RIZAL AMRULLOH, Mojosari
SALAH satunya dialami Junid, wali murid SDN Singowangi, Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto. Dia mengaku ikut mengonsumsi makanan dengan menu soto ayam yang dibawa pulang ke rumah oleh buah hatinya, Jumat (9/1). ’’Cuma saya aja (yang makan), anak enggak,’’ ungkapnya ditemui di ruang rawat inap RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Minggu (11/1).
Orang tua siswa kelas I ini menyebut hanya mencicipi sebagian dari paket menu MBG tersebut. Yang dikonsumsi hanya lauk ayam, sedangkan kuah soto dan nasi tidak dimakannya. ’’Hanya ayamnya aja, nggak pakai nasi,’’ imbuh dia.
Awalnya, dia merasa tidak ada yang aneh saat melahap menu MBG yang disuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo. Namun, pada Jumat (9/1) malam, Junid merasakan keluhan pada bagian pencernaan yang diikuti gejala pusing.
Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ke RSUD Prof Dr Soekandar dan disarankan menjalani rawat inap. ’’Sekarang masih mual, muntah, dan perut sakit,’’ tandasnya.
Selain itu, juga terdapat beberapa wali murid lainnya dan siswa yang masih dirawat di rumah sakit pelat merah milik Pemkab Mojokerto. Kemarin, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau kondisi para pasien yang diduga terdampak keracunan MBG di ruang rawat inap RSUD Prof dr Soekandar.
Salah satunya memastikan agar pasien yang rata-rata mengalami keluhan pada pencernaan mendapatkan penanganan medis yang optimal dan kemudahan akses ke kamar kecil. ’’Yang tidak kalah penting kami mencoba menelusuri,’’ ungkap dia.
Emil meminta agar penelusuran dilakukan guna mengungkap faktor penyebab dugaan keracunan. Karena dari informasi yang diperoleh dari para pasien, tidak seluruhnya mengkonsumsi habis paket menu MBG.
Termasuk orang tua siswa yang sekadar memakan sebagian dari makanan yang diterima anaknya. ’’Ada yang hanya memakan ayamnya saja terdampak, ada yang hanya mencicipi sedikit telurnya juga terdampak. Nah, ini yang artinya memberikan informasi yang berharga untuk (mengetahui) akar permasalahannya,’’ tegas Emil.
Dikatakannya, proses penelusuran kini tengah dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Pelacakan dilakukan baik dari bahan baku makanan, proses produksi, hingga pengemasan. ’’Dilihat apakah dari memasak bahan-bahannya di H-1 yang kemudian disimpan, atau apakah telur yang direbus itu masih ada cangkangnya kemudian semuanya disimpan di satu tempat sebelum dikemas atau bagaimana,’’ tuturnya.
Sementara itu, Sekdakab Mojokerto Teguh Gunarko menambahkan, dinkes telah dilakukan pengujian laboratorium terhadap sampel dari menu MBG guna mengetahui sumber penyebab dugaan keracunan yang dialami sebanyak 261 orang. Paling cepat, hasil uji yang dilakukan di Labkesda Kabupaten Mojokerto ini akan keluar hari ini. ’’Yang penting data itu bisa akurat, bisa valid. Sehingga yang keluar itu bisa sama-sama dijadikan bahan evaluasi,’’ ulasnya.
Sampel yang diuji terdiri dari seluruh bahan makanan yang dijadikan sebagai soto ayam pada paket menu MBG. Selain itu, uji laboratorium juga dilakukan terhadap sampel dari muntahan pasien.
Terkait biaya perawatan pasien, Teguh menyatakan akan sepenuhnya ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Baik yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun yang dirawat di sejumlah puskesmas. ’’Semuanya akan ditanggung negara,’’ pungkasnya. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah