Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menilik Sentra Produksi Rengginang di Kelurahan Sawahan Mojosari Mojokerto

Fendy Hermansyah • Rabu, 26 April 2023 | 16:02 WIB
TURUN TEMURUN: Umi dan sang suami menunjukkan aneka jenis rengginang yang sudah diproduksi selama tiga generasi. (Indah Oceananda/JPRM)
TURUN TEMURUN: Umi dan sang suami menunjukkan aneka jenis rengginang yang sudah diproduksi selama tiga generasi. (Indah Oceananda/JPRM)
Usaha Turun Temurun, Kini Tembus Pasar Hongkong

Selain terkenal dengan sejarah Mojopahit, Kabupaten Mojokerto juga memiliki ragam kuliner yang bisa dinikmati warga dari berbagai daerah. Salah satunya adalah rengginang yang diproduksi secara turun temurun di Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari.

INDAH OCEANANDA, Mojosari, Jawa Pos Radar Mojokerto

KELURAHAN ini memang patut dijuluki kampungnya perajin rengginang. Bagaimana tidak? Begitu menginjakkan kaki di wilayah tersebut, pendatang sudah disuguhi dengan pemandangan rak-rak bambu yang dipenuhi rengginang yang sedang dijemur.

Kurang lebih terdapat sebelas rumah yang setiap harinya memproduksi rengginang. ’’Mayoritas ibu-ibu yang membuat,’’ ujar Umi Mufidah, salah satu warga Gang 3 Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Perempuan 61 tahun ini mengaku, merupakan generasi ketiga yang menggeluti usaha pembuatan camilan berbahan dasar beras ketan ini. Usaha tersebut dirintis dari sang ibu sejak 1978 silam. Kemudian, usaha itu ia lanjutkan pada 1998.

Kini, giliran sang anak yang menekuni usahanya itu. ’’Usaha pembuatan rengginang ini turun temurun sudah lama. Saya meneruskan usaha ibu saya dulu, sekarang anak saya semua juga bikin rengginang,’’ sebutnya.

Usaha Umi tak pernah sepi meski pandemi Covid-19 melanda. Apalagi menjelang Ramadan dan Idul Fitri, permintaan rengginang justru meningkat. Terutama permintaan dari warga perantauan yang rindu pada makanan khas pedesaan tersebut.

Dia menyebutkan, setiap bulan bisa mengirim rengginang sebanyak dua ribu bungkus ke Hongkong. ’’Iya lumayan ada peningkatan. Sekarang masih terus melayani pesanan dari berbagai daerah, termasuk kirim ke Hongkong juga,’’ terang ibu dua anak ini.

Rengginang merek Moroseneng rintisan sang ibu, lanjutnya, mempelopori rengginang dengan bentuk kemasan lebih kecil. Semenjak itu, pesanan pun semakin meroket. Pada 2000, Umi mulai memproduksi rengginang aneka rasa seperti rengginang manis jahe, rengginang rasa udang, rengginang manis ijen. ’’Dulu ukuran rengginang itu besar. Setelah ada inovasi produksi di tahun 2000, kita produksi lebih kecil dan menarik pemesanan semakin meningkat,’’ ujarnya.

Untuk yang dikirim ke Hongkong, Umi mengungkapkan rata-rata bisa menghabiskan 500 kilogram sekali produksi. Sedang untuk produksi lokal, dia menghabiskan sekitar 150 kg setiap hari. Produknya sendiri juga sudah dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Timur dan pasaran online. ’’Dulu produk kami juga ada di tempat-tempat wisata. Karena ada pandemi, jadi penjualan juga merambah ke lapak online,’’ terangnya.

Karena banyaknya jumlah pesanan, Umi dibantu 10 warga sekitar untuk memproduksi rengginang. Dia juga ingin membantu perekonomian warga melalui pemberdayaan perempuan. Untuk harga, Umi mematok harga rengginang sebesar Rp 8 ribu per kotak dengan isi 16 rengginang mentah. ’’Kita juga menyiapkan rengginang mentah yang bisa digoreng sendiri di rumah,’’ tandasnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah
#kampung #kabupaten mojokerto #Majapahit #panganan #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #kerajaan majapahit #rengginang #Kota Mojokerto #mojokerto #kuliner lokal #soekarno #trowulan #onde-onde