Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Merawat Nilai Sejarah dari Masjid Agung Darussalam, Mojokerto

Rizal Amrulloh • Jumat, 4 Agustus 2023 | 15:25 WIB

DILESTARIKAN: Pekerja merapikan soko guru peninggalan masjid lama yang kini tetap dijadikan sebagai perwajahan dari Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
DILESTARIKAN: Pekerja merapikan soko guru peninggalan masjid lama yang kini tetap dijadikan sebagai perwajahan dari Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
Pertahankan Soko Guru, Tempat Wudu, dan Sumur Tua

Bangunan lama dari Masjid Agung Darussalam (Madasa), Kecamatan Sooko boleh jadi telah rata dengan tanah. Namun, sejumlah ornamen dan konstruksi bernilai sejarah dari masjid berusia 130 tahun ini tetap dipertahankan di tengah proses pembangunan masjid baru.

RIZAL AMRULLOH, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

SOKO guru menjadi salah satu instrumen dari bangunan masjid lama yang tetap dipertahankan. Empat pilar kayu yang menjadi penyangga utama masjid lama kini dijadikan sebagai fasad dari Madasa.

”Soko guru ditampakkan lagi di bagian depan masjid yang baru,” ulas Takmir Madasa Irwansyah, Kamis (3/8).

Menurutnya, soko guru tersebut merupakan bagian asli dari sejak Masjid Darussalam sejak didirikan tahun 1893 silam.

Karena itu, konstruksi bernilai cagar budaya ini masih tetap dirawat keasliannya. ”Supaya sejarahnya tidak hilang,” papar dia.

Selain itu, ornamen asli lainnya yang juga tetap difungsikan di Madasa adalah mimbar.

Saat ini, tempat untuk khotbah tersebut ditempatkan di ruang utama masjid yang berada di Jalan Raya Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini.

”Di belakang mimbar juga ada prasasti tahun pembuatannya,” ulas pria yang menjadi wakil bendahara Madasa ini.

Dia mengatakan, prasasti yang terbuat dari kayu itu kini dikirim ke Jepara. Karena sejak ditemukan, keterangan tulisan telah dibubuhkan dengan cat minyak.

Ke depan, prasasti yang menandakan pendirian masjid pada hari Jumat Kliwon, 23 Januari 1893 ini akan dipoles dengan aksara bernuansa ukiran. ”Karena sebelumnya sekadar ditulis tangan dengan cat,” ulasnya.

Pria yang akrab disapa Wawan ini menambahkan, satu-satunya bagian dari bangunan masjid peninggalan Bupati Mojokerto Kromodjojo Adinegoro III yang tidak tersentuh pembongkaran adalah tempat wudu. Bangunan dengan desain segi delapan ini masih berdiri di sisi depan masjid.

Menurutnya, tempat bersuci yang masih berbentuk kolah ini dipertahankan karena telah diwasiatkan dari kiai-kiai pendahulu. Meski dilakukan perombakan bangunan, Madasa harus tetap dipertahankan nilai kesejarahannya.

”Termasuk sumur tua yang berada di samping tempat wudu. Nanti akan ditampakkan lagi dan diperbaiki agar keluar mata airnya,” imbuh dia.

Di samping itu, tetap difungsikannya ornamen dan bagian bernilai sejarah dari Madasa juga merupakan permintaan dari keluarga Kromodjojo Adinegoro III.

Harapannya, agar masjid yang kini telah genap berusia 130 tahun tersebut tetap menjadi jariyah dari Bupati Mojokerto kelima ini.

Dia menambahkan, pembangunan Madasa dilakukan untuk memperluas kapasitas masjid. Dari sebelumnya hanya memiliki daya tampung sekitar 400 jamaah, ke depan diperkirakan mampu menampung kurang lebih 6.000 jamaah.

Di samping itu, masjid bersejarah ini juga akan dijadikan sebagai destinasi wisata religi di Kabupaten Mojokerto. Sehingga, di sekitarnya juga akan disediakan tempat parkir dan taman. Termasuk dibangun kios untuk tempat oleh-oleh. (ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#sumur #Soko #Nilai #wudu #kabupaten #gemekan #sejarah #merawat #masjid #mojokerto #guru #Darussalam