Tak Rela Jejak Wilwatikta Hilang Diam-diam, Rutin Dokumentasi dengan Kamera
Bagi sebagian orang, media sosial adalah ruang mencari hiburan atau popularitas. Namun bagi Paidi Jolali, media sosial dijadikan sebagai ruang menyelamatkan sejarah.
FENDY HERMANSYAH, Kabupaten
SELAMA hampir dua dekade, ia berkeliling menyusuri Trowulan dan berbagai wilayah di Kabupaten Mojokerto dan Jombang untuk mendokumentasikan situs-situs peninggalan Majapahit yang rusak, terbengkalai, terpendam, hingga perlahan menghilang. Bekalnya kamera. Alat itu tak hanya dipakai merekam gambar, tetapi juga untuk menjaga ingatan tentang warisan leluhur.
Kecintaannya pada sejarah bermula sejak masih duduk di bangku sekolah. Ia kerap mengunjungi situs-situs Majapahit di Trowulan. Memasuki masa SMA, hobinya mendaki gunung membuatnya mulai belajar fotografi menggunakan kamera analog. Pengalaman pertamanya justru berakhir gagal karena seluruh hasil foto rusak akibat belum memahami cara menggunakan kamera. Dari kegagalan itu, ia belajar kepada seorang tukang foto manten keliling.
Perjalanan hidupnya berubah saat banjir besar melanda Mojokerto pada 2004. Dengan kamera prosumer, ia mengabadikan bencana tersebut melalui foto dan video. Sejak itu, ia menyadari bahwa dokumentasi memiliki nilai sejarah yang sulit tergantikan.
Pada 2006, fokusnya beralih ke tinggalan arkeologi. Hampir setiap hari ia menyusuri desa demi desa untuk mendokumentasikan candi, struktur bata kuno, sumur kuno, maupun benda-benda cagar budaya yang minim perhatian. Ia bahkan menyusun pendataan situs berdasarkan kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Kala itu ia juga tergabung dengan Gotrah Wilwatikta, organisasi pemerhati tinggalan Majapahit.
Menurut pengamatannya, hampir setiap kecamatan di Kabupaten Mojokerto memiliki tinggalan arkeologi, bahkan hampir setiap desa pernah ditemukan jejak peninggalan masa lampau. Seluruh dokumentasi itu tersimpan rapi. Mulai ribuan foto, rekaman video, kaset-kaset dokumentasi lama, hingga rekaman suara berisi testimoni warga mengenai temuan-temuan arkeologi yang pernah ada di lingkungan mereka.
Arsip tersebut kini menjadi fondasi bagi konten-konten yang ia produksi. ’’Video situs yang rusak, arca yang dipakai patung di gapura kampung, hingga tumpukan batu bata Majapahit yang rusak saya video dan potret. Lalu, saya arsipkan,’’ kata pria yang berdomisili di Perum Gatoel Kota Mojokerto ini.
Melalui akun Instananegara di Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube, ia mengangkat kisah situs-situs yang terlupakan agar dapat diakses masyarakat luas. Banyak kontennya memperlihatkan perbandingan kondisi situs dari masa ke masa.
Di Situs Klinterejo, misalnya, foto yang diambil pada 2006 menunjukkan tumpukan bata kuno yang masih melimpah dan tujuh sumur yang masih terlihat. Ketika didokumentasikan kembali bertahun-tahun kemudian, sebagian besar bata itu telah hilang, begitu pula sebagian sumurnya.
Hal serupa terjadi di Situs Nglinguk. Foto lama menunjukkan lebih banyak struktur dan batu berukir dibanding kondisi sekarang. Kini hanya tersisa satu sumur, sementara sejumlah batu candi dilaporkan hilang. ’’Itu saya namakan Candi Penantian. Kenapa penantian? Karena candi itu menanti perhatian negara untuk diselamatkan,’’ tukasnya.
Bagi Paidi, foto-foto perbandingan itu menjadi bukti bahwa kerusakan situs berlangsung jauh lebih cepat dibanding upaya pelestariannya. ’’Laju kerusakan situs tidak sebanding dengan laju penyelamatan maupun pelestariannya. Karena itu semuanya perlu didokumentasikan,’’ tandas pria yang identitas aslinya enggan dikorankan ini.
Ia juga masih menyimpan kegelisahan terhadap dugaan hilangnya tinggalan arkeologi di Nglinguk. Berdasarkan keterangan warga, pernah ditemukan struktur candi dengan batu andesit dan bata kuno yang diduga berasal dari lintas masa, mulai era Mataram Kuno hingga Majapahit. Namun sebelum sempat diteliti lebih jauh, material tersebut disebut telah diangkut menggunakan tiga truk dan hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Selain mendokumentasikan, Paidi juga pernah terlibat dalam gerakan penyelamatan kawasan Trowulan. Bersama para pemerhati arkeologi dan media, ia ikut mengadvokasi penolakan pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) pada 2008–2009. Keberhasilan menggagalkan proyek itu menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam perjalanan advokasinya.
Meski demikian, Paidi memilih tetap optimistis. Ia percaya media sosial dapat menjadi sarana pendidikan yang efektif, terutama bagi generasi muda. ’’Harapan saya masyarakat lokal tahu kalau itu cagar budaya, candi, atau peninggalan era Majapahit. Yang paling penting, anak-anak muda di sekitar situs mengenalnya lebih dulu,’’ ujarnya.
Ia yakin, jika semakin banyak dokumentasi dipublikasikan dan semakin banyak anak muda mengenali warisan sejarah di lingkungan mereka, maka kesadaran untuk menjaga cagar budaya akan terus tumbuh. ’’Bagi saya, sepuluh tahun ke depan kesadaran masyarakat terhadap situs, candi, dan benda cagar budaya akan semakin meningkat. Itu yang saya harapkan,’’ terang Paidi.
Selama masih mampu berjalan dan membawa kamera, Paidi akan terus mendokumentasikan setiap jejak yang tersisa. Sebab ia percaya, ketika sebuah situs hilang, setidaknya masih ada arsip yang membuktikan bahwa peninggalan itu pernah menjadi bagian dari sejarah besar Majapahit. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah