Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Rama Gea Andaya, Perajin dan Pemain Barongan Muda asal Gedeg Mojokerto

Fendy Hermansyah • Kamis, 12 Januari 2023 | 12:10 WIB
BUATAN TANGAN: Rama Gea Andaya, 18, tengah mengecat salah satu jamang buatannya di rumahnya, di Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
BUATAN TANGAN: Rama Gea Andaya, 18, tengah mengecat salah satu jamang buatannya di rumahnya, di Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
Bikin Topeng Sejak Usia 11 Tahun, Produknya Laku hingga Luar Negeri

Usianya belum genap 19 tahun. Namun, pemuda asal Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ini sudah malang melintang di dunia kesenian Jaranan Kediri maupun barongan. Bahkan, topeng barongan karyanya sudah dikenal hingga mancanegara.

MARTDA VADETYA, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto

SIANG itu, ruang tamu rumah Gea, sapaan Rama Gea Andaya, dipenuhi alat produksi topeng barongan. Ya, saat itu dia tengah menggarap pesanan topeng barongan atribut khas kesenian Jaranan Kediri. Pemuda ini mengaku, selepas kebijakan PPKM pandemi Covid -19 diperlonggar hingga dicabut, ia terus kebanjiran order. Bahkan, Gea harus menolak pesanan lantaran panjangnya antrean pembuatan topeng berbahan utama kayu pohon waru dan kulit sapi tersebut.

”Rata-rata sebulan itu ada empat pesanan, sering juga lebih. Jadi, kalau nggak sanggup saya tolak atau limpahkan ke teman-teman perajin lainnya,” terang pria kelahiran Maret 2004 itu.

Hal itu karena kesibukannya yang makin padat. Gea mesti menyisakan waktu di antara kesibukannya kuliah dan jadwal pementasannya sebagai penari Jaranan Kediri. ”Setelah masa-masa suram pandemi (2020-2021) itu sekarang pentas mulai banyak. Sebulan bisa sampai delapan sembilan kali pentas,” tambah mahasiswa semester satu LP3I Sidoarjo itu.

Karyanya diburu para pecinta budaya lantaran dinilai punya sejumlah pembeda ketimbang topeng barongan karya perajin lain. Mulai dari detil motif tatahan dan pewarnaan yang tajam pada kepala dan jamang topeng. Lantaran mengutamakan kualitas dan detil topeng, dalam sebulan kini Gea hanya mampu menuntaskan satu topeng. ”Jadi, sekarang, sebulan itu ada satu topeng yang selesai. Tiga atau beberapa pesanan lain ya baru selesai sebagian saja,” katanya.

Sejauh ini, ada dua jenis topeng yang biasa dibuat. Yakni topeng barongan (Prabu Simo Barong) yang dibanderol Rp 3,5 juta–Rp 4 Juta dan topeng kucingan (Prabu Singo Kumbang) seharga Rp 2,5 juta–Rp 3 juta.

Photo
Photo
WARISAN BUDAYA: Rama Gea Andaya, 18, di antara sejumlah topeng barongan buatannya di workshop sekaligus rumahnya di Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Selain dari mulut ke mulut, karyanya dikenal melalui sejumlah akun media sosialnya. Mulai dari facebook, instagram, youtube hingga tiktok. Tak pelak, Gea kerap menerima pesanan dari sejumlah wilayah di penjuru negeri. Mulai dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan, topeng karyanya dikenal hingga Singapura.
”Pernah juga dapat pesanan dari Malaysia, tapi saya tolak. Soalnya waktu itu lagi ramai Malaysia meng-klaim Reog Ponoro jadi budayanya. Saya nggak terima lah, jadi saya tolak,” bebernya.

Gea menceritakan, dirinya mulai mengenal kesenian Jaranan Kediri tersebut sejak duduk di kelas V SD. Itu setelah ia kerap melihat mendiang sang kakek mementaskan kesenian khas Jawa Timur tersebut. Hingga akhirnya ia mendirikan Abhyaksa Crew dari Paguyuban Jaranan Fajar Budoyo Original di Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg.

”Kelas V SD itu sudah belajar bikin topeng dari kayu randu, kardus, sama styrofoam. Setelah bisa, diajari kakek, akhirnya bikin dari kayu waru. Karena sering main jaranan bareng teman-teman, ternyata banyak yang minat buat dibikinkan. Akhirnya keterusan sampai sekarang,” paparnya.

Selain uri-uri budaya, Gea mengaku menggeluti salah satu warisan budaya tersebut hingga kini lantaran kepincut akan keunikan seni Jaranan Kediri sejak kecil. Dan prihatin akan semakin tergerusnya budaya asli Jawa tersebut akan budaya asing yang menyasar kawula muda saat ini. ”Selain (karena) dari keluarga sendiri, sekarang semakin prihatin lihat budaya kita semakin ditinggalkan. Sekarang kalau bukan kita (generasi muda) yang meneruskan, siapa lagi? kan kita tinggal nerusin saja, nggak berjuang seperti leluhur kita dulu,” tandasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#perajin mojokerto #kabupaten mojokerto #Majapahit #Mojopahit #feature #boks #pemain barongan #kerajaan majapahit #Gedeg #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde