Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Agar Romantias, Ini Rekomendasi Karya Puisi untuk Orang Terkasih

Imron Arlado • Jumat, 10 April 2026 | 19:53 WIB
10 rekomendasi puisi bertemakan cinta untuk orang terkasih. (yume/Pinterest)
10 rekomendasi puisi bertemakan cinta untuk orang terkasih. (yume/Pinterest)

 

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dengan memanfaatkan keindahan bahasa. Melalui pilihan kata yang padat, penggunaan majas, serta irama yang khas, puisi mampu menghadirkan makna yang tidak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga emosional. 

Selain itu, puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, melainkan juga sebagai media untuk merefleksikan pengalaman hidup, mengeksplorasi gagasan, serta mengungkapkan perasaan personal yang sulit disampaikan secara langsung.

Maka dari itu, puisi dapat menjadi salah satu alat yang kamu gunakan untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakan, khususnya bagi para pemuda dan pemudi yang tengah dilanda asmara. Melalui rangkaian kata yang sederhana namun bermakna, seseorang dapat menyampaikan isi hati yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung.

Baca Juga: Dari Nol Jadi Cuan: Panduan Cerdas Memulai Investasi untuk Pemula 

Berikut beberapa rekomendasi puisi bertema cinta yang dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan kepada orang terkasih:

      1.      Aku Ingin (Karya Sapardi Djoko Damono)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

       2.      Aku Tengah Melukismu (Karya Acep Zamzam Noor)

Aku tengah melukismu lewat jemari angin

Yang mencoreti udara dengan kwasnya yang basah

Burung-burung masih bernyanyi semenjak pagi

Di atas dahan dan bubungan. Dari jendela ini

Hanya bisa kurekam matamu yang menyorot dari timur

Rambutmu masih berenang di barat, ditarik ikan-ikan

Sedang kakimu perkasa menapaki bukit-bukit di utara

Aku tersentak karena matahari begitu dekat

Dan gaunmu yang putih terbakar ujungnya di selatan

 

Aku pun menterjemahkan semua gairah dan senyummu

Lewat ilalang dan bentangan garis dari tiang ke tiang

Yang diwarnai cahaya siang yang mewah

Menyiram rumput dan tanah. Aku masih melukismu

Saat kabut menyelimuti pelupukku dan berulang kali

Kusaksikan mendung berarak menciptakan bayang-bayang

Yang membungkus kesepianmu dari kobaran

Matahari. Ketika langit mengelam suaramu menjadi gaib

Menyusup semak-semak perdu dan menyisih

Dari kejaran waktu

 Baca Juga: Cabut Uban Bikin Tumbuh Lebih Banyak, Mitos atau Fakta?

 

3.      Bulu Matamu: Padang Ilalang (Karya Joko Pinurbo)

 

Bulu matamu: padang ilalang.

Di tengahnya: sebuah sendang.

 

Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir

datang bertapa untuk membuktikan apakah benar

wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

 

Ia tak percaya, maka ia menyelam.

Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.

Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.

 

Bulu matamu: padang ilalang.

     4.      Di Mana Aku Pergi (Karya Rustam Effendi)

Di mana aku pergi, ah, di mana aku menoleh.

Bagaimana aku menanti, bagaimana aku menanggung,

Bak mana aku merasai, o, bak mana mata meleleh,

Bak mana aku merenung, bak mana aku menggarung.

 

Biarpun aku tidur, ah, biarpun aku tertawa,

Bagaimana aku berlayar, bagaimana aku bergurau,

Tak ada aku melupa, o, tak ada engkau terlupa.

Tak lain aku pikirkan, ah, jantung hatiku engkau.

 

Jikalau malam hari, wah, jikalau aku sendiri

Mencucuri mata seorang, membaliki badan yang sakit.

O, sampai engkau mendera, kekasihku, mari kemari!

Lah lama aku mencinta, lah lama hatiku pahit.

 

Asmara, mana tangan, o, ulurkan jari yang halus.

Terimalah tangan mendamba, sambutlah cinta yang letih.

Nak lepas aku merindu, ah, nak putus rangkung yang haus.

Wah biar, biar kupeluk, ah dengan tangan menggigih.

 

Tiada pada aku, ah, tiada harta yang sakti.

Ke kakimu aku menangkup, menghantarkan nyawa sebuah.

Kekasih, peluk cintaku, o, percintaan menentang mati.

Sah engkau, tidak yang lain, ah, Tempat Darah Tertumpah.

 Baca Juga: Langkah Sederhana Mengurangi Sampah Plastik di Kehidupan Sehari-hari

         5.      Lovember (Karya Dimas Indiana Senja)

Ke mana aku musti

cerita dan ceriakan

hari indah bersamamu?

 

Nun di balik baik

sikapmu juga siapmu

ada cinta cita kau-aku

 

Kelak kita tanam di taman

tak bernama bersama

arungi arus waktu.

        6.      Nyanyian Para Malaikat (Karya W.S. Rendra)

Di pagi penuh rahmat itu

seorang teman surgawi

memukulkan lidah lonceng

yang keras itu

ke dindingnya yang dingin.

Maka kami pun turun

ke bumi yang sedang mandi.

Dinginnya!

Wahai! Wahai!

 

Sambil meluncur-luncur

di atas atap licin basah

dari gereja yang tua itu

kami tunggu

kedatangan sepasang pengantin

yang muda remaja

bagai mentari muda yang malu

di pagi dingin itu

Dinginnya!

Wahai! Wahai!

 

Koster gereja yang rajin

telah siapkan roti dan anggur

untuk missa yang suci itu

sementara lilin-lilin telah dipasang

dan bunga-bunga bersebaran

 

Tuhan Allah Yang Esa

yang selalu dipuja

dalam mazmur bani Israel,

akan menyatukan dua remaja

dalam pelukan cintanya.

Ah, ya!

Dua orang pengantin remaja

akan berpelukan

dalam pagi yang dingin.

Dinginnya!

Wahai! Wahai!

 

Pagi yang dingin itu

adalah pagi yang mesra,

pagi bunga-bunga mawar,

pagi kemenyan dan kayu cendana.

Dalam sakramen telah disatukan:

dua badan satu jiwa

selapik seketiduran.

Baca Juga: Hidup Lebih Tenang di Tengah Hiruk Pikuk: Mengapa Gaya Hidup Sederhana Kian Diminati

         7.      Sajak Cinta (Karya Mustofa Bisri)

Cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya

cinta Romeo kepada Juliet, si Majnun Qais kepada Laila

belum apa-apa

temu-pisah kita lebih bermakna

dibanding temu-pisah Yusuf dan Zulaikha

rindu-dendam kita melebihi rindu dendam Adam Hawa

 

Aku adalah ombak samuderamu

yang lari-datang bagimu

Buku & Sastra

hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu.

 

Aku adalah wangi bungamu

luka berdarah-darah durimu

semilir sampai badai anginmu.

 

Aku adalah kicau burungmu

kabut puncak gunungmu

tuah tenungmu.

 

Aku adalah titik-titik hurufmu

huruf-huruf katamu

kata-kata maknamu.

 

Aku adalah sinar silau panas

dan bayang-bayang hangat mentarimu

bumi pasrah langitmu.

 

Aku adalah jasad ruhmu

fayakun kunmu

aku adalah a-k-u

k-a-u

mu.

         8.      Sebab Dikau (Karya Amir Hamzah)

Kasihkan hidup sebab dikau

Segala kuntum mengoyak kepak

Membunga cinta dalam hatiku

Mewangi sari dalam jantungku.

 

Hidup seperti mimpi

Laku lakon di layar terkelar

Aku pemimpi lagi penari

Sedar siuman bertukar-tukar.

Maka merupa di datar layar

Wayang warna menayang rasa

Kalbu rindu turut mengikut

 

Dua sukma esa - mesra.

Aku boneka engkau boneka

Penghibur dalang mengatur tembang

Di layar kembang bertukar pandang

Hanya selagu, sepanjang dendang.

 

Golek gemilang ditukarnya pula

Aku engkau di kotak terletak

Aku boneka engkau boneka

Penyenang dalang mengarak sajak.

Baca Juga: Mitos Menaruh Ponsel di Samping Bawah Bantal, Seberapa Bahaya Radiasinya?

      9.       Taman (Karya Chairil Anwar)

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, kecil saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

Bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang.

Kecil, penuh surya taman kita

tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

    10.  Tentang Cinta yang Lebih (Karya D. Kemalawati)

Barangkali terlanjur kukabarkan

tentang kesetiaan

sedang penantian terlanjur panjang

dan ketika timbul kesadaran

hati kita tak utuh lagi

Barangkali darah yang kering lebih banyak bicara

kita sama-sama luka

walau saling berpelukan

kurasakan tak ada lagi kedamaian

Barangkali ada cinta yang lebih

tak bisa kutawarkan padamu

kuharap suatu saat nanti

kau pun tahu tentang arti kesakitan.

ASIKHA

 

Editor : Imron Arlado
#penyair indonesia #bahasa indonesia #sastra indonesia #cinta #puisi juara