NAILUL MUFARICHAH, Kranggan
SUARA mesin jahit dan aroma lem serasa beraduk di toko servis helm P. Sudarman di Pasar Kranggan No.12 Jalan Mojopahit, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Selasa (20/2/2024).
Seorang pria terlihat sibuk memperbaiki busa helm. Dia adalah Muhammad Ardiansyah, sang pemilik bengkel servis helm tersebut.
Tangan kanannya menggunakan alat sederhana tampak fokus merekatkan kain dengan lem. Sedangkan tangan kiri menyangga batok helm untuk diperbaiki bagian busa yang rusak.
Hasil perbaikan busa helm yang sudah dia selesaikan, dibanderol sesuai tingkat kerumitan dan bahan yang diinginkan konsumen. Bahan biasa dijual dengan harga Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu, sedangkan bahan bagus sekitar Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu.
’’Saya juga rutin memasang iklan di LHJI (Lapak Helm Jadul Indonesia) dan upload di Google,’’ ungkapnya.
Bengkel servis helm tersebut mulai buka pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Lalu, buka lagi pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.
Toko sederhana berukuran tiga kali empat meter itu peninggalan ayahnya. Bengkel itu menjadi tempat rutinitas Ardi memperbaiki busa helm.
Alat yang digunakan berupa mesin jahit, bor, gerinda, obeng dan kater. Sedangkan bahannya berupa busa, spon ati, busa teri, lem kuning, lem G, kain merymesh, dan benang jahit sesuai keinginan konsumen.
Keterampilan dalam dunia menyervis helm ini sebelumnya diperoleh Ardi sejak SMA. Tepatnya, setelah dia merasa iba melihat kakaknya hanya mengurus bengkel sendirian.
Dari ketelatenan Ardi-sapaan akrab Muhammad Ardiansyah, dalam menghasilkan helm yang kembali seperti baru, nyatanya berhasil dilirik pecinta rider MotoGP dan komunitas motor jadul. Baik dari dalam maupun luar kota.
’’Sekitar 2013, saya memutuskan untuk belajar dan selama enam bulan baru bisa lancar. Dari situ saya melanjutkan usaha keluarga dan mengurungkan niat untuk bekerja di perusahaan,’’ ungkap pria yang berdomisili di Lingkungan Penarip Gang 3, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini.
Selama menekuni keterampilan memperbaiki busa helm, Ardi dibanjiri pesanan dari berbagai kota di Indonesia. Seperti Jakarta, Samarinda, Sumatera, Tangerang, hingga Bali.
’’Sedangkan pesanan lokal dari daerah Mojokerto sini saja. Tidak hanya pesanan untuk dipakai langsung, tetapi juga bekerja sama dengan penjual helm lainnya,’’ jelas Ardi.
Pria 39 tahun tersebut menerima servis beragam jenis helm. Mulai dari helm merek luar negeri sampai klasik. Untuk waktu pengerjaannya, satu hari sampai satu minggu tergantung tingkat kerumitan.
’’Macamnya helm itu ada dua. Kalau klasik itu ada Jungli, Chips, Robot, Cakil, dan Gl Series. Kalau helm luar negeri ada Arai, Nolan, Soi, Agv, Bell, dan Adv. Dari berbagai jenis helm tadi pernah saya perbaiki,’’ jelas Ardi sembari menunjukkan jenis helm yang sudah diperbaiki maupun masih rusak.
Meski punya pengalaman segudang, Ardi mengaku sering mengalami kendala saat memperbaiki helm.
Utamanya, ketika terdapat komponen helm yang tidak lengkap. sering kali rachet (kuping/dudukan kaca) hilang dan komponen tersebut susah dicari karena harganya cukup mahal.
Dalam satu hari, Ardi mampu memperbaiki lima helm dengan omzet sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.
Dia mengaku, pesanan perbaikan helm mulai ramai ketika bulan Ramadan.
’’Kebanyakan pesanan saat menjelang Lebaran, karena untuk dipakai selama menuju kampung halaman,’’ pungkasnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah