Dikenal Pintar dan Ceria, Wakili Sekolah di Olimpiade Matematika
Syifa Adelia Az Zahra dikenal berprestasi dan rajin mengaji. Terakhir dia mewakili SDN Balongsari 3 dalam olimpiade matematika tingkat Kota Mojokerto. Sebelum peristiwa nahas kemarin (27/5), putri sulung dari dua bersaudara itu selalu dijemput ibunya, Widorini, saat pulang sekolah.
YULIANTO ADI NUGROHO, Kranggan
SUASANA duka mewarnai rumah nomor 42 di Blok A3 Perumahan Griya Permata Meri, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Sedari siang kediaman Syifa, siswa 13 tahun yang meninggal tertabrak Kereta Api (KA) Sancaka di atas terowongan atau underpass Jalan Benteng Pancasila (Benpas) itu dipenuhi pelayat.
Mereka menunggu jenazah ananda yang dibawa ke kamar jenazah RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo dari tempat kejadian perkara (TKP) sekira pukul 10.30. Sekitar pukul 14.00, jenazah akhirnya tiba di rumah duka. Setelah disalatkan, anak pertama pasangan Sujito dan Widorini itu diantar ke Makam Umum Lingkungan Meri.
Kepedihan mendalam tak bisa disembunyikan Widorini. Air matanya tumpah hampir sepanjang setengah hari itu. Dia sempat pingsan dan ikut dibawa ke rumah sakit setelah menyaksikan nyawa putri sulungnya melayang.
Syifa dimakamkan dekat pusara neneknya. Siswi kelas 6 itu meninggalkan seorang adik laki-laki yang duduk di bangku TK B. ”Cucu saya ini aktif mengaji, kalau pulang sekolah biasanya dijemput ibunya,” kata Miskan, kakek korban.
Kebiasaan serupa dituturkan Kepala SDN Balongsari 3 Lely Edna Dwiyani. Menurutnya, sudah semingguan terakhir murid kelas 6 pulang lebih awal karena sudah selesai menjalani ujian akhir. Dari biasanya habis Duhur kalau tak ada ekskul, dimajukan jadi pukul 10.00.
”Anak-anak kelas 6 belakangan ini jadwalnya persiapan pelepasan atau perpisahan, kami jadwalkan pulang jam 10 dan sudah kami sampaikan ke orang tua supaya kalau pulang bisa dijemput,” katanya di rumah duka.
Para siswa yang sebentar lagi memasuki jenjang SMP ini biasanya menghubungi orang tua mereka saat jam pulang sekolah. Semenjak tuntas ujian, Lely memang memperbolehkan siswa kelas 6 membawa HP ke sekolah. Selain untuk mengabari orang tua, mereka memutar musik dari ponsel saat latihan penampilan untuk keperluan acara perpisahan.
Hanya saja, kemarin Syifa memilih pulang bersama temannya naik sepeda ontel. ”Tidak minta dijemput, tapi pulang sama temannya. Orang tuanya juga menunggu, sudah jamnya pulang tapi kok belum ada WA atau telepon, biasanya kan orang tua itu menunggu kabar anaknya dulu karena biasanya main dulu atau jajan dulu,” jelas Lely lirih.
Kepergian Syifa meninggalkan duka mendalam bagi guru dan teman-temannya. Sebagai seorang pengajar, Lely mengakui jika Syifa termasuk murid yang pintar. Saat kelas 5, dia mewakili sekolah dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika tingkat Kota Mojokerto. ”Dan sempat memperoleh 5 besar saat itu. Jadi ananda Syifa ini termasuk siswa berprestasi kami,” ungkapnya.
Di sekolah, Lely juga melihat Syifa sebagai murid yang aktif dan berbudi pekerti. ”Anaknya sopan ke guru, manut ke guru, ceria,” ungkap perempuan ini mengenang kepribadian muridnya itu. (ris)
Editor : Hendra Junaedi