Kopi tidak hanya dipandang sebagai tanaman penghasil komoditas. Bagi Dedi Tri Sudarmawan, 43, tanaman kopi juga bisa menjadi upaya mengubah pemanfaatan lahan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani di Kecamatan Jatirejo.
Fendy Hermansyah, Jatirejo
WARGA Dusun Jabung, Desa Lebak Jabung, ini mulai membagikan bibit kopi kepada warga sejak 2022. Setiap tahun, sekitar seribu bibit dibagikan. Jenis yang dikembangkan terutama excelsa dan liberika. Itu berawal dari keinginannya agar semakin banyak petani kopi tumbuh di Jatirejo. Dedi yang merupakan lulusan SMAN 1 Puri tersebut bahkan menargetkan pengembangan kopi hingga 4-5 hektare dalam kurun empat tahun. ’’Pertama saya kasih bibit itu sejak 2022. Tujuannya biar ada petani kopi di Jatirejo,’ kata Dedi.
Menurut dia, proses menyiapkan bibit hingga siap ditanam membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Setelah ditanam, kopi excelsa membutuhkan waktu sekitar empat tahun sebelum memasuki masa panen. Sementara arabika relatif lebih cepat berbuah.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejumlah warga di kawasan Jabung telah memanen kopi. Setidaknya tiga orang petani sudah mulai menikmati hasil dari tanaman yang sebelumnya mereka kembangkan dari bibit. Dedi menyebut, kopi juga memiliki keunggulan dalam pola pemanfaatan lahan. Tanaman kopi bisa digunakan sebagai pagar lahan maupun ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lainnya.
Hal itu menjadi penting karena selama ini sebagian lahan banyak dimanfaatkan untuk tanaman jagung dan tebu. Tanaman dengan perakaran yang relatif pendek tersebut dinilai kurang mampu menahan tanah ketika hujan deras. ’’Kalau lahan banyak dipakai tebu, ketika hujan airnya langsung turun. Di beberapa titik tanah mudah tergerus. Ini juga berkaitan dengan dampak banjir,’’ ujarnya.
Karena itu, Dedi mendorong tanaman kopi tidak sekadar menjadi komoditas, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat tutupan lahan. Di sisi lain, ia mulai mendorong petani untuk memperbaiki kualitas hasil panen. Salah satu kebiasaan yang ingin diubah adalah cara memetik buah kopi.
Selama ini, kata Dedi, petani cenderung memetik seluruh buah ketika masa panen tiba. Kini mereka mulai disosialisasikan untuk memilih buah yang benar-benar matang atau berwarna merah. ’’Selama ini kalau panen semua dipetik. Sekarang kita sosialisasikan supaya yang dipetik hanya yang merah. Harapannya kualitas panen meningkat,’’ katanya.
Upaya peningkatan kualitas itu sekaligus diarahkan untuk membangun identitas kopi Jatirejo. Dedi menyebut kopi yang dikembangkan memiliki karakter aroma bunga atau floral yang cukup khas. ’’Kalau dari karakter, ada wangi bunganya, floral. Itu yang ingin kita angkat sekaligus menjadi branding kopi Jatirejo,’’ jelasnya.
Produksi kopi dari kawasan tersebut saat ini diperkirakan mencapai sekitar dua ton per bulan pada masa panen raya. Puncak panen biasanya berlangsung pada Juli hingga September. Namun, hasil panen tahun ini sedikit mengalami penurunan. Dedi menduga salah satu penyebabnya adalah faktor perawatan tanaman. ’’Kalau saya kira, agak turunnya itu karena perawatan. Kopi ini setahun sekali panen, jadi perawatannya memang harus diperhatikan,’’ katanya.
Meski begitu, dia optimistis produksi tahun depan akan meningkat. Tanaman yang semakin berkembang akan memiliki lebih banyak cabang dan ranting produktif sehingga potensi buah yang dihasilkan juga bertambah.
Gambaran mengenai potensi ekonomi kopi juga dirasakan Mbah Lim, salah seorang warga yang menanam kopi di kawasan Selomalang, Jabung, Jatirejo. Sebelumnya, lahan seperempat hektare miliknya digunakan untuk menanam jagung dan kacang. Dari satu kali panen, hasil kotor yang diperoleh sekitar Rp 5 juta. Namun, biaya produksi yang harus dikeluarkan mendekati Rp 3 juta, belum termasuk tenaga dan waktu untuk datang serta merawat tanaman.
Berbeda dengan kopi. Dengan sekitar 2,5 kuintal hasil panen dan harga sekitar Rp 10 ribu per kilogram, pendapatan kotor mencapai Rp 2,5 juta. Biaya produksi relatif lebih ringan karena pekerjaan utama berada pada perawatan dan saat panen. ’’Kalau kopi, pupuknya enak, sebulan sekali. Waktu panen tinggal memetik,’’ kata Dedi, menggambarkan pengalaman Mbah Lim, salah satu petani yang menerima bibit darinya.
Untuk memanen sekitar 2,5 kuintal kopi, dibutuhkan dua orang tenaga dengan biaya sekitar Rp200 ribu per hari. Dengan pola tersebut, sebagian tenaga dan waktu petani bisa dialihkan untuk mengurus lahan lainnya.
Bagi Dedi, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kopi memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas di Jatirejo. Bukan hanya karena nilai ekonominya, tetapi juga karena tanaman kopi dapat menjadi bagian dari pola pertanian yang lebih beragam. ’’Harapannya semakin banyak yang menanam. Tidak hanya untuk hasil kopinya, tetapi lahannya juga bisa lebih terjaga,’’ pungkasnya. (fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto