INDAH OCEANANDA, Pacet
DARI lahan sekitar 1,2 hektare yang dulu bekas pembuangan sampah, lahan tersebut disulap oleh Yayasan Bambu Lestari (YBL) dan warga setempat. Kini, daerah tersebut telah hijau kembali lewat konservasi tanaman bambunya.
Tak hanya itu, tempat ini juga kerap jadi jujukan wisatawan dari berbagai daerah karena memiliki budaya yang unik.
’’Kita ingin membuktikan, warga desa itu punya kehidupan sendiri, bisa bertumbuh dengan alam,’’ ujar Sahlan Junaedi, salah satu inisiator Pasar Keramat.
Pegiat lingkungan Yayasan Bambu Lestari (YBL) ini menerangkan, bambu menjadi tanaman penuh filosofi sehingga banyak ditanam di Pasar Keramat.
Dia bersama warga setempat, berkutat mendirikan wisata budaya tersebut.
’’Hampir tiga bulan gotong royong membersihkan sampah di lahan tersebut. Kita juga getol menanam bambu sebagai wujud pelestarian lingkungan,’’ jelas Sahlan.
Pria 39 tahun ini memaparkan, dibukanya Pasar Keramat sendiri bertepatan dengan Hari Ibu, 22 Desember 2022 lalu.
Alasannya, Pasar Keramat yang dipenuhi dengan bambu ini sebagai bentuk persembahan terhadap para perempuan di dunia.
’’Bambu sendiri punya sifat seperti perempuan. Karena rumput ini ada punya enam lonjor atau enam keluarga, ada juga yang disebut ibunya dan masa menyusui umur 2-3 tahun. Makanya bambu baru bisa dipanen saat usia 4 tahun,’’ terangnya.
Keberadaan bambu menjadi penyokong wisata Pasar Keramat kian ramai. Sebab, menurutnya, peran bambu bisa menjadikan Pasar Keramat memiliki nilai edukatif di ruang publik dalam transaksi moral maupun transaksi ekonomi.
’’Bahkan jika pengunjung Pasar Keramat mencapai 4 ribu orang pun, tempatnya tidak akan terasa pengap. Itu karena kaya suplai oksigen dan menjadi bukti bambu itu manfaatnya sangat besar dan sangat bagus untuk lingkungan,’’ ungkapnya.
Nama Pasar Keramat sendiri diambil dari bahasa Jawa yang bermakna sejarah, yaitu keramut ben manfaat mugio kajugrukan rahmat saking ngersani gusti kang maha rahmat.
Oleh karenanya, proses jual beli di pasar ini punya konsep unik dan sarat akan budaya tradisional.
’’Bahkan sebelum warga berjualan di pasar ini, mereka selalu punya tradisi memberi sesajen dulu kepada pengelola pasar. Seperti yang dipercaya orang desa, weweh lagek oleh (memberi dulu baru dapat rezeki),’’ imbuh Sahlan.
Luluk, salah satu warga setempat yang juga menjadi pedagang di Pasar Keramat ini mengungkapkan, sistem jual beli di pasar tersebut punya konsep berbeda.
Mereka menggunakan uang gobog yang terbuat dari bambu untuk proses pembayaran. Satu koin gobog setara dengan Rp 2.000.
’’Di sini juga kita tidak menggunakan plastik sama sekali, pakai kemasan dari bahan alam,’’ tutur salah satu anggota ibu-ibu bambu ini.
Setiap bulannya, pasar ini hanya dibuka sebanyak 2 kali, yakni pada Minggu Wage dan Kliwon. Dibuka pada hari tertentu, karena dianggap sebagai hari baik sekaligus ruwah desa menurut kepercayaan warga setempat.
Beragam produk yang dijual di pasar ini tak hanya berupa kuliner tradisional, namun juga tersedia aneka ragam kerajinan yang berbahan dari bambu. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah