FENDY HERMANSYAH, Pacet
SENYUM ceria merekah di wajah Muhammad Edi Arifin, Nur Ramadhan, Khairani Izzatul Wafiroh, Yusuf Putra Villa, dan Riski Putra Villa-siswa-siswi MI Miftahul Ulum, Desa Cepokolimo, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Mereka baru saja memborong piala Kejuaraan Provinsi Jatim Indonesia Beladiri Campuran Amatir (IBCA) MMA di GOR Rangga Jaya Anoraga, Tuban, 5-7 Desember.
Prestasi itu terasa istimewa. Lima anak yang berasal dari lingkungan panti-yang sebelumnya tak diperhitungkan-mampu membawa pulang empat medali emas dan satu perunggu. Mereka membuktikan, status sosial tak menghalangi siapa pun untuk berprestasi.
Di balik kemenangan itu tersimpan kisah ideologis. Bagi mereka, berlaga bukan sekadar soal menang atau kalah. Ini tentang pembuktian anak yatim bukanlah kelompok yang layak diremehkan. Selama ini, tak sedikit anak panti dipandang nakal atau dianggap kurang perhatian. Mereka ingin membalik stigma itu.
Yusuf Putra Villa, 8 tahun, adalah salah satunya. Sejak usia satu tahun, ia dirawat para relawan dan tumbuh besar di Vila Doa Yatim Sejahtera. Meski tak mengenal orang tuanya, harapan untuk menjadi anak berprestasi selalu dipeluknya. "Saya ingin punya prestasi bersama teman-teman di vila," ujar bocah yang akrab disapa Ucup ini.
Selama lima bulan terakhir, Ucup dan 14 temannya berlatih gigih di bawah tangan dingin pelatih Saiful Bachar. Latihan dilakukan rutin sekali sepekan. Dari proses itu, mereka ditempa untuk mengenal disiplin, keberanian, dan sportivitas. "Daripada berkelahi, enak ikut lomba saja," tutur Ucup polos.
Pengasuh Vila Doa Yatim Sejahtera, Mukhammad Mukhiddin, mengatakan keberangkatan lima anak ini ke kejuaraan provinsi merupakan upaya mengarahkan energi mereka ke hal positif. "Ini agar mereka tidak menjadi liar. Kalau punya kemampuan, harus diarahkan ke yang baik," ujarnya.
Ia memahami benar persoalan sosial yang dihadapi anak-anak yatim, banyak yang tumbuh tanpa pendampingan orang tua, mudah terjebak perilaku negatif.
Namun ia yakin, ketika diarahkan dengan benar, mereka bisa menemukan keunggulan masing-masing. Dan keyakinan itu terbukti di arena ring hexagon.
Prestasi perdana ini, tambah Mukhiddin, menjadi pijakan untuk membawa mereka ke kejuaraan yang lebih tinggi. Selain melatih kemampuan bertarung, ia juga menanamkan nilai kesetiakawanan dan penghormatan.
"Selesai bertanding, mereka harus berpelukan dengan lawan. Ini untuk membentuk karakter yang baik," tutur pengasuh yang merawat anak-anak sejak 2009 itu.
Tak hanya di arena tarung, Mukhiddin juga membuka jalan bagi anak-anaknya untuk berkembang di bidang lain.
Mereka diajari seni Hadrah, budaya Jawa, hingga penggunaan bahasa Jawa dalam hari tertentu di sekolah PAUD Ruhul Amin yang berada di bawah naungan panti. "Kami ingin semua kemampuan mereka tersalurkan," pungkasnya. (*)
Editor : Fendy Hermansyah