Jasa penukaran uang baru selalu dibutuhkan menjelang Lebaran. Jasa ini tak hanya berkaitan dengan kebutuhan untuk menyiapkan angpao Lebaran. Namun juga menjadi sumber mencari rezeki bagi penyedia jasa.
INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto
IDUL Fitri memang tak bisa dipisahkan dengan tradisi halalbihalal atau saling memaafkan. Kegiatan ini biasanya disertai dengan tradisi bertamu atau silaturahmi ke rumah-rumah. Baik antartetangga atau antarkeluarga.
Bagi anak kecil, tradisi ini juga berarti mendapat uang atau angpao Lebaran. Tidak heran, kebanyakan orang dewasa selalu menyiapkan uang pecahan untuk memberikan angpao Lebaran. Bahkan, bank swasta dan BUMN pun menyediakan jasa penukaran uang pecahan kertas atau biasa disebut uang baru setiap Ramadan. Di samping itu, sebagian orang atau pihak juga membuka jasa penukaran uang baru selama Ramadan. Mulai yang paling kecil pecahan Rp 1.000 sampai Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu.
Di Kota Onde-onde, jasa penukaran uang baru mulai bermunculan. Salah satunya di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Kota Mojokerto. Angel, salah satu penyedia jasa itu mengaku sudah enam tahun menyediakan jasa penukaran uang baru menjelang Idul Fitri. Bahkan, sejak Ramadan hari pertama dia mulai membuka jasa penukaran uang itu. ”Sudah enam tahunan saya menyediakan jasa penukaran uang baru. Tiap tahun tempatnya memang di sini. Biasa buka pukul 08.00 sampai pukul 19.00 malam,” terangnya saat ditemui di lokasi.
Warga Kecamatan Sooko itu menilai, setiap tahun antusiasme masyarakat memanfaatkan jasa penukaran uang baru masih tinggi. Terbukti, tiap tahun ada saja yang menukar uang baru. ”Kerja gini (jasa penukaran uang) untuk mencari tambahan pemasukan. Lumayan buat beli susu, karena kalau di luar bulan puasa hanya ibu rumah tangga,” terang ibu satu anak itu.
Meskipun sebenarnya, diakui Angel untung yang didapatnya tidak banyak. Untuk setiap penukaran uang baru senilai Rp 100 ribu, dia hanya mendapat untung Rp 3 ribu dari agennya di Surabaya. ”Di sana (Surabaya) biaya jasa penukaran uang beda-beda. Untuk penukaran uang baru dengan nilai Rp 100 ribu, jasanya Rp 7 ribu. Bebas ditukar dengan uang pecahan berapa saja. Kalau jasa saya dapat Rp 3 ribu. Jadi, totalnya Rp 10 ribu,” terangnya.
Namun, ada pengecualian untuk penukaran uang pecahan Rp 75 ribu. Jasa yang dikenakan seharga Rp 15 ribu untuk penukaran uang pecahan Rp 75 ribu per lembarnya. ”Memang berbeda. Sebab, cukup sulit mendapat uang pecahan Rp 75 ribu. Tapi, untung saya tetap Rp 3 ribu,” terangnya.
Menurut Angel, sejauh ini, uang pecahan yang banyak dicari yaitu Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu. Karena itu, dia menyiapkan stok uang pecahan Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu lebih banyak dari yang lain. Perempuan itu enggan menyebut total nilai uang baru yang ditukarnya dari agen. Hanya saat penukaran pertama, dia sudah menyediakan Rp 35 juta. ”Dari persediaan segitu, lumayan sudah dapat untung sekitar Rp 700 ribu,” sebut dia.
Di lokasi yang sama, Rohman juga menyediakan jasa penukaran uang baru setiap Ramadan tiba. Di luar Ramadan, dia hanya menjual masker dan kacamata di depan Pasar Tanjung Anyar. Pria 54 tahun tersebut sudah menekuni jasa ini beberapa tahun terakhir. Tepatnya, dua tahun terakhir saat pandemi Covid-19 terjadi. “Mulainya ya pas pandemi itu, peminatnya memang berkurang. Sebab, kan ada larangan mudik. Tapi ya tetap saja ada,” tuturnya.
Karena peminatnya berkurang, tahun lalu Rohman menyisakan uang pecahan sebesar Rp 27 juta. Dia mengaku, ada keuntungan sekitar Rp 540 ribu yang menguap. Rohman pun merugi. Sebab, untuk mendapat uang pecahan itu, dia juga harus membayar ke agennya. ”Ya, insyaallah tahun ini sudah mulai normal. Nggak rugi lagi kayak waktu korona kemarin,” pungkasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah