Fendy Suhartanto, Sejarawan Muda Asal Bumi Majapahit, Singkap Mojokerto Era Kolonial lewat Mojokerto 1838-1942

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 09:22 WIB
BUKU KEDUA: Fendy Suhartanto menunjukkan karyanya, buku Mojokerto 1838-1942: Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda. (Fendy JPRM)
BUKU KEDUA: Fendy Suhartanto menunjukkan karyanya, buku Mojokerto 1838-1942: Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda. (Fendy JPRM) 

Berangkat dari kepeduliannya terhadap sejarah, Fendy Suhartanto, warga Desa Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto ini mendedikasikan diri untuk menelusuri jejak perkembangan Mojokerto melalui riset berbasis arsip dan sumber sejarah.

FENDY HERMANSYAH, Kabupaten

BAGINYA, sejarah Mojokerto tidak berhenti pada kejayaan Majapahit, tetapi juga mencakup dinamika pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik pada masa kolonial yang turut membentuk wajah Mojokerto sekarang ini.

Gagasan tersebut dituangkannya dalam buku Mojokerto 1838-1942: Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda. Dalam buku setebal hampir 500 halaman ini, Fendy mengajak pembaca melihat Mojokerto sebagai wilayah administrasi yang mengalami kemajuan pesat pada era kolonial.

Ia mengungkap berkembangnya sektor ekonomi dengan hadirnya belasan pabrik gula, berbagai perkebunan, hotel, pasar, hingga showroom kendaraan; kemajuan teknologi melalui jaringan kereta api, trem, serta industrialisasi; dan tumbuhnya kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan, serta organisasi modern yang mewarnai perjalanan Mojokerto pada masa itu.

’’Kalau bahan-bahan sudah sejak lama. Tetapi, sejak 2018 saya mulai meramu bahan untuk buku ini,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Mojokerto. Buku yang diterbitkan Juli 2025 ini menjadi buku kedua karangannya. Sebelumnya, dia menulis buku tentang Mojowarno, sebuah kecamatan di Kabupaten Jombang.

Tulisan dalam buku ini dilengkapi dengan catatan kaki. Itu sebagai penanda sumber literatur yang menjadi rujukan bapak tiga anak ini dalam merangkai tulisan. Maklum, Fendy yang sehari-hari menjadi guru di SMAN 1 Puri ini merupakan lulusan ilmu sejarah Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). ’’Semua catatan kaki itu sumber literatur yang saya miliki. Dan, memang sudah dibaca semua. Jadi, memang proses pembuatannya lama,’’ kata dia.

Karya tersebut pun mendapat apresiasi dari kalangan akademisi dan pegiat sejarah karena menghadirkan perspektif yang lebih utuh, ilmiah, dan mampu memperkaya pemahaman masyarakat tentang sejarah daerahnya sendiri. Bagi Fendy, karya sejarah merupakan bentuk pertanggungjawaban ilmiah yang selalu terbuka terhadap kritik dan saran. ’’Tugas seorang sejarawan bukanlah menawarkan solusi atas persoalan masa lalu, melainkan menyajikan fakta dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan agar sejarah dipahami secara lebih jernih,’’ ujarnya.

Melalui bukunya, Fendy berharap pembaca dapat menikmati perjalanan menelusuri masa lalu Mojokerto secara lebih objektif, sekaligus menyadari sejarah tidak selalu menghadirkan kisah yang membahagiakan, tetapi selalu menyimpan pelajaran berharga bagi masa kini dan masa depan. Sebagaimana ia tuliskan pada pengantar bukunya, ’’Selamat membaca, selamat menikmati perjalanan ke masa lalu yang (bisa jadi tidak) membahagiakan.’’ (fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
penulis muda sejarawan muda sejarawan mojokerto penulis buku