Ratusan atlet arung jeram dari belasan daerah di Jawa Timur sebentar lagi tumplek-blek di Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, untuk mengikuti ajang porprov. Balai dusun setempat kini sudah jadi tempat menginap sementara kontingen tuan rumah. Pun rumah-rumah warga sudah siap dikontrakkan untuk menampung atlet pendatang.
YULIANTO ADI NUGROHO, Jetis, Jawa Pos Radar Mojokerto
SIANG itu, sejumlah remaja berkaus olah raga berjalan menuju Balai Dusun Mlirip, Rabu (30/8). Atlet arung jeram dari Kabupaten Gresik tersebut baru selesai mengikuti latihan di aliran Kali Mas di seberang jalan. Kawasan dam Rolak 3 menjadi venue kejuaraan arung jeram dalam ajang Porprov VIII Jatim pada 7-12 September mendatang.
Sesuai dokumen informasi umum yang dikeluarkan Federasi Arung Jeram Jatim, kejuaraan ini akan diikuti peserta dari 16 kabupaten dan kota. Jumlah atlet berikut official yang terlibat mencapai 272 orang. Jelang pekan pertandingan, sejumlah tim telah berdatangan.
Mereka ingin mengakrabkan diri dengan aliran Kali Mas. ”Mencoba venue dan beradaptasi,” kata Ketua Harian Pengkab Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Mojokerto Arif Kustanto, kemarin.
Sebelum Kabupaten Gresik yang tiba beberapa hari lalu, tim Kabupaten Mojokerto sudah lebih dulu melakukannya. Arif bersama belasan atlet menjalani pemusatan latihan sejak awal Agustus ini.
Selain pagi dan sore berlatih di aliran sungai, mereka juga menginap di Balai Desa Mlirip selama Senin sampai Kamis.
”Karena atlet-atlet kami masih sekolah. Jumat, Sabtu, dan Minggu, mereka pulang,” ujar pelatih arung jerang tersebut di sela kegiatan latihan, kemarin.
Mulai awal pekan depan nanti, para atlet muda tersebut akan menjalani karantina.
Sampai dengan kejuaraan selesai, mereka menetap di sebuah kampung di Kecamatan Jetis tersebut. ”Atlet tidak boleh pulang sama sekali,” tandasnya.
Program pemusatan latihan yang berlaku selama sebulan terakhir membuat Arif dan atlet tak hanya akrab dengan arus sungai, melainkan warga setempat.
Pemdes setempat berkontribusi penuh menyediakan mes bagi tuan rumah. Di balai dusun itu, semua aktivitas keseharian atlet akhirnya berlangsung.
Dari masak sampai tidur. ”Alhamdulillah mes yang kita tempati sangat perfect. Bahkan, warga welcome dan senang sekali dengan adanya kita di situ,” ulas pelatih asal Mojosari tersebut.
Jamuan sesederhana kopi dan teh dari warga setempat membuat Arif dan para atlet terkesan.
Kedekatan itu bahkan sampai ditunjukkan dengan dilibatkannya para tamu tersebut dalam kegiatan pawai 17-an.
”Jadi sangat guyub,” lontarnya. Selama pra-kejuaraan ini, atlet Kabupaten Gresik juga bermalam di balai dusun tersebut.
Kepala Desa Mlirip Purwanto mengungkapkan, pihaknya memberi fasilitas kepada para atlet arung jeram yang akan berlaga.
Selain di balai dusun, masing-masing kontingen juga akan menempati rumah warga sebagai mes.
”Saat ini belum ada yang ditempati, tapi sudah dikontrak. Nanti mendekati acara mungkin mulai ditempati,” ujarnya, kemarin.
Momen ’’kampung atlet” ini diyakini akan membawa dampak positif pada segi ekonomi. Contoh kecil yakni dari sewa rumah kontingen tamu dan stand UMKM warga yang diberi tempat untuk menjajakan produknya selama kegiatan.
Lebih dari itu, event olahraga terbesar di Jatim ini akan menjadi permulaan untuk mengenalkan potensi wisata susur sungai.
”Sudah lama kami ingin aliran sungai ini menjadi objek wisata river tubing. Momen ini harapannya jadi awalan untuk mengenalkan potensi wisata di desa kami,” tandasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah