MARTDA VADETYA, Mojosari, Jawa Pos Radar Mojokerto
SIANG itu, Muhammad Aan Falaqi, dan enam pekerjanya tengah menggarap lahan di bawah terik matahari. Bukan lahan pertanian padi atau jagung, melainkan lahan budi daya cacing tanah.
Ya, sejak setahun terakhir Aan membudi dayakan cacing tanah jenis fosfor dan African Nightcrawler (ANC) di Desa Menanggal, Kecamatan Mojosari.
Tak lain karena ukurannya yang relatif jumbo ketimbang jenis cacing tanah lainnya.
”Kita ternak atau lepas liarkan di lahan sawah seperti ini supaya hasil panennya lebih banyak. Kalau pakai media kotak kayu atau plastik begitu hasilnya nggak bisa stabil. Panennya sedikit,” ungkap pria 40 tahun ini.
Aan menjelaskan, ia memilih terjun ke dunia cacing lantaran bisnis satu ini dinilai menjanjikan.
Ia mengaku sempat menjadi tengkulak kedua jenis cacing tanah ini sebelum terjun beternak langsung.
”Ternak ini mulai September tahun lalu. Karena selama dua tahun jadi pengepul cacing ini lama kelamaan bingung kehabisan stok karena banyak permintaan,” beber pria asal Dusun Daleman, Desa Japan, Kecamatan Sooko, ini.
Dari situ, pria yang juga sempat menjadi pengepul kertas bekas ini pun mendalami budi daya cacing tanah. ”Sempat ikut teman buat belajar ini di Nganjuk,” sebutnya.
Aan memaparkan, ia mesti mengolah dua petak tanah miliknya berukuran 30x45 meter tersebut sebelum ditebar benih cacing fosfor dan ANC.
Ia menyebar blotong atau limbah tebu hasil pengolahan pabrik gula ke penjuru lahan.
Sebab, itu sekaligus sebagai asupan pangan bagi bibit cacing yang akan disebar nanti.
”Blotong ini disebar di lahan sambil nunggu dingin sekitar 3 mingguan,” ujar ayah dua anak ini.
Pasalnya, blotong mengandung nitrogen, kalium karbon, fosfat, dan berbagai mineral lain yang bisa mencukupi kebutuhan pangan cacing.
Setelah itu, benih cacing tanah jenis fosfor dan ANC usia sekitar 3 bulan disemai ke tanah yang sudah diolah tersebut.
”Untuk satu petak ini butuh bibit cacing sekitar 1,5–2 kuintal,” terangnya. Kendati begitu, setelah panen tanah budi daya cacing tersebut mesti diganti secara berkala agar pertumbuhan cacing bisa maksimal.
Disamping itu, diperlukan perawatan intens agar tanah tetap lembab dan basah.
Tak pelak, selama musim kemarau, Aan dan enam orang pekerjanya mesti rutin mengairi lahan miliknya.
Setelah hewan invertebrata tersebut berumur 5 bulan, Aan baru bisa panen.
”Sekarang sehari bisa dapat sekitar 20-30 kilogram (kg). Kalau dirupiahkan, seminggu bisa dapat sekitar Rp 20 juta,” papar Aan. Disebutkannya, saat ini harga pasaran cacing tanah menyentuh Rp 100 ribu per kg.
Untuk menjualnya, ia tak perlu bingung. Sejauh ini sudah ada pengepul yang menanti setiap kali akan panen.
Itu untuk didistribusikan dan memenuhi permintaan di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Seperti Situbondo, Sidoarjo, Surabaya, Lamongan, Gresik maupun Mojokerto sendiri.
Apalagi, di Mojokerto Aan diyakini sebagai pionir budi daya cacing tanah dengan menggunakan media lahan.
Hewan melata tersebut dijual untuk diproses sebagai umpan mancing dan pakan ternak. ”Di Situbondo cacing-cacing ini untuk pakan ternak lobster,” tandasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah