Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Masjid Al-Ichsan di Brangkal Mojokerto Berusia 140 Tahun, Bekas Bangunan Zaman Kolonial, Pertahankan Ornamen Bersejarah

Fendy Hermansyah • Kamis, 28 Maret 2024 | 21:58 WIB

BANGUNAN BERSEJARAH: Masjid Al-Ichsan di Jalan Raya Bypass Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Masih kokoh berdiri.
BANGUNAN BERSEJARAH: Masjid Al-Ichsan di Jalan Raya Bypass Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Masih kokoh berdiri.
Masjid Al-Ichsan yang berada di Jalan Raya Bypass Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang berusia sekitar 140 tahun masih kokoh berdiri. Masjid ini tetap mempertahankan ornamen aslinya, sehingga memiliki nilai sejarah tinggi.

NAILUL MUFARICHAH-MIA CHALIMATUS S, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

MASJID ini berdiri sekitar 1884 oleh Kyai Mas Mansyur dari Sidoresmo Wonokromo, Surabaya. Bangunan ini semula adalah markas tentara belanda.

Namun di masa penjajahan, dijadikan tempat ibadah umat Muslim. Di sana terdapat ornamen kuno yang masih awet sampai sekarang.

Masjid dengan nuansa putih dan hijau tersebut memiliki kubah besar dengan ornamen ala keramik pecah.

Sehingga, dari kejauhan masjid tersebut tampak berbeda dari masjid yang lain.

’’Keramik pecah ini tidak memiliki tujuan khusus, tetapi dulu sengaja dibangun seperti itu karena harganya lebih murah,’’ ujar Fathur Rohman, penasehat di Masjid Al-Ichsan.

Tak hanya kubah, Mimbar di dalam masjid juga masih menggunakan mimbar asli sejak awal masjid berdiri.

ORISINIL: Area mimbar masjid yang berada di dalam bangunan masih pertahankan bentuk aslinya.
ORISINIL: Area mimbar masjid yang berada di dalam bangunan masih pertahankan bentuk aslinya.

Hal itu terlihat dari waktu pembuatannya, yakni Oktober 1938 yang tertera dalam ukiran berbahasa Arab dan lafal La ilaha illallah di atas mimbar.

Warna mimbarnya juga unik, yakni yaitu perpaduan dari warna cokelat dan emas.

Selain kubah dan mimbar, ornamen lainnya yang masih dipertahankan keasliannya adalah beduk.

Baca Juga: Pohon Kurma Azwa jadi Ikon Masjid Al-Mubarok Mojokerto, Sekali Panen Mencapai Puluhan Kilogram, Kerap Disiram Air Zam-Zam

Namun oleh pengurus masjid, kulit beduk terpaksa diganti lantaran mengalami pelapukan sehingga rusak.

Di sebelah bagian luar masjid, tepatnya di sisi selatan, terdapat tempat wudu dan sumur khusus pria.

Sumur tersebut disinyalir merupakan sumur tua yang sampai saat ini masih berfungsi dan digunakan oleh takmir masjid dan santri untuk kebersihan masjid.

’’Untuk sekarang, kolam wudu dijadikan kolam ikan. Sedangkan sumur biasanya digunakan untuk mencuci peralatan berbuka puasa,’’ jelas Fathur.

KHAS: Area tempat wudu di Masjid Al-Ichsan, Brangkal, Mojokerto.
KHAS: Area tempat wudu di Masjid Al-Ichsan, Brangkal, Mojokerto.

Ia juga mengatakan, masjid tersebut awalnya memiliki luas 15x15 meter dengan gaya zaman dulu.

Kemudian setelah usianya mencapai satu abad, mengalami penambahan luas hingga 23 meter persegi.

Masjid tersebut tetap berfungsi sebagai tempat ibadah umat muslim dengan mempertahankan tetap peninggalan bersejarahnya.

Sehingga masjid Al-Ichsan menjadi jujukan para musafir karena tempatnya yang strategis.

’’Renovasi masjid ini dilakukan agar dapat menampung lebih banyak jamaah. Sedangkan yang bangunan asli hanya pengalami penambahan cat, selebihnya masih seperti dulu,’’ ujar pria 60 tahun tersebut. (fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#masjid tua #Masjid mojokerto #masjid bersejarah #mojokerto