RADAR MAJAPAHIT - Di Dusun Kedung Klinter, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo memiliki makam sesepuh yang diyakini berkaitannya dengan Kerajaan Majapahit.
Makam tersebut kerap dikenal dengan sebutan makam Mbah Serut. Namun, di area kompleks makam ini juga terdapat dua makam lain yakni makam Dyah Patmi Gayatri yang diyakini sebagai makam permaisuri Raja Brawijaya satu atau Raden Wijaya, dan makam seorang resi yang belum diketahui identitasnya.
Buadi, 59, juru pelihara makam meyakini jika nama asli dari Mbah Serut adalah Eyang Jangkung. Area pemakaman tersebut merupakan sebuah tempat pertemuan pada masa Kerajaan Majapahit.
Sebelum direnovasi, makam tersebut digunakan warga setempat untuk melakukan hal negatif. Hingga pada tahun 2019 silam, Buadi memiliki inisiatif untuk melakukan renovasi makam sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh desa.
”Pembangunan makam Mbah Serut ini menggunakan uang pribadi, dan sumbangan dari komunitas pecinta sejarah majapahit,” katanya.
Di area pemakaman ini kerap dilakukan sebuah ritual keagamaan maupun ritual kejawen pada saat purnama tiba. Ritual tersebut rutin dilakukan warga setempat dan peziarah saat malam tiba. Hal ini dilakukan peziarah karena diyakini saat purnama merupakan bulan yang paling baik untuk melakukan ritual keagamaan.
”Ritual kejawen biasanya dilakukan oleh para peziarah tepat jam 12 malam saat bulan purnama berada di titik yang sempurna sembari menyalakan dupa besar agar lebih fokus saat melakukan ritual,” ujarnya.
Selain saat purnama, warga setempat melakukan acara hajatan juga kerap dilakukan ritual tumpengan di area kompleks pemakaman tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk izin kepada sesepuh desa dan bentuk rasa syukur keluarga yang sedang melakukan hajatan tersebut. Peziarah yang datang ke makam Mbah Serut berasal dari berbagai daerah. Seperti Gresik, Surabaya, Kediri, Blitar hingga Kalimantan Barat. (zukria amelia)
Editor : Imron Arlado