Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Makanan Siswa Disiapkan Katering, Menu Dikonsep Prasmanan

Indah Oceananda • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 16:05 WIB

LEZAT DAN BERGIZI: Siswa SD Muhammadiyah Plus menikmati menu MBG yang telah berjalan selama dua pekan di jam istirahat pertama, kemarin (3/10).
LEZAT DAN BERGIZI: Siswa SD Muhammadiyah Plus menikmati menu MBG yang telah berjalan selama dua pekan di jam istirahat pertama, kemarin (3/10).
 

 SD Muhammadiyah Plus Kota Mojokerto, sebelum Bergulirnya Program MBG

 Program makan bergizi gratis (MBG) mulai menyasar ke sekolah swasta di Kota Mojokerto. Tak terkecuali di SD Muhammadiyah Plus. Meski telah menerapkan katering makan siang bagi siswa, sekolah swasta ini tetap menyambut program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.

 INDAH OCEANANDA, Jawa Pos Radar Mojokerto

 Realisasi program makan gratis tersebut baru saja dimulai sejak pertengahan September lalu. Oleh sebab itu, para siswa tampak antusias menyantap lahap makanan karena sudah menunggu program ini sejak awal. ’’Kira-kira tanggal 15 September kemarin baru mulainya. Jalan sekitar dua mingguan ini,’’ kata Kepala SD Muhammadiyah Plus Rodliyah.

 Setidaknya, ada 209 siswa yang diplot menerima menu MBG itu. Kemarin (3/10), para siswa menyantap menu telur balado dan tumis sayur pakcoy. Dilengkapi dengan satu iris buah semangka dan satu kotak susu rasa stroberi. ’’Anak-anak jam makannya tidak serentak, kalau Jumat gini (kemarin, Red). Karena ada kegiatan hizbul wathan,’’ papar dia. Meski jumlah siswa mencapai ratusan, namun ada segelintir siswa yang tak memakan menu MBG. 

Rodliyah mengungkapkan, ada tiga siswa yang memilih tidak menyantap MBG. Hal itu, lantaran mereka adalah anak berkebutuhan khusus (ABK), karena memiliki menu khusus untuk makanan. ’’Ada tiga siswa yang tidak ikut MBG, semuanya ABK. Itu atas permintaan wali murid, bawa bekal saja, sekolah juga tidak bisa memaksa,’’ imbuhnya.

 Rodliyah menerangkan, jauh sebelum MBG diterapkan, pihak sekolah sudah menggelar katering bagi siswa kurang lebih sejak 2009 silam. Itu dikelola oleh komite. Biasanya, penyedia katering berasal dari paguyuban wali murid per kelas. ’’Harganya juga mereka menentukan sendiri. Karena kami tidak ada dapur, akhirnya katering itu dikemas dalam bentuk prasmanan, guru membantu mengambilkan makanan untuk anak saat jam istirahat,’’ urainya. 

Katering tersebut, lanjutnya, diadakan karena lembaga yang berada di Jalan Taman Siswa, Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Magersari, ini menerapkan sistem full day. Sehingga, siswa berada di sekolah lebih lama. ’’Istirahatnya dua kali, jadi porsi makan anak juga banyak,’’ ulas dia.

 Saat program MBG masuk, pihaknya sempat memberikan opsi bagi wali murid. Antara memilih ikut MBG, tetap lanjut ikut katering, atau memilih keduanya. Selebihnya, tidak ikut katering maupun MBG, tetapi membawa bekal sendiri.

 Rodliyah mengaku sempat ada pro kontra di kalangan wali murid. Apalagi, banyak informasi terkait MBG yang santer setiap harinya. Salah satunya, ompreng MBG yang diduga tak halal lantaran mengandung babi. ’’Sempat banyak yang menolak juga saat itu. Ada yang memilih mau bawa tempat makan sendiri,’’ ungkapnya. 

Kendati demikian, saat hari pertama MBG dimulai, pihaknya memutuskan untuk memberitahu wali murid terkait isu tersebut. Yakni, dengan menunjukkan nomor seri yang ada pada ompreng MBG. ’’Alhamdulillah, serinya tidak sama dengan ompreng yang berkaitan dengan isu tersebut. Dari situ, akhirnya banyak wali murid yang setuju untuk ikut MBG,’’ jelas Rodliyah. 

Kini, justru banyak wali murid yang merasa terbantu dengan adanya program MBG. Sebab, mereka yang tidak ikut program katering jadi tidak perlu repot menyiapkan bekal buah hatinya. ’’Insya Allah banyak yang ikut MBG,’’ ulas dia.

 Biasanya, siswa menyantap menu MBG pada pukul 08.30 atau jam istirahat pertama. Kemudian, menu katering dinikmati pukul 12.00, atau pada jam istirahat kedua. Menu katering kemarin (3/10) di kelas 3, tampak tersaji nasi kuning dilengkapi sambal goreng kentang, wortel dan telur plus es kopyor. ’’Menu setiap kelas berbeda, karena tergantung paguyubannya,’’ beber Rodliyah. 

 Praktis, program MBG maupun katering di SD Muhammadiyah Plus, keduanya saat ini masih tetap berjalan. Jika siswa tidak masuk, atau tidak berkenan menyantap MBG, biasanya diberikan kepada guru atau petugas kebersihan sekolah, atau bahkan dibawa pulang dengan wadah makanan yang dibawa sendiri dari rumah. ’’Jadi, tidak mubazir makanannya,’’ tandas dia.

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berkomitmen memperluas jangkauan MBG ke daerah lain. Program ini dirancang agar siswa di berbagai wilayah mendapat akses makanan sehat yang setara.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan kolaborasi dengan platform digital akan mempercepat distribusi makanan. Kemkomdigi siap menjadi penghubung agar sinergi ini berdampak nyata bagi masyarakat.

“Kementerian Komdigi siap menjadi penghubung untuk mendorong sinergi antara platform digital dan ekosistem kami, sehingga program ini dapat menyasar daerah-daerah yang membutuhkan,” ujar Meutya

(ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#katering #prasmanan #Kota Mojokerto #SD Muhammadiyah Plus #Makan Bergizi Gratis (MBG)