Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Melihat Peringatan 731 Tahun Kerajaan Majapahit di Kota Mojokerto

Yulianto Adi Nugroho • Selasa, 19 November 2024 | 15:30 WIB

 

MENYELAMI SEJARAH: Aksi pembacaan Kitab Negarakertagama dalam acara Wilwatikta Acarita di Lapangan Raden Wijaya, Kelurahan Surodinawan, Kota Mojokerto, Minggu (17/11) malam.
MENYELAMI SEJARAH: Aksi pembacaan Kitab Negarakertagama dalam acara Wilwatikta Acarita di Lapangan Raden Wijaya, Kelurahan Surodinawan, Kota Mojokerto, Minggu (17/11) malam.

Dari Pembacaan Negarakertagama hingga Napak Tilas Perjalanan Hayam Wuruk

 Majapahit sudah berusia 731 tahun. Kekayaan budaya peninggalan salah satu kerajaan besar di Nusantara itu terus digelorakan. Lewat berbagai kegiatan yang dikemas secara kekinian, masyarakat diajak mengenal dan melestarikan warisan Wilwatikta, nama lain Majapahit.

 YULIANTO ADI NUGROHO, PRAJURIT KULON

 BERBICARA Majapahit hampir selalu setarikan napas dengan Mojokerto. Keduanya sulit dipisahkan. Sebab, sudah jamak diyakini jika kerajaan yang eksis pada abad ke-13 sampai 16 Masehi ini berpusat di Mojokerto, tepatnya di wilayah Trowulan (salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto) sebagai bekas ibu kotanya.

Maka dari itu, lantunan bahasa Kawi alias Jawa kuno di Lapangan Raden Wijaya, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Minggu (17/11) malam, selayaknya tak bikin heran. Itu adalah pembacaan Kakawin Negarakertagama.

’’Negarakertagama ini dibacakan pupuhnya, nanti disimak nggih,’’ seru Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Endah Budi Heryani kepada penonton saat membuka acara bertajuk Wilwatikta Acarita tersebut.

Tak lama kemudian, seorang pria tampil di atas panggung dengan pakaian serba putih bernuansa klasik. Embusan kabut menyertainya. Membuka naskah dari lembaran lontar, dia mulai membacakan bagian pertama Negarakertagama yang berisi 49 pupuh.

Selama hampir sepuluh menit, karya sastra tulisan Mpu Prapanca itu disampaikan dengan lembut di hadapan ratusan pengunjung, anak-anak sampai orang dewasa. Kesan eksotis sekaligus futuristis terasa hidup tatkala peta wilayah Majapahit hingga gambar ala kerajaan yang dibuat dengan artificial intelligence (AI) berseliweran di latar belakang panggung.

 Cocok dengan nama tempatnya, kitab yang juga disebut Desawarnana itu menceritakan keagungan Majapahit. Isinya tentang pendiri sekaligus raja pertama Raden Wijaya hingga peradaban pada masa kejayaan Majapahit pada era Raja Hayam Wuruk. Negarakertagama kelak menjadi sumber sejarah yang begitu dipercaya.

Endah mengatakan Wilwatikta Acarita memiliki arti Majapahit bercerita. Dalam peringatan ulang tahun ke-731 Majapahit pada November tahun ini, pihaknya mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai luhur serta berbagai peninggalan Majapahit. ’’Kami berusaha mengemas kegiatan-kegiatan yang menarik sehingga lebih mudah masuk ke hati dan pikiran masyarakat,’’ ungkapnya.

Naskah Negarakertagama dibacakan lima kali sesuai jumlah bagian selama kegiatan gelar budaya yang dijadwalkan berlangsung dua hari sampai kemarin (18/11). Selain itu, berbagai seni pertunjukan juga ditampilkan. Dengan maksud menapak tilas perjalanan Hayam Wuruk, kesenian yang dipentaskan berasal dari daerah-daerah yang pernah dilalui raja keempat itu.

Di antaranya adalah tari topeng kaliwungu dari Lumajang, jaranan khas Blitar, serta topeng Malangan asal Malang. Berbagai pertunjukan sarat nilai historis ini dipadukan dengan kesenian tradisional keroncong, ludruk, hingga dangdut. Memang, meski temanya kebudayaan, sinden sekaligus pedangdut Niken Salindry ikut dihadirkan.

Cara ini terbukti memang ampuh menarik antusiasme masyarakat. Di samping dapat hiburan, mereka secara tidak langsung ikut mengenal, paling tidak mengilhami kembali, tentang kebesaran Majapahit yang ratusan tahun lalu pernah berjaya di tempat yang kini ditinggali. ’’Harapannya masyarakat mendapat informasi, mengenal apa itu objek pelestarian peninggalan budaya, khususnya Majapahit sehingga bisa turut melestarikan,’’ tutur Endah. (fen)

Editor : Hendra Junaedi
#majapahit mojokerto #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto