Geral Hardiyanto membudidayakan aneka jenis pisang di lahan sewa Dusun Pelabuhan, Desa Canggu, Kecamatan Jetis. Dari seorang cleaning service, pemuda 25 tahun itu kini menjadi pemasok pisang untuk kantor pemerintahan dan rumah sakit.
YULIANTO ADI NUGROHO, Jetis
Di lahan seluas 1.500 meter persegi itu, Geral menanam sedikitnya 300 pohon pisang. Jenisnya ada pisang ambon, cavendish, susu, mas kirana, raja, byar, dan tanduk. Hasilnya, alumnus SMK Taman Siswa Mojokerto itu mampu meraup omzet paling sedikit Rp 3 juta per bulan.
Semua cerita sukses itu bermula ketika pandemi Covid-19 melanda. Geral yang kala itu masih bekerja sebagai cleaning service memutuskan belajar budi daya pisang. Waktu libur selama empat hari yang diberi perusahaan karena virus merebak ia manfaatkan untuk melancong ke Kabupaten Kediri. ”Beli bibit pisang sekalian percobaan sekalian pelatihan,” ujarnya, kemarin.
Dari yang awalnya ingin tahu, kelak usaha budi daya pisang itu mampu mendatangkan hasil. Hingga akhirnya dua tahun kemudian, Geral memberanikan diri menyewa lahan di kampungnya untuk memanam pisang secara lebih masif.
Menurutnya, merawat kebun pisang cukup mudah. Secara teknis, tanaman pisang juga tak butuh perlakuan secara khusus. Hanya perawatan daun dan pohon indukan yang perlu sedikit perhatian. Selebihnya, buah ini relatif tahan panas dan tidak memerlukan banyak asupan air sehingga jarang mati. ”Kalau musim panas, bisa dibuat pengairan selama satu bulan sekali masih aman,” tuturnya.
Pertama kali menanam, Geral membutuhkan waktu sekitar 9-10 bulan untuk panen. Setelah panen perdana, periode panen generasi kedua lebih cepat, yakni setiap 6-7 bulan. Harga pisang per tandannya ia jual dengan harga bervariasi antara Rp 60 ribu sampai Rp 90 ribu per tandan.
Soal penjualan, Geral juga tak kaleng-kaleng. Dia sudah punya pangsa sendiri yang tergolong stabil. Dia menjual pisang hasil budi dayanya ke kantor-kantor dinas dan rumah sakit di Mojokerto dan sekitaranya. ”Kita jual di instansi pemerintahan dan rumah sakit. Karena rumah sakit rutin butuh buah segar untuk pasien dan staf, jadi pasarnya stabil,” jelasnya.
Tapi, buat apa sukses kalau hanya dinikmati diri sendiri. Berangkat dari kesadaran itu, kini Geral membagikan ilmunya kepada para pemuda di desa. Ia mengajak para generasi muda untuk belajar bertani dan berani menjadi petani. ”Saya ingin anak-anak muda nggak malu bertani. Justru ini peluang besar, kalau tekun, hasilnya nyata,” ucap dia. (ris)
Editor : Hendra Junaedi