Meski sudah berdiri puluhan tahun, kerajinan bambu Mandarinur yang terletak di Kota Mojokerto ini masih terbilang eksis. Namun, keberadaannya kini terancam redup lantaran minim generasi penerus.
INDAH OCEANANDA, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto
DI usianya yang tak lagi muda, Hadi Waluyo masih mencoba terus produktif. Warga Lingkungan Penarip, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini masih aktif mengolah bambu menjadi karya seni bernilai jual. ’’Usia segini ya diisi dengan menganyam bambu. Ambil bahannya dari Desa Karangkuten, Kecamatan Gondang,’’ ujar pria 78 tahun ini.
Saat ditemui di kediamannya, Hadi, panggilan akrabnya tengah menuntaskan struktur lampu hias berbentuk tabung yang dirangkai dari bambu. Kerajinan lampu hias itu pesanan dari salah satu toko suvenir retail besar asal Yogyakarta. ’’Sekarang masih tetap ngerjakan pesanan. Cuma nggak sebanyak dulu,’’ beber pensiunan PNS Dinas Perindustrian Mojokerto ini.
Kakek empat cucu ini menyebut, selain lampu hias, usaha yang didirikannya sejak tahun 1990 ini sempat memproduksi aneka kerajinan lain. Mulai tempat tisu, tempat jam, keranjang buah dan lainnya. Sejumlah produk tersebut hingga kini masih tersimpan rapi di salah satu ruangan kamar.
Jika diihat secara kasat mata, hasil produk milik Hadi memang halus dan apik. ’’Kalau sekarang fokusnya ngerjakan permintaan lampu hias. Karena yang di Yogyakarta sama daerah Trawas, Pacet sudah jadi langganan. Untuk jenis kerajinan lain sudah ndak buat,’’ paparnya.
Hadi bercerita, keterampilannya menganyam bambu didapat dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta sekitar tahun 60-an. Meski dulunya banyak keterampilan yang diajarkan, ia mengaku sangat tertarik dengan kerajinan bambu. ’’Nggak tahu, rasanya kok indah saja melihat anyaman bambu. Jadi tertarik,’’ ulas pria tamatan SMSR jurusan keramik ini.
Hadi menuturkan, usaha kerajinan bambu miliknya itu kerap kebanjiran pesanan sejak pertama kali berdiri. Bahkan, dia sempat mempekerjakan delapan warga untuk membantu proses pembuatan kerajinan bambunya pada 2011 silam. ’’Namun, saat pandemi pemesanan mulai minim. Akhirnya mereka (pekerja, Red) juga satu per satu keluar, padahal sudah dilatih tapi nggak ada yang telaten,’’ beber pria asli Sleman, Yogyakarta tersebut.
Susahnya memproduksi kerajinan anyaman bambu, menjadi alasan Hadi tidak lagi memiliki penerus usahanya. Sebenarnya, anak pertamanya juga menekuni kerajinan bambu. Namun, di tahun 2019 lalu, anak sulungnya meninggal dunia. ’’Ingin saya dia jadi penerus. Mengisi produk bambu di Yogyakarta. Karena dia kebetulan tinggal di sana. Tapi, kehendak Allah, dia sudah berpulang duluan,’’ imbuhnya.
Hadi berharap, ke depannya masih ada masyarakat yang mau menekuni kerajinan bambu miliknya. Bahkan, dia siap melatih warga sekitar agar produk kerajinan bambu tetap bisa diproduksi dan dilestarikan. ’’Kadang kalau ada pameran, ya bisanya saya cuma titip barang. Tapi kalau mau belajar ya monggo saja, saya pengen-nya ada anak muda yang telaten buat kerajinan seperti ini,’’ tandasnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah