Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Melihat Proyek Pertanian Sehat di Desa Ngarjo, Mojoanyar, Mojokerto

Yulianto Adi Nugroho • Senin, 7 Agustus 2023 | 16:00 WIB

Demi Menghasilkan Bahan Pangan yang Bersih dari Zat Kimia

ORGANIK: Pertanian sehat dikembangkan di sawah padi milik kelompok tani di Desa Ngarjo, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.
ORGANIK: Pertanian sehat dikembangkan di sawah padi milik kelompok tani di Desa Ngarjo, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.
Mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang sepaket dengan masalah klasik, kelangkaan dan harga mahal, bisa diawali dengan mencontoh petani di Kecamatan Mojoanyar. Proyek manajemen tanaman sehat (MTS) yang dikembangkan dengan mengandalkan sumber daya serba alami sekaligus membuka daya tarik wisata edukasi.

YULIANTO ADI NUGROHO, Mojoanyar, Jawa Pos Radar Mojokerto

HAMPARAN BUNGA marigold menyita pandangan mata begitu melintasi jalan di ujung kampung Desa Ngarjo, Minggu (6/8) pagi. Tanaman yang lebih dikenal dengan nama kenikir itu tumbuh di pematang sawah tempat hijaunya pagi menghampar luas.

Dipandang lebih dekat, bukan cuma kenikir impor itu yang ditanam. Melainkan ada pula bunga jengger ayam, bunga kertas, bunga matahari, dan air mata pengantin. ”Bunga-bunga ini berfungsi sebagai refugia,” kata Muksin.

Refugia adalah tanaman yang sengaja ditumbuhkan di sekitar tanaman yang dibudidayakan, dalam hal ini padi, untuk mengundang musuh alami hama padi. Demikian pria yang biasa disapa Keman itu menjelaskan kenapa berbagai tanaman hias tersebut ada.

Pemanfaatan refugia adalah satu dari sekian banyak hal alamiah yang dimanfaatkan dalam program MTS di desa di Kecamatan Mojoanyar tersebut. Program yang mengembangkan tanaman padi secara sehat tanpa bahan kimia sejak proses penanaman sampai panen.

Sejak Mei lalu, sekitar 20 hektare padi sawah milik 60 anggota Kelompok Tani Sri Rejeki yang diketuai Keman digarap dengan menerapkan model MTS. Padi varietas inpari 32 itu sudah berumur dua bulan.

Para petani merawat tanamannya menggunakan pupuk kandang dan berbagai pestisida organik. Seperti fermentasi urin sapi, empon-empon, dan berbagai tanaman serta bakteri lain.

”Semua diolah sendiri oleh petani dengan biaya yang sangat murah,” tutur Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Mojoanyar Disperta Kabupaten Mojokerto, Shinta Nirmalasari di lokasi.

Selain dari Shinta, petani juga mendapat pendampingan langsung dari tim Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman Disperta dan Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Mojokerto.

Proyek tanaman sehat yang dibuat oleh Disperta Jawa Timur ini hanya ada satu di Kabupaten Mojokerto. Di tempat lain seperti Lamongan dan Pasuruan, model demikian sudah dikembangkan sejak 2018.

Tujuan utama MTS, kata Shinta, adalah mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida kimia.

Nantinya, bahan pangan utamanya padi yang dikonsumsi masyarakat benar-benar bersih dari sisa bahan kimia.

”Yang biasanya sawah ukuran satu boto habis satu karung pupuk kimia, sekarang tinggal separo. Pelan-pelan kita meninggalkan bahan kimia,” imbuh perempuan 39 tahun itu.

Mengubah pola pertanian tersebut diakuinya memang tidak mudah. Namun, hasil pertanian selama ini yang mengandalkan bahan serba kimia telah menghasilkan bahan pangan dengan residu kimia.

Yang seperti diketahui, hal itu berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

”Ini yang menjadi dasar ilmiah juga adanya program MTS,” tandasnya.

Dari sekitar 20 hektare lahan padi yang bulan depan mulai panen itu, setengah hektare di antaranya di sewa menjadi tempat studi penerapan MTS.

Di sinilah berbagai obat dan perlakuan terhadap tanaman dilakukan pertama kali sebelum dipakai secara massal.

Area yang dipenuhi dengan bunga dan menyerupai taman itu menarik perhatian dan terus dikembangkan. ”Sekaligus untuk wisata edukasi,” imbuh Shinta.

Keman mengungkapkan, pengembangan padi organik juga sekaligus untuk memutus masalah langganan yang dihadapi para petani, yakni kelangkaan pupuk kimia.

”Sebelum ini memang kita berusaha memakai bahan organik karena pupuk sangat langka dan mahal. Maka, kami selaku kelompok tani mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan tanaman,” ujar pria 55 tahun tersebut. (ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#pertanian #mojoanyar #proyek #sehat #mojokerto