FARISMA ROMAWAN, Puri, Jawa Pos Radar Mojokerto
CARA itu diakui Sukamto tidak semata-mata hanya untuk mengincar materi semata. Melainkan, didasari atas kesukaannya terhadap tanaman hias lidah mertua itu.
Yang kemudian, berevolusi menjadi hobi memelihara sejak tahun 2005 atau 18 tahun silam.
Saat itu, bapak dua anak ini mengaku langsung jatuh hati pada sansevieria dari keindahan daunnya.
Dan setelah diamati, ternyata tanaman tahan panas ini dapat direkayasa hingga menjadi bermacam varietas baru dengan corak dan bentuk yang beragam pula.
’’Uniknya tanaman ini mudah dirawat dan bisa disilangkan menjadi bermacam jenis dan varietas baru atau hibrid,’’ ujarnya.
Dengan memanfaatkan lahan berukuran 7x13 meter di samping rumahnya, hampir setiap pagi dan sore Sukamto selalu disibukkan dengan aktivitas merawat dan menanam sansevieria.
Menurut pria 54 tahun ini, lidah mertua sangat mudah dipelihara di rumah.
Untuk penanaman, cukup menggunakan media tanam berupa sekam padi, pasir malang serta biji randu busuk sebagai pupuknya.
Setelah itu, tunas atau daun sansevieria muda yang dipilih langsung ditancapkan begitu saja dan disiram.
Setelah beberapa hari kemudian, akan muncul akar daun dari dalam tanah.
’’Karena tanaman ini berasal dari dataran tropis, maka cocok sekali ditanam di Indonesia. cukup disiram dua hari sekali dan diberi pupuk biji randu yang sudah busuk untuk memperkuat akarnya,’’ tandasnya.
Nah, alasan yang paling menantang Sukamto hingga nekat mendirikan rumah breeding adalah cara mendapatkan sansevieria dengan varigata atau corak daun yang indah.
Tak sekedar indah, tapi juga langka sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi. Varigata inilah yang ia cari dengan cara penyilangan atau hibrida.
Akan tetapi, untuk bisa mendapatkannya juga tidak mudah. Sebab, tidak semua sansevieria yang ia silang mampu menghasilkan anakan yang mengandung varigata.
’’Kalau muncul dengan varigata langka, kami menyebutnya sebagai jackpot. Kebanyakan justru tidak muncul, daunnya hanya warna hijau saja,’’ imbuhnya.
Nah, sansevieria varigata inilah yang ia jual ke pasaran, khususnya para kolektor dengan harga mahal.
Bahkan, dalam satu tanaman, bisa dibanderol sampai Rp 500 ribu hingga Rp 4 juta, tergantung dari jenis varigata dan jumlah daunnya.
’’Saya sempat mampu menghasilkan jenis sansevieria varigata tower blue. Itu harganya bisa sampai Rp 4 juta. Kalau yang bisa varigata untuk tanaman hias biasa, hanya dihargai Rp 40 ribu sampai Rp 200 ribu,’’ imbuhnya.
Dari hasil hobi dan budidayanya itu, pengusaha cetakan kue ini mampu meraup omzet hingga Rp 5 sampai Rp 6 juta per bulan dengan menjual 9-10 tanaman sansevieria berbagai jenis.
Untuk pemasaran, sebagian besar ia tawarkan via media sosial (medsos) Facebook (FB) dan Instagram (IG) di kalangan kolektor tanaman hias.
Menurut Sukamto, harga sansevieria di pasaran cukup stabil. Meski sempat terhambat akibat perang Ukraina-Rusia, namun harga di pasar nasional tidak banyak berubah.
Selain itu, lidah mertua juga cukup membawa efek positif terhadap lingkungan. Yakni mampu menyerap polutan lebih banyak ketimbang tanaman hias lainnya.
Sehingga dapat mengurangi sampah udara, khususnya di sekitar rumah yang banyak ditanami sansevieria. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah