Berharap Memiliki Sebidang Tanah dan Ibadah Umrah Bersama
Tiga orang dalam satu keluarga yang turut menjadi korban longsor di jalur alternatif Pacet-Cangar ternyata meninggalkan cerita sendiri di mata keluarga mereka. Menyimpan harapan dapat memiliki sebidang tanah untuk membangun rumah dan menjalankan ibadah umrah bersama.
MARTDA VADETYA, Trawas
AHMAD Fiky Muzaki, 28; Fitria Handayani, 27; dan Mikaila FZ, 3,5, satu keluarga asal Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, turut menjadi korban jiwa insiden longsor di jalur Pacet-Cangar pada Kamis (3/4). Keluarga korban memiliki firasat sebelum ketiganya menjadi korban longsor saat berangkat halalbihalal ke Trenggalek.
Saat longsor menimpa, ketiganya mengendarai mobil pikap Grand Max warna putih nopol S 9137 N. Bersama Toyota Innova Reborn L 1217 NT berpenumpang tujuh orang asal Sukodono, Sidoarjo, pikap yang dikendarai Ahmad tergulung material longsor ketika melintas di lokasi. Dua kendaraan tersebut lalu terpendam material longsor di dasar jurang sedalam 30 meter.
Di hari berikutnya, Ahmad bersama istri dan anaknya berhasil dievakuasi petugas ke RSUD Sumberglagah Pacet. Kali pertama ditemukan, jasad ketiganya dalam kondisi saling berpelukan. Kabar duka tersebut membuat syok keluarga korban. Tak terkecuali Nurul Fatimah, ibu kandung Fitria Handayani yang tinggal di Dusun Urung-Urung, Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas.
Nurul menuturkan, ada firasat aneh sebelum musibah menimpa keluarga kecil anaknya itu. Menantu dan anaknya ingin membeli sepetak tanah di kawasan hutan Trawas untuk hidup tenang di kemudian hari. Keinginan ini diucapkan saat malam takbir atau tiga hari sebelum tragedi tanah longsor menghempas mobil pikap yang mereka kendarai.
”Ada beberapa firasat ucapan. Yang pertama mau beli tanah sepetak, lalu ingin umrah bertiga,” jelas Nurul di rumah duka, kemarin (5/4). Hal senada diutarakan Siti Khadijah, bibi dari korban. Dia mengaku, ketiga ponakannya yang ngekos di Surabaya itu sempat datang ke warung sekaligus rumahnya di kawasan hutan Trawas.
”Malam takbiran itu berkunjung ke warung saya (di hutan Trawas). Katanya enak dan nyaman. Terus bilang ingin punya sepetak tanah buat bertiga,” tuturnya di kesempatan yang sama. Firasat ini jadi pertimbangan keluarga untuk memakamkan ketiganya dalam satu pusara di pemakaman umum setempat pada Jumat (4/4).
”Kita dari keluarga melanjutkan amanah mereka. Tiga jenazah dimakamkan satu liang lahat sesuai permintaannya yang ingin punya tanah satu petak buat bertiga,” tandas Khadijah. (ris)
Editor : Hendra Junaedi