Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menilik Sentra Produksi Kerupuk Petulo di Desa Pagerejo Kabupaten Mojokerto, Punya Rasa Khas, Saat Hari Besar Penjualan Tembus Satu Ton

Indah Oceananda • Jumat, 12 April 2024 | 16:23 WIB

TRADISIONAL: Proses pembuatan kerupuk petulo di rumah Ratna Wati, salah satu perajin kudapan tradisional yang menjadi ikon Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg.
TRADISIONAL: Proses pembuatan kerupuk petulo di rumah Ratna Wati, salah satu perajin kudapan tradisional yang menjadi ikon Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg.
MESKI hanya disajikan sebagai pelengkap hidangan atau camilan, kerupuk petulo ternyata masih tetap eksis hingga kini. Bahkan di Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg, produk rumahan tersebut telah diproduksi secara turun-temurun oleh warga selama belasan tahun.

INDAH OCEANANDA, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto

TAK sulit menemukan lokasi produksi kerupuk petulo di Desa Pagerejo. Sebab, letaknya cukup dekat dari kantor desa. Di desa tersebut, tak kurang dari lima rumah yang menekuni pembuatan kudapan tradisional tersebut.

Aktivitas pembuatan kudapan tradisional itu dilakukan setiap hari. Dimulai pukul 04.30 selepas Subuh dan berakhir pukul 10.00.

Kemudian, dijemur selama satu hari penuh di bawah terik matahari. Kerupuk petulo sendiri, terbuat dari tepung beras dan tepung tapioka.

Bentuknya menyerupai benang yang dirangkai seperti anyaman. ’’Sehari bisa membutuhkan 10 kilogram tepung beras dan 30 kilo tepung tapioka,’’ tutur Ratna Wati, salah satu perajin.

Selain rasanya yang menggugah selera, proses pembuatan kerupuk petulo terbilang unik lantaran masih menggunakan cara tradisional. Di samping itu, harganya per kilo cukup terjangkau, yaitu Rp 32 ribu.

’’Sudah hampir 16 tahun produksi seperti ini. Justru waktu pandemi kemarin, ramai yang pesan,’’ ucap nenek dua cucu ini.

Ratna menuturkan, saat hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idulfitri, dan Iduladha, permintaan kerupuk petulo melonjak.

Sebab, biasanya warga menyuguhkan makanan ringan  tersebut untuk tamu yang berkunjung atau menyertakan dalam kenduri ketika hajatan.

’’Biasanya kalau sudah ramai pesanan, permintaan dari pembeli bisa tembus satu ton,’’ ungkap dia.

Kerupuk petulo Desa Pagerejo memang telah dikenal sebagai ikon desa setempat. Sebab, jangkauan pemasarannya tidak hanya di Kecamatan Gedeg, namun juga merambah ke kecamatan lain di Kabupaten Mojokerto.

Tak jarang, ada pula permintaan pembeli yang datang dari daerah Tarik, Sidoarjo. Biasanya, Ratna memasarkan produknya di pasar tradisional atau diambil sendiri oleh pembeli di kediamannya.

’’Karena rasa kerupuk petulo bikinan warga sini terkenal khas dan lebih gurih, serta tidak memakai pewarna,’’ tandasnya. (fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten #keripik #petulo #mojokerto