Kemajuan teknologi sudah selayaknya membawa kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti sistem transaksi nontunai yang diterapkan Tukino, 34, pedagang pentol keliling asal Desa Seduri, Kecamatan Mojosari. Cara ini banyak disenangi anak-anak sekolah dan mengurangi kendala tak punya uang kembalian.
YULIANTO ADI NUGROHO, Mojosari, Jawa Pos Radar Mojokerto
DARI bejibun pedagang pentol di Mojokerto, barangkali Tukino yang paling berbeda. Ada yang unik di gerobaknya. Di sana, dia menempelkan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) bagi pelanggan yang ingin membayar lewat dompet digital. Cukup menyodorkan handphone (HP) lalu scan QR Code, pentolnya bisa dibeli dengan nominal berapa pun. Tak perlu mengeluarkan uang tunai dari kantong, tak perlu repot menunggu kembalian.
Tukino mengatakan, ide menerapkan transaksi nontunai bermula tujuh bulan silam. Kala itu, dia disarankan pegawai bank tempatnya mengambil pinjaman agar mendaftar QRIS. ”Terus saya coba dan ternyata gampang,” ujarnya kemarin (7/5). Dengan menggunakan sistem ini, pelanggannya makin banyak pilihan. Mereka bisa tetap membayar seperti biasa pakai uang tunai atau menggunakan dompet digital.
Penggunaan transaksi nontunai yang merambah pelaku usaha kecil seperti Tukino ini merupakan fenomena unik. Mengingat masih jarang ada pedagang keliling yang akrab dengan sistem demikian. Boro-boro pasang QRIS, mengerti dompet digital saja mungkin tak semuanya. Hal ini juga diamini Tukino. ”Setahu saya belum ada pedagang pentol di sini yang pakai. Kalau di wilayah Surabaya sana sudah banyak,” tutur ayah satu anak tersebut.
Selama setengah tahun lebih, sistem yang diterapkannya banyak digemari pelanggan. Khususnya anak-anak sekolah di Kecamatan Mojosari tempatnya mangkal. Menurut dia, mereka lebih suka menggunakan transaksi nontunai. ”Yang banyak anak sekolah, kita juga melihat pelanggannya juga, kalau kira-kira sudah tua kan tidak mungkin kita tawari bayar pakai QRIS,” lontranya disambung tawa.
Dengan transaksi nontunai ini, sejumlah persoalan klasik teratasi. Yang paling kentara adalah ketika tidak punya kembalian. Saat-saat sulit harus menukar uang ketika pelanggan membayar dengan uang tunai nominal besar dan dirinya tak punya uang pecahan kecil kini banyak terkurangi. ”Niatnya memudahkan pelanggan saja. Apabila ada yang belinya sedikit, tapi uangnya besar jadi tidak perlu nyusuki,” tandasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah