YULIANTO ADI NUGROHO, Pacet, Jawa Pos Radar Mojokerto
SEGELAS kopi susu menyambut Jawa Pos Radar Mojokerto kala berkunjung ke kediaman Kasiyanto di Dusun Wonokerto, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Minggu (27/8) siang.
Seperti yang diharapkan si tamu, minuman panas itu disuguhkan tuan rumah dalam gelas bambu, bukan gelas yang lain. Segar, begitu rasanya.
Gusi Anyol, begitu Kasiyanto biasa dipanggil, belakangan mem-posting peralatan minum berbahan bumbung pring tersebut di status WhatsApp. Di atas meja ukir kayu jati, gelas berbagai ukuran itu ia jejer rapi.
’’Iya, buatan sendiri. Kalau pas tidak ada kesibukan, bikin ini,’’ ucapnya membalas pesan tamu. Jawaban itu yang menjadi alasan kemarin segelas kopi susu menyambut.
Selain gelas lengkap dengan lepek dan tutupnya, Anyol juga membuat cangkir, teko, hingga tempat sendok berbahan bambu. Semua itu ia kerjakan secara mandiri dengan perkakas manual.
Seperti golok, gergaji, dan tatah. ’’Yang paling modern hanya gerinda,’’ katanya saat berbincang kemarin.
Baru dua bulan terakhir ayah dua anak itu memproduksi gelas bambu. Idenya ini bermula dari keberadaan wisata budaya dan kuliner tradisional bernama Pasar Keramat di kampung yang populer dengan sebutan Kramat Jetak itu.
Pemilik rumah di sudut persimpangan jalan sebelum lokasi wisata yang mengemas nuansa serbabambu tersebut ingin berinovasi dengan membuat peralatan minum dari bambu.
’’Semuanya sudah pakai bambu, kecuali gelas yang masih plastik. Dari situ saya mulai bikin ini,’’ tutur Ketua RT 04/RT 07 Desa Warugunung itu.
Beruntung Anyol punya lahan luas yang dipenuhi dengan rerimbun bambu apus. Satu-satunya jenis bambu yang menurutnya paling cocok jadi kerajinan karena berkarakter lentur dan tidak mudah patah.
Bambu yang sudah berumur tua, dia potong dan dibiarkan selama dua pekan agar mengering. Kecuali kuping yang ditempel dengan lem, setiap produk gelas dan sejenisnya dibuat dari satu ros bambu utuh tanpa bahan sambungan.
Setelah pengamplasan, gelas yang sudah jadi akan melalui proses perebusan. Gelas direbus dengan air garam selama kurang lebih enam jam.
Proses tersebut dilakukan agar bumbung tidak retak ketika terkena bahan panas semisal untuk menyeduh kopi.
Cara ini sama dengan kebiasaan merendam kayu atau bambu bahan rumah dalam air selama waktu tertentu supaya awet dan tahan jamur yang dilakukan orang zaman dulu. ’’Ini kearifan lokal,’’ ucapnya.
Tahapan finising kerajinan ini yakni memoles gelas dengan lapisan food grade, yakni bahan semacam plitur tapi ramah makanan.
Selain menggunakan bahan kimia, pria yang aktif sebagai anggota Banser Tanggap Bencana (Bagana) Mojokerto itu juga melakukan proses pemanggangan gelas sebagai bentuk pewarnaan alami.
’’Dua hal ini saya sesuaikan dengan keinginan pemesan,’’ ujar relawan yang biasa berjaga di jalur ekster Pacet-Cangar tersebut.
Dalam sehari, Anyol mengaku bisa menghasilkan sedikinya 8 gelas bambu. Sementara ini, ada tiga ukuran gelas yang dia produksi dengan harga mulai Rp 10-30 ribu.
Dia juga menjual produk satu paket Rp 130-150 ribu yang terdiri dari teko dan empat gelas. Melalui sejawat, dia kini sudah kebanjiran pesanan.
’’Sementara ini membuat gelas bambu masih jadi sampingan. Ke depan kalau prospeknya bagus mungkin akan saya prioritaskan,’’ tandas pria yang sehari-hari bertani itu. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah