RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM – Spirit kekuasaan Kerajaan Majapahit kini terus dikembangkan dalam berbagai sektor. Salah satunya dalam bentuk kerajinan batik. Motif yang menjadi khas Majapahitan kian diganderungi pasar nasional hingga Internasional.
Salah satunya industri kecil menengah (IKM) batik Majapahitan milik Yuliarni, di Dusun Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Bersama sang suami, Sumono, Yuliarni merintis usaha batik Majapahitan. Meliputi batik tulis hingga batik cap. ”Untuk proses membatik saya kerjakan bersama suami di rumah,” ujar perajin batik yang merintis usahanya sejak tiga tahun lalu itu.
Yuliarni fokus pada produksi batik tulis. Dari mulai menggambar atau mempola hingga menggoreskan canting. Sedangkan suaminya memproduksi batik dengan motif batik cap. ”Saya yang bagian buat batik tulis, suami membuat batik cap, dan membantu proses pewarnaan,” ungkapnya.
Tak hanya membatik di atas kain saja, Yuliarni berinovatif membuat berbagai kerajinan batik dalam bentuk. Seperti sajadah, mukena, sarung, hingga baju. Ia juga sering kali menggabungkan motif batik Majapahitan. Seperti Candi Wringin Lawang dengan kain motif jumputan. Sehingga dapat menambah nilai estetika.
”Sering saya kreasikan motif batik tulis, terkadang dikolaborasikan dengan kain jumputan dan motif cap,” jelasnya. Yuliarni memasarkan kerajinan batik Majapahit miliknya melalui aplikasi online.
Di samping itu, banyak pelanggan yang langsung datang ke rumahnya untuk melihat koleksi batik milik Yuliarni. Batik Majapahitan karya Yuliarni sering dipesan oleh berbagai kalangan untuk dijadikan buah tangan. ”Banyak yang pesan untuk oleh-oleh atau suvenir,” tambahnya.
Harga yang dibanderol untuk untuk satu lembar batik tulis dari Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung bahan dan tingkat kesulitan. Sedangkan batik cap, Yuliarni menaruh harga Rp 150 ribu. Untuk sajadah dan sarung dibanderol mulai Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu. Berbeda dengan mukenah yang dijual seharga Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. ”Bisa disesuaikan dengan kemauan pemesan batik,” imbuhnya.
Selama menjalankan usahanya, Yuliarni mengaku kesulitan dalam memasarkan batik tulis khas Majapahitan. Karena harga batik tulis masih dipandang relatif mahal. ”Batik tulis itu umumnya untuk kalangan menengah keatas,” tandasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris