Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Melihat Riyaya Kupat di Petirtaan Jolotundo, Diawali Arak-arakan Ketupat, Identitas Budaya Khas Penanggungan

Sofan Kurniawan • Minggu, 29 Maret 2026 | 07:44 WIB
TRADISI: Warga Desa Seloliman melestarikan tradisi Riyaya Kupat yang digelar di kolam Petirtaan Jolotundo, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (28/3). (Sofan JPRM)
TRADISI: Warga Desa Seloliman melestarikan tradisi Riyaya Kupat yang digelar di kolam Petirtaan Jolotundo, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (28/3). (Sofan JPRM)

 

 

 

Mojokerto memiliki segudang tradisi dan budaya yang khas. Itu seperti terlihat dalam tradisi Riyaya Kupat di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas. Warga desa merayakan tradisi memakan ketupat di cagar budaya Petirtaan Jolotundo.

SOFAN KURNIAWAN, Trawas

RATUSAN warga Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto memadati kawasan cagar budaya kolam Petirtaan Jolotundo, Sabtu (28/3) pagi. Mereka menggelar upacara adat Riyaya Kupat, tradisi turun-temurun masyarakat lereng Gunung Penanggungan.

Acara diawali dengan pawai budaya yang meriah. Arak-arakan ketupat menghiasi jalannya prosesi, menghadirkan nuansa sakral sekaligus atraktif. Penampilan Tari Macan Hitam Putih turut menyedot perhatian warga dan wisatawan yang hadir.

TIRTA: Warga Desa Seloliman mengikuti prosesi Riyaya Kupat di Petirtaan Jolotundo, Sabtu (28/3). (Sofan JPRM)
TIRTA: Warga Desa Seloliman mengikuti prosesi Riyaya Kupat di Petirtaan Jolotundo, Sabtu (28/3). (Sofan JPRM)

 

Pemangku Adat Desa Seloliman, Mukadi, menjelaskan tradisi ini digelar sepekan setelah perayaan Idul Fitri. Dalam filosofi masyarakat Jawa, ketupat dan lepet memiliki makna mendalam sebagai simbol saling memaafkan. ’’Ketupat dan lepet menjadi simbol leburnya segala kesalahan,’’ ujarnya di sela prosesi.

Dalam ritual tersebut, warga meletakkan ketupat di bibir kolam Petirtaan Jolotundo. Setelah didoakan oleh tokoh adat, ketupat, lepet, dan lontong kemudian disantap bersama sebagai wujud rasa syukur dan kebersamaan.

KHUSYUK: Warga Desa Seloliman yang mengikuti tradisi Riyaya Kupat di Petirtaan Jolotundo tengah menengadah tangan merapal doa, Sabtu (28/3). (Sofan JPRM)
KHUSYUK: Warga Desa Seloliman yang mengikuti tradisi Riyaya Kupat di Petirtaan Jolotundo tengah menengadah tangan merapal doa, Sabtu (28/3). (Sofan JPRM)

 

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, Ardi Sepdianto, mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur. Menurutnya, Riyaya Kupat memiliki potensi besar sebagai penguat identitas sekaligus daya tarik wisata budaya.

’’Ritus kebudayaan seperti ini perlu terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya di bumi Majapahit,’’ tegasnya. Kegiatan ditutup dengan ramah tamah antarwarga, mempererat tali silaturahmi di tengah kesejukan lereng Gunung Penanggungan. (fan/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#budaya penanggungan #tradisi ketupat #riyaya kupat #hari raya kupat #kolam petirtaan jolotundo #tradisi majapahit #Petirtaan Jolotundo Mojokerto