar Mojokerto

Nuansa Majapahitan terasa kental sejak memasuki kawasan Candi Waji yang berdiri di antara kawasan permukiman. Pengunjung langsung disambut dengan gagahnya gerbang paduraksa dari susunan bata. Ditambah, sejumlah ornamen-ornamen khas layaknya Surya Majapahit yang tersebar di sejumlah titik. Dari gerbang pintu masuk, terlihat candi warna hitam emas. Ya, itulah Candi Waji. Candi buatan Ki Wiro Kadek Wongso Jumeno, pendiri Pendiri Yayasan Tlasih Delapan Tujuh. Bukan candi cagar budaya sisa Kerajaan Majapahit.

Candi buatan tersebut memiliki luas bangunan sekitar 8x6 meter dengan titik tertinggi candi sekitar 8 meter di atas permukaan tanah. Dengan warna dasar hitam, terdapat tiga menara sebagai bangunan candi. Dari nama dan fisik bangunan candi buatan tersebut, merupakan perpaduan dari Candi Jawi di Prigen, Pasuruan dan Candi Jiwa di Karawang, Jawa Barat. Tampak dari corak Hindu-Budha yang ditampilkan.

Di candi buatan yang rampung dibangun dalam waktu sebulan pada 2016 silam itu, tak sedikit umat lintas agama yang berkunjung untuk berdoa. Bahkan sekadar nongkrong dan berfoto ria sekalipun. ”Memang tujuan dibangunnya candi ini untuk kita berdoa. Banyak umat Islam, Hindu, Budha, lima agama ke sini buat berdoa. Bisa dibilang, ini sebagai sentral doa. Candi ini tidak mencerminkan satu agama apapun. Ini monumen sarana mencari inspirasi kebatinan. Jadi, mau berdoa silahkan, mau cangkrukan-pun silahkan. Tidak masalah,” ungkap Wiro. Benar saja, tempat ibadah umat Hindu adalah Pura sedangkan tempat ibadah umat Budha yaitu Vihara.

Gagahnya candi buatan tersebut mengandung sejumlah filosofi tertentu. Salah satunya, jumlah anak tangga yang menunjukkan angka 5,7, dan 9. ”5 anak tangga cerminan pancasila dan rukun Islam. 7 untuk pitulungan tuhan. Dan 9, menjaga sembilan lubang agar selamat (konsep budaya Jawa atau Majapahit),” sebutnya.

Tidak jauh dari situ, terpisah tanah lapang, berdiri sebuah musala dan pendapa. Musala tersebut aktif digunakan umat muslim warga setempat untuk salat lima waktu. Menurut Wiro, konsep pluralisme itu dibangun melalui warisan budaya Majapahit. Yang identik dengan warisan leluhur masyarakat Mojokerto, pada khususnya. ”Setiap Selasa di sini ada rutinan istighotsah. Setiap hari Minggu, ada gelaran Seni Bantengan. Banyak juga umat Hindu dari luar daerah bahkan Bali, yang datang ke sini, istilahnya ziarah lah,” ucap pria 55 tahun itu.

Lebih lanjut, kata Wiro, konsep pluralisme yang mencerminkan kerukunan itu tak lepas dari nama Candi Waji sendiri. ”Nama Waji itu dari kalimat wayahe dadi siji. Jadi, waktunya kita bersatu dan rukun tanpa memandang agama atau latar belakang masing-masing. Karena kita-kita ini sudah lama terpecah karena kepentingan atau bahkan yang mengatasnamakan agama itu sendiri. Padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan kerukunan,” tutur pria empat anak itu.

Tidak jarang, tanah lapang di kompleks Candi Waji dimanfaatkan warga setempat untuk kegiatan sosial. Tidak dipungut biaya sepeserpun, layaknya mengunjungi candi buatan tersebut. ”Banyak kegiatan warga yang dilakukan di sini selain beribadah. Selain untuk perkumpulan, salah satunya ya senam rutin itu,” katanya.

Diakuinya, sejak berdiri lebih dari enam tahun lalu, sejauh ini tidak ada pihak manapun yang keberatan akan berdirinya candi buatan tersebut. Justru, sejumlah pihak mengapresiasi konsep pengamalan Pancasila yang diusung. ”Memang ini tidak lepas dari sila pertama dan sila ketiga. Tentang konsep ketuhanan dan persatuan. Kita menghargai urusan ketuhanan setiap orang. Dengan begini, kita bisa menjalin persatuan yang erat,” ujarnya.

Lebih dalam ke pendapa, terdapat petirtaan buatan yang dialiri air dari Sendang Sedur yang berada tak jauh dari lokasi. Kompleks Candi Waji diyakini masih memiliki hubungan erat dengan masa akhir Kerajaan Majapahit. Sebab, di sekitar sumber air tersebut diyakini sebagai petilasan bangsawan Majapahit. ”Menurut masyarakat sini di sekitar sendang itu petilasan Girishawardhana Dyah Suryawikrama (Raja ke-9 Majapahit 1456–1466),” tukasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #sumbergirang #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #candi waji #kerajaan majapahit #peribadatan #Kota Mojokerto #tempat #puri #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde