Pasangan Fungki Budipramono, 36 dan Zuraida Ulfa, 35 berhasil membujuk anaknya untuk mengonsumsi sayur-sayuran. Uniknya, tanaman kaya serat itu diolah menjadi jus yang dikombinasikan dengan buah-buahan. Kini, minuman sehat itu juga dikembangkan menjadi bisnis oleh warga asal Kelurahan Wates ini.
RIZAL AMRULLOH, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto
IBU dua anak ini menceritakan sulitnya merayu buah hatinya agar mengonsumsi sayur. Berbagai cara pun dilakukan agar gizi dari kedua putranya bisa tetap terpenuhi. ”Kalau ada makanan yang terdapat sayuran itu disisihkan,” terangnya mengawali pembicaraan di rumahnya di Jalan Banjar Anyar, Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.
Akhirnya, Zuraida pun menemukan cara ampuh dengan berinisiatif mengolah sayuran dalam bentuk minuman. Aneka sayur hasil budi daya melalui sistem hidoponik di rumahnya dikreasikan menjadi jus.
Untuk menghilangkan aroma khas sayuran, perempuan berhijab ini juga mengkolaborasikan dengan buah-buahan. Sebagai pengganti gula, bahan pemanis diberikan dengan madu secukupnya. ”Anak-anak yang awalnya nggak suka sayur, akhirnya mulai doyan,” ulasnya.
Olahan menu tersebut kemudian digetoktularkan ke teman-temannya yang anaknya mengalami problem enggan makan sayur. Minuman hidroponik tersebut ternyata juga ampuh untuk menyiasati anak untuk mengkonsumsi sayuran. ”Karena jus itu cara enak makan sayuran,” tandasnya.
Zufaida akhirnya mendapat banyak jasa pesanan untuk membuatkan jus sayur dari teman-temannya. Hal itu yang kemudian mendorong perempuan yang juga berprofesi di bidang farmasi ini untuk mengembangkannya menjadi bisnis rumahan.
Setelah dua tahun berjalan, Zufaida kini telah memiliki puluhan pelanggan tetap. Setidaknya, setiap pekan dia melayani pesanan tetap kepada 55 konsumen. Itu pun belum dari pelanggan harian yang pesan rutin berkisar 15-20 orang. ”Beberapa saya jual ke teman-teman melalui WA (WhatsApp),” imbuhnya.
Dibantu suaminya, Fungki Budipramono, pemasaran masih dilakukan di tingkat lokal Kota Mojokerto. Satu botol ukuran 250 mililiter, jus sayur organik dibanderol Rp 8 ribu. Variannya kini juga makin beragam jenis kombinasi sayur dan buah.
Sayur hidroponik terdiri dari jenis pakcoy, seledri, samhong, hingga bayam Brazil. Sayuran tersebut dikombinasikan dengan aneka buah-buahan segar seperti nanas, pir, pisang, dan sirsak.
Fungki menceritakan, setidaknya dia harus melakukan tiga kali trial untuk menemukan kombinasi sayur dan buah yang tepat di lidah. ”Awalnya saat PPKM 2021 kami trial sambil dikasihkan ke orang dan saudara kurangnya apa. Akhirnya baru bisa menemukan komposisi yang pas,” sambungnya.
Hanya saja, produksinya hingga saat ini masih terbatas. Sebab, jelas dia, masa tanam sayur hidroponik hingga memasuki usia siap panen membutuhkan waktu 28-30 hari. ”Karena itu stok juga memang nggak bisa banyak karena terbatas bahan,” ulasnya.
Selain masyarakat umum, tak sedikit pelanggan yang datang dari kalangan tenaga kesehatan. Selain dinikmati sebagai minuman segar, jus hidroponik juga dimanfaatkan sebagai program diet sehat. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah