Identitas barongsai sebagai kesenian khusus etnis Tionghoa, sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Sebagai satu-satunya grup kesenian yang eksis di Kota Mojokerto, Young Lion kian diminati pemuda lintas etnis dan agama.
FARISMA ROMAWAN, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto
BARONGSAI identik sebagai tradisi khusus masyarakat Tionghoa. Namun, sejak konghucu ditetapkan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai agama dan aliran kepercayaan di Indonesia pada 2000, tarian singa tersebut semakin digemari seluruh masyarakat. Tak terkecuali di Kota Mojokerto. Tak sekadar dinikmati, kesenian ini mulai banyak digeluti masyarakat dari beragam etnis dan agama.
Termasuk grup kesenian Young Lion Mojokerto yang bertempat di yayasan Podo Langgeng, jalan Yos Sudarso, Kota Mojokerto. Berisikan 35 anggota, komunitas yang berdiri sejak tahun 2017 ini ternyata diikuti mayoritas pemuda dari etnis jawa dan beragama mayoritas muslim. Mereka terdiri dari 5 pasang (10 orang) pemain barongsai, 6 orang pemain musik, 9 orang pemain naga, dan sisanya cadangan.
Personel kelompok ini juga warga Kota Mojokerto yang berdomisili di Kelurahan Purwotengah, Mentikan, dan Meri. ’’Justru anak-anak ini mayoritas muslim dan etnis jawa. Meskipun juga ada beberapa yang Tionghoa dan nonmuslim. Sebagian besar usianya antara 15 sampai 18 tahun atau pelajar SMP sampai SMA sederajat,’’ ujar koordinator Young Lion Mojokerto, Albert Gunardi kemarin.
Albert memang tidak membatasi siapa pun yang ingin bergabung dan belajar berkesenian barongsai. Tak sekadar belajar, Albert juga turut memberikan ruang untuk show bagi mereka yang sudah mahir. ’’Sudah ada 7 booking-an show yang meminati kami. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo dan di Kota Mojokerto sendiri,’’ tandasnya.
Untuk budget sekali show, Albert tak mematok harga tinggi. Hanya antara Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta. Dengan pendapatan itu, maka ia mampu memberikan sedikit uang tambahan sebagai hasil jerih payah anak asuhnya. Termasuk juga untuk operasional rutin dan pengembangan komunitasnya.
’’R ata-rata anak-anak ini tertarik karena unsur seninya. Jadi apapun kondisinya tetap loyal latihan, bukan karena insentifnya,’’ tambah pria asal Kelurahan Gedongan, Kecamatan Magersari ini. Albert berharap, ke depan barongsai tidak hanya eksis sebagai kesenian dan hiburan belaka. Tapi juga menjadi aktivitas olahraga layaknya marching band atau silat. Bahkan di tingkat pusat, Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) telah resmi berdiri. Sehingga perlu diteruskan di daerah, termasuk Kota Mojokerto sebagai induk organisasi yang sah.
’’Di Kota Mojokerto sendiri sedang kami urus untuk menjadi Pengkot FOBI Mojokerto. Sekarang masih dalam proses pemberkasan untuk diajukan ke KONI Kota Mojokerto,’’ pungkasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah