JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Keawetan produk sering kali menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen. Namun dalam beberapa kasus, ternyata hal ini justru menjadi bumerang bagi keuntungan Perusahaan.
Dengan terciptanya produk yang awet, membuat siklus pembelian ulang suatu produk menjadi lebih jarang, sehingga penjualan menurun dan menyebabkan kesulitan bagi perusahaan.
Berikut beberapa produk yang terpaksa dihentikan penjualannya:
- Tuppeware
Didirikan pada tahun 1946, Tupperware telah berkembang menjadi merek terkenal yang hadir di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia.
Produk-produk Tupperware yang terbuat dari bahan plastik berkualitas, dikenal aman dan ramah lingkungan, serta memenuhi standar FDA, EFSA, dan FS. Produk ini juga dikenal tahan lama dan mampu menjaga kesegaran makanan dalam waktu yang lebih lama.
Seiring berjalannya waktu, Tupperware terus berinovasi untuk tetap relevan dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
Merek ini menghadirkan berbagai produk baru yang inovatif dengan desain unik dan modern, menjadikannya solusi rumah tangga yang populer di kalangan wanita Indonesia.
Dikenal karena kekuatannya yang tahan lama dalam berbagai kondisi, produk Tupperware menjadi favorit di kalangan ibu-ibu.
Namun, pada tahun 2024, Tupperware harus menghadapi kenyataan pahit. Penurunan penjualan yang dimulai sejak pandemi memaksa perusahaan ini mengumumkan kebangkrutannya.
Sebelum akhirnya bangkrut, perusahaan telah mencoba berbagai upaya selama empat tahun untuk mengatasi penurunan penjualan. Namun, tingginya inflasi dan penjualan yang terus merosot membuat Tupperware tidak mampu bertahan.
- Quantum
Perusahaan pembuat kompor legendaris, PT Aditec Cakrawiyasa, dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada Juli 2024. Keputusan ini diikuti dengan kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap 511 pekerja pabriknya.
PT Aditec Cakrawiyasa dikenal sebagai produsen produk seperti kompor gas, regulator, dan selang dengan merek Quantum, yang telah hadir di pasar sejak tahun 1993 atau selama 31 tahun.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan telah berupaya keras untuk bertahan di tengah kesulitan ekonomi dan perubahan kondisi pasar. Namun, beban utang yang terus meningkat serta tidak tercapainya target penjualan membuat perusahaan tersebut mengalami krisis keuangan.
Akibatnya, PT Aditec Cakrawiyasa terpaksa menutup pabrik dan menghentikan produksi kompor Quantum serta produk-produk terkait lainnya.
Kejatuhan perusahaan ini menjadi salah satu contoh dampak signifikan yang dirasakan oleh industri manufaktur di Indonesia akibat perlambatan ekonomi dan daya konsumtif masyarakat yang rendah.
Meski sempat menjadi merek andalan di pasar kompor gas domestik, tekanan ekonomi pasca-pandemi serta kenaikan biaya produksi membuat PT Aditec Cakrawiyasa tidak mampu mempertahankan kelangsungan usahanya.
- Bata
Pada Mei 2024, PT Sepatu Bata terpaksa menutup pabriknya di Purwakarta. Hal ini disampaikan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) setelah melakukan dialog dengan manajemen PT Sepatu Bata Tbk.
Menurut perusahaan, pabrik di Purwakarta hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan operasi bisnis mereka. Dari sisi produksi, kapasitas pabrik tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan produsen sepatu lainnya.
Penutupan pabrik bukanlah keputusan yang mudah, tetapi dilakukan demi menjaga keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang. Untuk menghadapi tantangan ini, Bata berupaya tetap relevan dengan menawarkan produk-produk baru yang menarik, yang dirancang dan dikembangkan oleh perusahaan bersama produsen lokal dari pabrik mitra di Indonesia.
Manajemen PT Sepatu Bata Tbk juga menyampaikan kepada Kemenperin bahwa sebagian karyawan dari pabrik Purwakarta, khususnya yang masih berada di usia produktif, akan dialihkan ke pabrik lain di wilayah tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan para pekerja tetap memiliki kesempatan kerja, meskipun ada restrukturisasi di perusahaan. SAFA
Editor : Imron Arlado