Feri Setiawan menyulap akar bambu menjadi hiasan tembok bernilai seni nan menguntungkan. Berangkat dari kebosanan menggarap mebel, kemampuan membuat kerajinan berbagai bentuk karakter wajah itu dikuasainya secara otodidak.
YULIANTO ADI NUGROHO, Kemlagi, Jawa Pos Radar Mojokerto
Tak ada yang serupa dari puluhan ukiran wajah yang menempel di tembok rumah sekaligus bengkel kerajinan milik Feri itu. Wajah seorang pria, namun dengan raut berbeda-beda.
Keberagaman ini menunjukkan betapa kreatifnya warga Dusun Kelompok, Desa Mojogebang, Kecamatan Kemlagi, tersebut dalam membuat kerajinan dari akar bambu.
Semuanya utuh. Tak ada bahan tempelan atau sambungan di setiap karakter. Ada serabut akar yang sengaja dibiarkan menjadi rambut dan jenggot.
Ada bagian batang yang menjadi penutup kepala menyerupai songkok. Ada pangkal ranting yang dengan cerdas dijadikannya semacam orang sedang menghisap cerutu atau susur tembakau.
Demikian, Feri menemukan kerajinan hiasan dinding berbahan akar bambu itu sejak tiga bulan terakhir. Kemampuan ini didapatnya secara otodidak.
Dengan niat awal mencoba-coba memahat akar bambu, jadilah kerajinan karakter wajah. ”Awalnya ngawur saja. Kita buat sesuai dengan bentuk akar bambunya dan ternyata jadi sesuatu yang cantik,” ujar pria yang biasa disapa Setiawan Brungki itu.
Dibantu dua pekerja, kerajinan pria 48 tersebut mampu menghasilkan sedikitnya 10 kerajinan setiap hari.
Sebelum seperti sekarang, Feri mendapat bahan baku secara cuma-cuma. Namun kini dia mengeluarkan modal Rp 5 ribu untuk setiap akar bambu yang akan dibuatnya jadi kerajinan.
Ayah dua anak ini mendapat bahan baku akar bambu dengan membeli sisa produksi milik warga sekitar yang lebih banyak membuat mebel.
Desa Mojogebang sudah lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Produksi bambu di desa di kawasan utara Kabupaten Mojokerto itu pun melimpah.
Di kampung tempat tinggalnya saja, sedikitnya terdapat 70 perajin bambu. ”Saya dulu juga membuat kerajinan kursi bambu,” ujarnya.
Sebelum beralih jadi perajin hiasan dinding, bertahun-tahun Feri menemukan kerajinan mebel berbahan bambu.
Produksinya yang paling banyak berbentuk kursi. Kerajinan demikian juga dibuat oleh puluhan pelaku kerajinan lain. Persaingan dan kebosanan akhirnya membuat Feri berinovasi.
”Hasilnya minim karena banyak yang membuat dan proses pembuatannya juga bikin bosan,’’ tutur dia.
Meski terbilang baru merintis, kerajinan hiasan dinding yang digelutinya kini telah banjir pesanan. Selain dipasarkan secara manual seperti dititipkan ke tempat wisata, dia menjual produknya lewat media sosial.
Pemesanan diakuinya paling banyak berasal dari Surabaya dan Sidoarjo. Selain produk karakter wajah, Feri dan dua pekerjanya juga mengolah akar bambu jadi asbak dan kentongan.
”Untuk harga hiasan dinding karakter wajah mulai harga Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu, kalau asbak mulai Rp50 ribu sampai Rp 150 ribu,” rincinya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah