Jelang memasuki tahun ajaran 2023/2024, jasa penjahit mulai banyak diburu oleh orang tua peserta didik baru. Salah satu yang menjadi jujukan adalah lapak para penjahit di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto yang menerima banyak permintaan menjahit seragam sekolah.
RIZAL AMRULLOH, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto
GEMERICIK suara mesin jahit, saling bersahutan dari belasan lapak di lorong Pasar Tanjung Anyar, Kamis (6/7) siang. Sebagian besar, para penjahit iyu tengah menjahit kain seragam sekolah.
Hampir tiap kursi dipenuhi oleh para pelanggan. Sejumlah orang tua bersama buah hatinya terus silih berganti berdatangan. Dengan telaten, sang penjahit pun mengukur dengan detail. Mulai panjang lengan, lingkar pinggang, hingga panjang kaki untuk dijadikan bawahan siswa. ”Alhamdulillah, sudah mulai ramai pesanan,” ungkap Titin, salah satu penjahit di Pasar Tanjung Anyar.
Menurutnya, peningkatan order menjahit mulai dirasakan sejak akhir Juni lalu. Namun, permintaan meningkat signifikan sejak bantuan seragam gratis untuk peserta didik baru Kota Mojokerto dibagikan serentak 4-5 Juli. ”Awalnya permak saja, tapi sekarang banyak pesanan jahitan kain seragam,” ujarnya.
Permintaan jasa menjahit seragam datang dari peserta didik SD, SMP, hingga SMA/SMK. Praktis, Titin dan para penjahit lainnya hanya memiliki waktu yang relatif singkat untuk bisa menuntaskan jahitan seragam.
Pasalnya, permulaan tahun ajaran baru 2023/2024 akan bergulir mulai Senin, 17 Juli mendatang. ”Otomatis deadline tanggal 16 Juli itu harus selesai semua,” ulas perempuan asal Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan ini.
Karena itu, Titin juga harus kerja ekstra untuk bisa merampungkan semua pesanan. Sepulang dari pasar, dia kembali melanjutkan pekerjaan menjahitnya di rumah. ”Karena pesanannya meningkat hingga 2-3 kali lipat dibanding biasanya, jadi ya harus lembur,” ulas dia.
Dengan banjirnya pesanan itu, omzetnya yang diraupnya pun juga meningkat. Hanya saja, perempuan yang sudah menekuni usaha menjahit sejak 2001 ini mengaku tidak pernah menghitung hasilnya.
Untuk seragam, Titin mematok harga dari Rp 100 ribu hingga Rp 175 ribu per setel. Tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitan dalam proses menjahit. ”Yang jelas omzet meningkat, tapi kalau jumlah saya nggak pernah menghitung. Pokoknya menerima pesanan langsung saya kerjakan,” urainya.
Sementara itu, Agus Wahyudi, penjahit lainnya mengatakan, menjelang tahun ajaran baru dirinya juga kebanjiran pesanan. Bahkan, dia harus berbagi tugas dengan penjahit lainnya karena kewalahan.
Meski sudah 38 tahun berpengalaman menjahit, Agus khawatir jika menerima pesanan yang terlalu banyak dirinya tidak dapat menyelesaikan tepat waktu. ”Nggak terima banyak-banyak, satu hari dapat dua setel paling banyak,” imbuhnya.
Agus menambahkan, tren peningkatan pesanan masih akan berlangsung hingga dua bulan ke depan. Berkaca pada tahun sebelumnya, setelah tahun ajaran baru bergulir, gelombang pesanan akan datang dari jenjang SMA/SMK .”Karena banyak SMA/SMK yang membagikan bulan September,” sebut dia. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah