Bersiap Masuk Siklus Tanaman Pangan
Terik matahari tak menyurutkan aktivitas petani di lahan tembakau Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Sabtu (26/9). Daun-daun tembakau yang mulai matang dipetik satu per satu. Sebagian dikumpulkan untuk dirajang, sementara lainnya mulai dijemur di bawah terik matahari.
Sofan Kurniawan, Dawarblandong
PEMANDANGAN tersebut menandai puncak panen tembakau di salah satu sentra pertanian kawasan utara Sungai Brantas. Setelah berbulan-bulan dirawat selama musim kemarau, tanaman tembakau kini mulai memberikan hasil bagi para petani.
Pascapetik, aktivitas pengolahan melalui proses yang cukup panjang. Daun yang selesai dipetik dirajang menjadi bagian-bagian kecil, kemudian dijemur hingga kering. Cuaca panas menjadi faktor krusial dalam proses ini sebelum tembakau siap dipasarkan.
Mukti, salah seorang petani setempat, menyampaikan September merupakan puncak panen tembakau. Menurutnya, proses yang dilalui petani sangat panjang, mulai dari menanam, merawat, memanen, hingga mengolah daun sebelum dijual. ’’September ini memang puncak panen. Setelah dipetik, tembakau dirajang lalu dijemur,’’ katanya.
Hasil yang diperoleh petani bergantung pada jenis dan kualitas tembakau. Untuk kualitas biasa, harga di tingkat petani saat ini mencapai sekitar Rp 80 ribu per kilogram. ’’Kalau yang kualitas biasa sekitar Rp 80 ribu per kilogram. Masih banyak jenis dan kualitas lainnya, harganya juga berbeda-beda,’’ jelas Mukti.
Bagi petani Simongagrok dan wilayah utara Sungai Brantas, panen tembakau menjadi momentum yang paling ditunggu setiap musim kemarau. Dari hasil panen inilah jerih payah selama beberapa bulan mulai terbayar. Desa Simongagrok sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil tembakau terbesar di kawasan utara Sungai Brantas, di mana hamparan lahan pertaniannya berubah menjadi pusat aktivitas pemrosesan tembakau.
Kendati demikian, siklus pertanian tidak berhenti setelah tembakau dipanen. Begitu seluruh tembakau selesai diolah dan dipasarkan, petani mulai bersiap menghadapi musim hujan. Lahan yang sebelumnya ditanami tembakau akan kembali disiapkan untuk tanaman padi. Petani kini menunggu datangnya hujan yang diprediksi mulai mengguyur kawasan tersebut menjelang akhir tahun.
Bagi petani utara Sungai Brantas, peralihan dari tembakau ke padi merupakan siklus tahunan. Musim kemarau menjadi waktunya tembakau, sementara musim hujan kembali membawa mereka bercocok tanam padi dan tanaman pangan lainnya. (fan/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto