NAILUL MUFARICHAH-MIA CHALIMATUS S, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto
MASJID ini berdiri sekitar 1884 oleh Kyai Mas Mansyur dari Sidoresmo Wonokromo, Surabaya. Bangunan ini semula adalah markas tentara belanda.
Namun di masa penjajahan, dijadikan tempat ibadah umat Muslim. Di sana terdapat ornamen kuno yang masih awet sampai sekarang.
Masjid dengan nuansa putih dan hijau tersebut memiliki kubah besar dengan ornamen ala keramik pecah.
Sehingga, dari kejauhan masjid tersebut tampak berbeda dari masjid yang lain.
’’Keramik pecah ini tidak memiliki tujuan khusus, tetapi dulu sengaja dibangun seperti itu karena harganya lebih murah,’’ ujar Fathur Rohman, penasehat di Masjid Al-Ichsan.
Tak hanya kubah, Mimbar di dalam masjid juga masih menggunakan mimbar asli sejak awal masjid berdiri.
Hal itu terlihat dari waktu pembuatannya, yakni Oktober 1938 yang tertera dalam ukiran berbahasa Arab dan lafal La ilaha illallah di atas mimbar.
Warna mimbarnya juga unik, yakni yaitu perpaduan dari warna cokelat dan emas.
Selain kubah dan mimbar, ornamen lainnya yang masih dipertahankan keasliannya adalah beduk.
Namun oleh pengurus masjid, kulit beduk terpaksa diganti lantaran mengalami pelapukan sehingga rusak.
Di sebelah bagian luar masjid, tepatnya di sisi selatan, terdapat tempat wudu dan sumur khusus pria.
Sumur tersebut disinyalir merupakan sumur tua yang sampai saat ini masih berfungsi dan digunakan oleh takmir masjid dan santri untuk kebersihan masjid.
’’Untuk sekarang, kolam wudu dijadikan kolam ikan. Sedangkan sumur biasanya digunakan untuk mencuci peralatan berbuka puasa,’’ jelas Fathur.
Ia juga mengatakan, masjid tersebut awalnya memiliki luas 15x15 meter dengan gaya zaman dulu.
Kemudian setelah usianya mencapai satu abad, mengalami penambahan luas hingga 23 meter persegi.
Masjid tersebut tetap berfungsi sebagai tempat ibadah umat muslim dengan mempertahankan tetap peninggalan bersejarahnya.
Sehingga masjid Al-Ichsan menjadi jujukan para musafir karena tempatnya yang strategis.
’’Renovasi masjid ini dilakukan agar dapat menampung lebih banyak jamaah. Sedangkan yang bangunan asli hanya pengalami penambahan cat, selebihnya masih seperti dulu,’’ ujar pria 60 tahun tersebut. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah