MARTDA VADETYA, Prajurit Kulon
PULUHAN muda-mudi tampak memadati teras Masjid Nurul Muhsinin, Minggu (18/1) pagi. Masjid yang bediri di Jalan KH Usman, Lingkungan Murukan, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, ini rupanya jadi sasaran komunitas Gerakan Resik-Resik Masjid Mojokerto. Mereka tampak gotong royong membersihkan seluruh sudut masjid.
”Hari ini (Minggu, Red) kita bersama teman-teman (siswa) SMK ikut bersih-bersih masjid,” ujar Ketua Gerakan Resik-Resik Masjid Mojokerto Agus Suhandi di sela-sela kegiatan. Para relawan tampak tekun membersihkan rumput di halaman dan mengepel lantai masjid.
Ada juga yang sedang memanjat scaffolding untuk mengelap lampu gantung. Bahkan, ada yang bergelantungan membersihkan kubah dan kaca luar lantai dua. ”Karena memang ada sudut-sudut yang sulit dijangkau marbot untuk bersih-bersih setiap hari. Termasuk area kubah dan lantai dua yang butuh teknik rope access,” jelasnya.
Agus menceritakan, sudah tiga tahun ini Gerakan Resik-Resik Masjid terbentuk di Mojokerto. Komunitas non-profit ini mulanya dicetuskan oleh komunitas hiking dan pecinta alam Gimbal Alas di Malang pada tahun 2020. Yang kemudian terus berkembang hingga di tujuh kota di Jawa Timur. Meliputi, Mojokerto, Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik, Jombang, dan Kediri.
”Awal tercetusnya itu karena kita sering mampir ke musala untuk bersih-bersih badan waktu turun mendaki Gunung Semeru. Setelah bertahun-tahun seperti itu kepikiran untuk membersihkan masjid, karena seringkali ke masjid cuma bersihkan diri sendiri saja,” ungkap pria 49 tahun ini. Sejak berdiri 2023 lalu, total sudah ada 52 masjid di Mojokerto Raya yang dibersihkan secara swadaya oleh komunitas ini.
Jika dirata-rata, dalam sebulan Agus bersama 24 rekannya dua kali membersihkan masjid. Resik-resik masjid biasa digelar pada hari Minggu, mulai pukul 07.00 hingga jelang salat Duhur. ”Keterbatasan personel masih jadi kendala. Sampai sekarang kita masih menggugah hati masyarakat untuk ikut partisipasi. Karena kalau tidak dari hati, tentu sulit,” celetuk warga Lingkungan Bancang, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari ini.
Tak sedikit peralatan yang diboyong Agus dkk setiap kali membersihkan masjid. Mulai dari vacuum cleaner dan jet cleaner, blower, scaffolding, peralatan cleaning hingga tali karmantel dan harness untuk membersihkan area atap masjid. Seluruhnya disiapkan setelah menyurvei kondisi masjid terlebih dahulu.
Sesuai visinya, komunitas ini tidak mematok biaya untuk membersihkan tempat ibadah. Seluruh peralatan dan bekal dibawa masing-masing anggota dari rumah dan basecamp yang ada di Kelurahan Surodinawan. Justru, mereka bersedekah lewat membersihkan musala atau masjid. Namun, di sisi lain membuka kesempatan bagi pihak yang ingin berdonasi untuk setiap kegiatan. ”Benar-benar nol rupiah. Setiap selesai bersih-bersih, kita minta doa ke takmir masjid supaya bisa istiqomah seperti ini,’ imbuh Agus.
Gerakan ini, lanjut Agus, bukan tanpa tujuan. Mereka ingin menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama memakmurkan masjid secara swadaya. ”Di samping itu, kita mengedukasi takmir, marbot, dan masyarakat sekitar untuk peduli dengan masjidnya dari SOP (standar operasional prosedur) kami membersihkan masjid ini. Kalau masjid bersih, jemaah bisa salat dengan nyaman dan khusyuk,” tutupnya. (*/ris)
Editor : Fendy Hermansyah