Bonus untuk Orang Tua, Anak Yatim, dan Kembangkan Bakat Disabilitas
Prestasinya memang tidak sementereng saat turun di Paralimpiade Tokyo tahun 2021 silam.
Medali perak menjadi raihan maksimal setelah kalah di partai final saat menghadapi rekannya satu pelatnas, pasangan Hikmat Ramdani-Leani Ratri Oktila. Namun Alim, sapaan Khalimatus Sadiyah, merasa bersyukur masih bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang olahraga sedunia khusus penyandang disabilitas itu.
FARISMA ROMAWAN – Jawa Pos Radar Mojokerto
YA, turun di nomor ganda campuran berpasangan dengan Fredy Setiawan, Alim tak bisa menghindari serangan bertubi-tubi karibnya sendiri setelah terjadi all Indonesian final bulu tangkis klasifikasi SL3-SU5, Senin (2/9) di Porte de la Chapelle Arena, Paris.
Khususnya, bagi Leani Ratri yang sempat bertahun-tahun menjadi pasangannya hingga sempat meraih medali emas saat turun di nomor ganda putri Paralimpiade Tokyo 2021.
Kelemahan di sektor kanan menjadi ancaman yang terus dilancarkan Leani Ratri. Alim dan Fredy yang baru dipasangkan tahun ini pun harus puas di posisi kedua dengan raihan medali perak, setelah kalah dua set langsung dengan skor 21-16 dan 21-15.
Akan tetapi, kekalahan tersebut tak membuat gadis asal Desa Banjartanggul, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto ini bersedih. Ia justru bisa bersyukur, lantaran bisa berkontribusi menyumbangkan medali. Bahkan, putri dari Maslucha ikut terharu bersama rekan-rekannya seusai pertandingan.
’’Alhamdulillah, tahun ini masih bisa menyumbangkan medali bagi Indonesia. Saya sudah berjuang semaksimal mungkin, dan saya bangga atas hasil yang saya peroleh,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin.
Alim sejatinya sangat menyayangkan dengan tidak dipertandingkannya nomor ganda putri.
Sebab, nomor tersebut yang sempat mengantarkan dia memperoleh medali emas saat turun di Paralimpiade Tokyo berpasangan dengan Leani. Akan tetapi, di paralimpiade tahun ini, Alim harus terpisah dengan karibnya itu.
’’Sebenarnya sangat disayangkan tidak adanya nomor ganda putri. Karena memang tahun sebelumnya saya memperoleh emas di nomor tersebut,’’ tandasnya.
Namun, hal tersebut tak lantas menjadi hambatan. Gadis yang akan genap berusia 25 tahun para 17 September nanti itu bakal terus berusaha menjadi yang terbaik, demi membanggakan nama Indonesia di level dunia.
Termasuk, turun di beberapa event kelas internasional tahun depan. ’’Tidak membuat saya menyerah. Saya tetap berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik demi negara Indonesia tercinta,’’ imbuhnya.
Ditanya soal bonus dari negara yang akan diraih, Alim mengaku belum terpikirkan. Sebab, sejumlah kejuaraan bakal menunggunya pasca tiba dari Paris.
Mulai dari kejuaraan Open, pekan paralimpik nasional (peparnas), hingga Asean Paralimpik. Dirinya juga akan all-out memberikan yang terbaik demi nama Indonesia berkibar di kancah dunia.
’’Fokus saya adalah mendapatkan medali dan mengharumkan nama bangsa Indonesia. Kalau nantinya mendapatkan bonus, yang pasti akan saya berikan ke orang tua dan anak-anak yang kurang mampu (yatim piatu dan lansia).
Yang paling penting, saya akan alokasikan untuk mengembangkan bakat anak-anak disabilitas, khususnya yang ada di NPC Kabupaten Mojokerto,’’ pungkasnya. (ris)
Editor : Hendra Junaedi