Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenang 23 Tahun Riyanto, Banser Pejuang Kemanusiaan, Korban Bom Natal Tahun 2000

Moch. Chariris • Selasa, 26 Desember 2023 | 00:25 WIB

TRIBUTE: Anggota Banser dan organisasi kepemudaan selalu mendoakan almarhum Riyanto sebagai sosok pejuang kemanusiaan. (dok Seword for Radar Mojokerto )
TRIBUTE: Anggota Banser dan organisasi kepemudaan selalu mendoakan almarhum Riyanto sebagai sosok pejuang kemanusiaan. (dok Seword for Radar Mojokerto )

Makna perjuangan sesungguhnya adalah kemanusiaan. Ungkapan itulah yang terpatri dalam hati Riyanto. Seorang anggota Barisan Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU), asal Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon. Dia menjadi korban insiden bom Natal di Gereja Sidang Jemaat Pantekosta Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer, Kota Mojokerto, pada 24 Desember 2000 silam. 

MOCH. CHARIRIS, Kota Mojokerto

Atas insiden terorisme 23 tahun lalu itu, Indonesia selalu mengenang perjuangan kemanusiaan anak pertama dari tujuh bersaudara pasangan Sukarmin, 74, dan Katinem, 65, tersebut setiap Natal tiba. "Semoga setiap tahun, setiap waktu malam Natal, dari gereja, dari umat beragama, mendoakan anak saya (Riyanto),” ungkap Sukarmin, Minggu (25/12) di rumahnya kemarin.

”Semoga Anak saya dikasih tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” imbuh pria yang kesehariannya mengayuh becak ini. ”Kalau ada waktu bisa (ziarah ke makam), atau mau ke rumah orang tuanya Riyanto," lanjut dia.

DIKENANG: Aktivis Jaringan Gusdurian Mojokerto bersama anggota Banser Kota Mojokerto menyerahkan penghargaan dan santunan kepada ayah Riyanto, Sukarmin.
DIKENANG: Aktivis Jaringan Gusdurian Mojokerto bersama anggota Banser Kota Mojokerto menyerahkan penghargaan dan santunan kepada ayah Riyanto, Sukarmin.

Mengenang keteguhan hati Riyanto dalam menjalankan misi kemanusian kala itu, memang sempat mendapat perhatian khusus dari sesama Banser. Sebelum ajal menjemput, ketika bertugas menjaga Gereja Eben Haezer, Riyanto bersama empat anggota Banser lainnya tengah berbuka puasa dengan sebotol air mineral yang dibelinya.

Di sela-sela berbuka, Riyanto sempat menanyakan kepada Bowo, rekan sesama Banser, tentang hukum seorang muslim yang menjaga ibadah umat agama lain, kemudian meninggal dunia.

Pertanyaan Riyanto sontak mengagetkan keempat anggota Banser lainnya. Bowo, yang juga seorang mudin pun menjawab dengan gamblang, yakni mati syahid. Karena menjaga tanah air dan sesama umat manusia. Mendengar itu Riyanto kemudian terdiam. Seperti ada perenungan dalam dirinya.

Usai salat Magrib dan berbuka puasa, kelima Banser ini kembali menjaga gereja. Waktu itu memang bertepatan dengan puncak ibadah malam Misa. Namun, sebelumnya mereka sempat mengikuti apel bersama di halaman Polres Mojokerto (sekarang Polres Mojokerto Kota).

ZIARAH: Koordinator Jaringan Gusdurian Mojokerto Kholilulloh, menaburkan bunga di pusara Riyanto, di TPU Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon.
ZIARAH: Koordinator Jaringan Gusdurian Mojokerto Kholilulloh, menaburkan bunga di pusara Riyanto, di TPU Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon.

Akan tetapi, Riyanto terlambat datang, karena motor vespa yang dikendarai mogok di Jalan Majapahit. Meski begitu tak patah arang dalam menuntaskan tugasnya. Setelah motor kembali menyala, dia pun kembali berjaga. Mengawal prosesi malam Misa di gereja yang berdiri di Jalan RA Kartini Nomor 4 tersebut.

Sekitar pukul 19.45, prosesi Misa memasuki masa akhir. Riyanto dan rekan Banser lainnya pun disibukkan mengatur padatnya lalu lintas jalan akibat keluar masuk jemaah. Tak berselang lama, seorang jemaah wanita keluar gereja sembari berseloroh, ada sebuah tas mencurigakan di dalam gereja.

Mendengar laporan tersebut, Amir, seorang anggota Banser lainnya, mendekati tas untuk mengecek. Dia lalu menepikan tas ke sisi tembok. Tak berselang lama, Riyanto pun turut menghampiri dan mengecek isi tas. Seolah tidak ada rasa curiga, bahwa tas tersebut ternyata berisi bom.

Ketika dibuka, Riyanto sadar isi tas tersebut benar sebuah bom. Karena sudah mengeluarkan asap. Di dalamnya terdapat rangkaian kabel dan terpasang paku. Sontak, semua jemaat gereja panik dan berhamburan keluar menyelamatkan diri. Tas kemudian diletakkan begitu saja oleh Riyanto.

Beberapa detik kemudian, diambil kembali dan dibawa lari. Riyanto bermaksud melemparkan tas berisi bom ke selokan agar dapat diredam. Namun, bom telanjur meledak lebih dulu, tak lama setelah dilempar dari pelukan Riyanto.

Seketika keadaan sekitar gereja gelap gulita. Semua lampu penerangan padam. Diketahui bom tersebut ternyata satu dari tiga bom yang hulu ledakan paling besar. Ledakan itulah yang membuat tubuh Riyanto terkoyak 30 meter dari depan gereja. ”Kalau dibilang rindu, namanya orang tua ya pasti rindu. Namanya, ditinggalkan tiba-tiba, apalagi Riyanto anak pertama kami,” kenang Sukarmin.

Jasad Riyanto dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon. Selama 23 tahun terakhir ini, makamnya selalu diziarahi oleh pemuka agama, jemaat gereja, Banser, dan sahabat Ansor dari berbagai daerah.

Bahkan, sebagai penghormatan, namanya kini diabadikan untuk sebuah jalan di Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. ”Alangkah baiknya pelajaran itu bisa kita petik. Utamanya, oleh sahabat-sahabat Banser dan Ansor. Ke depan, mari kita lanjutkan perjuangan misi kemanusiaan almarhum ini demi perdamaian Indonesia," kata Koordinator Jaringan Gusdurian Mojokerto, Kholilulloh, usai berziarah di makam Riyanto.

Editor : Moch. Chariris
#riyanto #banser #natal