Pintu Rumah Terbuka bagi Muktamirin, Siapkan Makanan Prasmanan Gratis
Warga Lingkungan Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang benar-benar turut merasakan sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Tak hanya menyiapkan rumah singgah, makanan dan kopi gratis, tak sedikit dari mereka menyulap kediaman pribadi laiknya sedang menggelar hajatan. Menyediakan tempat penginapan lengkap dengan menu kuliner berkonsep prasmanan ala katering secara gratis.
Mochammad Chariris, Jombang
GARASI rumah almarhum H Anshori Anwar seperti sedang menggelar hajatan. Garasi seluas 10 x 20 meter itu tak sekadar digelari karpet. Namun, turut dipasang dengan tirai warna. Di sudut ruangan yang memang disediakan bagi para muktamirin dan Nahdliyin ini, juga disediakan meja berjajar.
Di atasnya dilengkapi peralatan masakan ala katering lengkap dengan nasi, lauk pauk, sayuran, hidangan pembuka, buah-buahan, hingga kopi dan minuman es. ’’Memberikan fasilitas dan makanan bagi siapapun tamunya ini bagian dari ajaran ayah kami,’’ ujar M. Fahmi Ulinuha.
Pemuda 28 tahun ini merupakan satu di antara lima bersaudara putra-putri pasangan (alm) H Anshori Anwar dan Hj Ilil Maidah. ’’Ibaratnya open house, ini sudah kami awali sejak 20 Agustus lalu,’’ kata Fahmi.
Di ruangan yang dilengkapi kipas ini, tak jarang Fahmi dan keluarga ikut menemui para tamu selayaknya kerabat dan saudara sendiri. Mereka tampak akrab, berbincang hangat, kendati tidak pernah bertemu sebelumnya.
Selain muktamirin dan Nahdliyin dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, tak jarang tamu yang singgah di rumah ini adalah rombongan dari luar pulau. ’’Sebelum pembukaan muktamar awalnya kami sediakan minuman seperti kopi dan teh. Mulai ada sajian makanan prasmanan sejak tanggal 26 Agustus atau H-1 pembukaan,’’ jelasnya.
Ia menuturkan, inisiatif menghadirkan fasilitas bagi muktamirin layaknya keluarga sendiri tersebut berangkat dari tradisi keluarga. Siapapun tamu yang hadir di rumah, urai Fahmi, harus disambut dengan baik. ’’Minimal harus makan, kalau ada tamu dari manapun, makan selalu kita siapkan. Selama ini kita sudah biasa, bahkan beberapa kali rombongan sampai beberapa bus,’’ jelasnya.
Fahmi menceritakan, budaya memuliakan tamu ini sebelumnya biasa dilakukan sang ayah. Semasa menempuh pendidikan di lingkungan pesantren, lanjutnya, ayahnya kerap mendengar dawuh dari para guru. Seperti KH Abdul Fattah Hasyim dan KH Amanulah Abdurrochim (RA). ’’Ayah pernah menyampaikan kepada putra-putrinya, ’’salah satu tandane wong iman itu khurmat (menghormati) tamu.’’ Dan ini sejalan dengan apa yang didawuhkan Mbah Mun (KH Maimun Zubair) kepada putra-putrinya,’’ urainya.
Selama muktamar menu yang disajikan juga cukup beragam. Lauk-pauk menggunakan daging atau ayam, sayuran, tempe, buah-buahan, dan polo pendem. Sedangkan di meja paling ujung, keluarga Fahmi melengkapinya dengan minuman. Seperti es, kopi, dan teh. ’’Dalam sehari menunya tiga kali. Pagi sampai malam,’’ ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak pernah menghitung berapa jumlah porsi yang disediakan per harinya. Selain berniat melayani tamu muktamar, kebutuhan masakan selama ini sudah ditanggung keluarga, dengan dibantu 8 orang kerabat bertugas untuk memasak dan ladeni (melayani tamu). ’’Kalau hari H pembukaan ada mungkin sekitar 700 porsi, dan minuman yang terpakai di kisaran 500 cup,’’ paparnya.
Fahmi menambahkan, keluarga tidak pernah menghitung kebutuhan ketika menyambut para tamu. Semua berjalan mengalir dan semampu keluarga. Di sisi lain, ia bersyukur sekaligus bangga tetap istikamah melestarikan tradisi yang diajarkan sang ayah. ’’Pasti bangga, merasa senang, ini bentuk khidmah kita ke muassis, terima tamu Mbah Wahab (KH Abdul Wahab Chasbullah). Semua ini kan tamu-tamu Mbah Wahab,’’ terangnya.
Ia berharap, selain membuat para tamu nyaman dan merasa dilayani dengan baik, menyediakan makanan gratis ini sekaligus sebagai bentuk syiar dakwah. ’’Semoga dapat menjadi bagian syiar dakwah keluarga, apalagi untuk menghormati saudara seiman dan sama-sama Nahdliyin,’’ paparnya. (fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto