Jadi Pakan Reptil hingga Bahan Penelitian Ilmuwan
Dengan modal awal Rp 150 ribu, Agung Saputro sukses menjalankan usaha peternakan tikus. Dari yang awalnya dicari untuk pakan reptil dan burung hantu, kini tikus hasil budi dayanya juga dibeli ilmuwan untuk bahan penelitian.
YULIANTO ADI NUGROHO, Pungging
UMUMNYA tak banyak orang yang suka dengan binatang tikus, apalagi terpikir untuk memeliharanya. Hewan pengerat itu justru kerap dianggap sebagai pengganggu dan musuh besar petani.
Tapi, anggapan ini tak berlaku bagi Agung Saputro, 33. Warga Dusun Banyuurip, Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, itu mampu menjadikan tikus sebagai ladang usaha.
Di rumahnya, dia memelihara tikus untuk dikembangbiakkan. Tikus yang diternak hanyalah jenis tertentu seperti tikus mencit (mus musculus), tikus putih (rattus norvegicus), dan tikus long evans.
Agung menuturkan, ide bisnis budi daya tikus bermula dari banyaknya pecinta reptil dan burung hantu di Mojokerto. Namun, mereka mengaku kesulitan mencari penjual tikus untuk pakan hewan peliharaannya.
”Teman-teman pecinta reptil dan burung hantu harus mencari penjual ke luar daerah. Dari situ, pada 2017 lalu saya berinisiatif berternak tikus,” katanya.
Untuk mengawali bisnisnya, Agung membeli 50 ekor bibit tikus seharga Rp 150 ribu. Delapan tahun sudah berjalan, usahanya terus berkembang. Kini tikus di peternakannya mencapai 300 ekor. ”Ada 150 ekor indukan,” imbuhnya.
Bukan perkara sulit bagi Agung untuk merawat tikus-tikus yang di antaranya bermata merah itu. Tikus cukup diberi makan pur dan sayur secara rutin sehari sekali. Perawatan kandangnya pun cukup simpel. Yang penting alasnya diganti setiap sepekan.
Pun demikian dengan penjualan yang tampaknya tak sulit baginya. Agung mengandalkan media sosial untuk pemasaran dan pelanggannya sudah sampai luar Pulau Jawa. ”Jualnya paling banyak ke Surabaya, dan Lamongan. Kalau paling jauh ke Palangkaraya dan Kalimantan, itu,” jelasnya.
Dalam sebulan dia mampu menjual sekitar 300 ekor. Dengan harga bervariasi, mulai Rp 7 ribu sampai Rp 50 ribu per ekor. Omzet per bulannya tembus Rp 3 juta-Rp 4 juta.
Sebagian besar pelanggan Agung adalah pecinta reptil ular dari daerah sekitar Mojokerto. Selain itu, hewan ini juga banyak dicari untuk pakan burung hantu. Spesialnya lagi, selain memasok ke toko hewan, dia juga kerap melayani pesanan dari para peneliti dan ilmuwan di Jakarta dan Kalimantan.
Tikus-tikus imut tersebut dibeli untuk bahan penelitian di kampus-kampus kedokteran. ”Kalau untuk reptil permintaannya usia 1 bulan ke atas, kalau yang untuk penelitian biasanya usia di atas 3 bulan,” bebernya. (ris)
Editor : Hendra Junaedi