Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Keuletan Fajar Setiawan Warga Sooko Mojokerto Rangkai Layang-Layang Naga

Fendy Hermansyah • Rabu, 18 Januari 2023 | 16:36 WIB
TELATEN: Fajar, 20, saat tengah  melanjutkan pembuatan kerajinan layangan naganya yang belum rampung, kemarin. (Martda Vadetya/JPRM)
TELATEN: Fajar, 20, saat tengah melanjutkan pembuatan kerajinan layangan naganya yang belum rampung, kemarin. (Martda Vadetya/JPRM)
Pembuatan Rumit, Semua Harus Presisi agar Tetap Stabil

Sejak 2020, Fajar Setiawan telaten membuat layang-layang naga. Dari tangan kreatifnya tersebut, ia telah merangkai puluhan layang-layang yang identik dengan ukuran jumbo tersebut. Keuletan diperoleh secara otodidak dari YouTube saat memanfaatkan waktu luang di masa pandemi Covid-19 lalu.

MARTDA VADETYA, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

PAGI itu, Fajar tengah menata sejumlah koleksi layangannya. Mulai dari layangan hias sawangan, bentuk ikan, maupun naga. Pemuda 20 tahun tersebut mengaku suka membuat layangan hias sejak duduk kelas VI. Namun, seiring berjalannya waktu, pria kelahiran September 2002 tersebut mulai terpikat membuat layangan naga sejak dua tahun lalu. ”Kalau layangan naga ini baru 2020 sejak pandemi Covid-19. Setelah lihat kanal Youtube dari Jogja itu akhirnya belajar bikin sendiri,” ungkapnya.

Selama dua tahun terakhir, ia sudah mewujudkan puluhan layangan naga. Layang-layang buatannya terdiri dari berbagai jenis. Dilihat dari ukuran, corak maupun motif layangan.

Sejauh ini, karyawan pabrik paku di wilayah Jetis itu sudah membuat berbagai ukuran. Mulai dari ukuran paling pendek sekitar 10 meter hingga terpanjang hampir mencapai 100 meter tersebut. ”Bahkan untuk (perlombaan) festival layangan itu panjangnya bisa sampai 200 meter. Kalau saya, paling panjang bikin 90 meter tadi. Harganya sekitar Rp 3 juta,” terangnya.

Dibanderol dengan harga relatif mahal, lantaran Fajar mesti melalui proses perangkaian yang rumit. Mulai dari mendatangkan bahan baku khusus untuk kepala naga maupun merakit tali rangka yang menyambungkan kepala hingga ekor naga. ”Bahan kepala naga ini dari kain peles, kerangka stainles dan bambu, sampai spon kulkas. Soalnya (spon kulkas) lebih tahan lama.

Yang paling vital ada di bagian tali rangkanya. Semua harus presisi. Melenceng satu centimeter saja, langsung layangannya tidak stabil,” ujar anak ketiga dari tiga bersaudara tersebut.

Lebih lanjut, kata Fajar, hasil kerajinan nya tersebut laku di sejumlah daerah tetangga. Mulai dari wilayah Mojokerto Raya, Sidoarjo, Surabaya, maupun Jombang. ”Proses buatnya bisa sampai dua bulan. Tergantung ukuran dan yang bantu. Apalagi sekarang saya sudah kerja. Biasanya yang bantu buat ya kakak saya,” katanya.

Meski begitu, melalui proses pembuatan yang panjang, kata Fajar, tidak mengurangi kegemarannya menerbangkan naga imitasi tersebut. Kegemarannya menerbangkan layangan naga sekitar dua tahun lalu itu, membuat Fajar ditunjuk jadi salah satu pendiri Komunitas Layang-Layang Armor Team. Saat ini, komunitas itu sudah 21 anggota.

”Biasanya main di Rejoto, setiap Sabtu dan Minggu. Mungkin ada sekitar dua sampai lima layangan. Satu layangan biasanya diterbangkan sampai lima orang buat mbeber ekornya itu,” tukas Alumnus SMK PGRI Kota Mojokerto itu. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#perajin mojokerto #kabupaten mojokerto #Majapahit #Mojopahit #kerajaan majapahit #layang-layang #perajin layang-layang #Kota Mojokerto #layang-layang naga #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde