JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dengan memanfaatkan keindahan bahasa. Melalui pilihan kata yang padat, penggunaan majas, serta irama yang khas, puisi mampu menghadirkan makna yang tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga emosional.
Selain itu, puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, melainkan juga sebagai media untuk merefleksikan pengalaman hidup, mengeksplorasi gagasan, serta mengungkapkan perasaan personal yang sulit disampaikan secara langsung.
Maka dari itu, puisi dapat menjadi salah satu alat yang kamu gunakan untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakan, khususnya bagi para pemuda dan pemudi yang tengah dilanda asmara. Melalui rangkaian kata yang sederhana namun bermakna, seseorang dapat menyampaikan isi hati yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung.
Baca Juga: Dari Nol Jadi Cuan: Panduan Cerdas Memulai Investasi untuk Pemula
Berikut beberapa rekomendasi puisi bertema cinta yang dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan kepada orang terkasih:
1. Aku Ingin (Karya Sapardi Djoko Damono)
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
2. Aku Tengah Melukismu (Karya Acep Zamzam Noor)
Aku tengah melukismu lewat jemari angin
Yang mencoreti udara dengan kwasnya yang basah
Burung-burung masih bernyanyi semenjak pagi
Di atas dahan dan bubungan. Dari jendela ini
Hanya bisa kurekam matamu yang menyorot dari timur
Rambutmu masih berenang di barat, ditarik ikan-ikan
Sedang kakimu perkasa menapaki bukit-bukit di utara
Aku tersentak karena matahari begitu dekat
Dan gaunmu yang putih terbakar ujungnya di selatan
Aku pun menterjemahkan semua gairah dan senyummu
Lewat ilalang dan bentangan garis dari tiang ke tiang
Yang diwarnai cahaya siang yang mewah
Menyiram rumput dan tanah. Aku masih melukismu
Saat kabut menyelimuti pelupukku dan berulang kali
Kusaksikan mendung berarak menciptakan bayang-bayang
Yang membungkus kesepianmu dari kobaran
Matahari. Ketika langit mengelam suaramu menjadi gaib
Menyusup semak-semak perdu dan menyisih
Dari kejaran waktu
Baca Juga: Cabut Uban Bikin Tumbuh Lebih Banyak, Mitos atau Fakta?
3. Bulu Matamu: Padang Ilalang (Karya Joko Pinurbo)
Bulu matamu: padang ilalang.
Di tengahnya: sebuah sendang.
Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir
datang bertapa untuk membuktikan apakah benar
wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.
Ia tak percaya, maka ia menyelam.
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.
Bulu matamu: padang ilalang.
4. Di Mana Aku Pergi (Karya Rustam Effendi)
Di mana aku pergi, ah, di mana aku menoleh.
Bagaimana aku menanti, bagaimana aku menanggung,
Bak mana aku merasai, o, bak mana mata meleleh,
Bak mana aku merenung, bak mana aku menggarung.
Biarpun aku tidur, ah, biarpun aku tertawa,
Bagaimana aku berlayar, bagaimana aku bergurau,
Tak ada aku melupa, o, tak ada engkau terlupa.
Tak lain aku pikirkan, ah, jantung hatiku engkau.
Jikalau malam hari, wah, jikalau aku sendiri
Mencucuri mata seorang, membaliki badan yang sakit.
O, sampai engkau mendera, kekasihku, mari kemari!
Lah lama aku mencinta, lah lama hatiku pahit.
Asmara, mana tangan, o, ulurkan jari yang halus.
Terimalah tangan mendamba, sambutlah cinta yang letih.
Nak lepas aku merindu, ah, nak putus rangkung yang haus.
Wah biar, biar kupeluk, ah dengan tangan menggigih.
Tiada pada aku, ah, tiada harta yang sakti.
Ke kakimu aku menangkup, menghantarkan nyawa sebuah.
Kekasih, peluk cintaku, o, percintaan menentang mati.
Sah engkau, tidak yang lain, ah, Tempat Darah Tertumpah.
Baca Juga: Langkah Sederhana Mengurangi Sampah Plastik di Kehidupan Sehari-hari
5. Lovember (Karya Dimas Indiana Senja)
Ke mana aku musti
cerita dan ceriakan
hari indah bersamamu?
Nun di balik baik
sikapmu juga siapmu
ada cinta cita kau-aku
Kelak kita tanam di taman
tak bernama bersama
arungi arus waktu.
6. Nyanyian Para Malaikat (Karya W.S. Rendra)
Di pagi penuh rahmat itu
seorang teman surgawi
memukulkan lidah lonceng
yang keras itu
ke dindingnya yang dingin.
Maka kami pun turun
ke bumi yang sedang mandi.
Dinginnya!
Wahai! Wahai!
Sambil meluncur-luncur
di atas atap licin basah
dari gereja yang tua itu
kami tunggu
kedatangan sepasang pengantin
yang muda remaja
bagai mentari muda yang malu
di pagi dingin itu
Dinginnya!
Wahai! Wahai!
Koster gereja yang rajin
telah siapkan roti dan anggur
untuk missa yang suci itu
sementara lilin-lilin telah dipasang
dan bunga-bunga bersebaran
Tuhan Allah Yang Esa
yang selalu dipuja
dalam mazmur bani Israel,
akan menyatukan dua remaja
dalam pelukan cintanya.
Ah, ya!
Dua orang pengantin remaja
akan berpelukan
dalam pagi yang dingin.
Dinginnya!
Wahai! Wahai!
Pagi yang dingin itu
adalah pagi yang mesra,
pagi bunga-bunga mawar,
pagi kemenyan dan kayu cendana.
Dalam sakramen telah disatukan:
dua badan satu jiwa
selapik seketiduran.
Baca Juga: Hidup Lebih Tenang di Tengah Hiruk Pikuk: Mengapa Gaya Hidup Sederhana Kian Diminati
7. Sajak Cinta (Karya Mustofa Bisri)
Cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta Romeo kepada Juliet, si Majnun Qais kepada Laila
belum apa-apa
temu-pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu dendam Adam Hawa
Aku adalah ombak samuderamu
yang lari-datang bagimu
Buku & Sastra
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu.
Aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir sampai badai anginmu.
Aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu.
Aku adalah titik-titik hurufmu
huruf-huruf katamu
kata-kata maknamu.
Aku adalah sinar silau panas
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu.
Aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu.
8. Sebab Dikau (Karya Amir Hamzah)
Kasihkan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kepak
Membunga cinta dalam hatiku
Mewangi sari dalam jantungku.
Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siuman bertukar-tukar.
Maka merupa di datar layar
Wayang warna menayang rasa
Kalbu rindu turut mengikut
Dua sukma esa - mesra.
Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang.
Golek gemilang ditukarnya pula
Aku engkau di kotak terletak
Aku boneka engkau boneka
Penyenang dalang mengarak sajak.
Baca Juga: Mitos Menaruh Ponsel di Samping Bawah Bantal, Seberapa Bahaya Radiasinya?
9. Taman (Karya Chairil Anwar)
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
10. Tentang Cinta yang Lebih (Karya D. Kemalawati)
Barangkali terlanjur kukabarkan
tentang kesetiaan
sedang penantian terlanjur panjang
dan ketika timbul kesadaran
hati kita tak utuh lagi
Barangkali darah yang kering lebih banyak bicara
kita sama-sama luka
walau saling berpelukan
kurasakan tak ada lagi kedamaian
Barangkali ada cinta yang lebih
tak bisa kutawarkan padamu
kuharap suatu saat nanti
kau pun tahu tentang arti kesakitan.
ASIKHA
Editor : Imron Arlado