Kian berkembangnya teknologi industri, tak membuat eksistensi kerajinan kain tenun tergusur. Sebagai satu-satunya kerajian kain manual di Kota Mojokerto, Faris Abdat justru semakin getol dan konsisten mengembangkan usaha tenun sarung warisan kakeknya tersebut.
FARISMA ROMAWAN, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto
TAK tampak seperti industri tekstil yang nyaring terdengar suara deru mesin. Rumah di Jalan Pemuda, Kelurahan Gedongan, Kecamatan Magersari Kota Mojokerto ini begitu sepi layaknya rumah biasa. Di depan, hanya terlihat sebuah toko perlengkapan oleh-oleh haji yang juga tak seberapa ramai dikunjungi pembeli.
Akan tetapi, setelah melangkah beberapa bagian ke dalam, barulah terlihat kesibukan sejumlah orang-orang paro baya. Apalagi ketika sudah merangsek di bagian paling belakang. Begitu terlihat jelas di depan mata bagaimana produksi sarung tenun ikat itu beroperasi.
Rumah yang dihuni keluarga Faris Abdat ini ternyata menjadi tempat usaha kerajinan sarung tenun yang berdiri sejak tahun 1986 silam. ’’Ini dulu usaha kakek, diterusin sama abah, kemudian saya. Kalau dihitung sampai sekarang, berarti sudah ada 37 tahun berdiri,’’ ujar Faris mengawali percakapan.
Di ruang produksi sarung tenun itu, Faris memang serius dalam memantau setiap pekerja dalam merangkai sehelai demi helai benang hingga menjadi kain. Terlihat ada 3 hingga 5 alat tenun manual bekerja cepat di bawah kendali tangan ibu-ibu berdaster yang begitu cekatan.
Termasuk sejumlah pekerja lain yang turut sibuk memilah, memberikan warna, mengelos, mengikat hingga merangkai benang sebelum ditenun. Hingga pada akhirnya menjahit untuk dibentuk menjadi sarung sebelum di-packing dan diedarkan.
’’Semua pekerjaan menggunakan tangan semua atau manual. Kecuali hanya menjahit kain menjadi sarung yang sudah menggunakan mesin listrik,’’ tegas pria 36 tahun tersebut. Sebagai pewaris, Faris tak memungkiri jika persaingan produksi sarung tenun ke depan akan semakin sengit.
Apalagi, hampir semua produk sarung semuanya sudah berevolusi menjadi industri tekstil. Sehingga secara kuantitas, jumlah sarung kini semakin melimpah dan variatif. Meski begitu, anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku tak gentar dengan ancaman tersebut.
Justru dengan cara tenun manual itu, dirinya mampu menawarkan harga lebih mahal dari kain sarung produksi pabrik. Baginya, kualitas dan konsistensi menjadi kunci utama produksi sarung tenunnya masih diminati. ’’Saya bisa menawarkan sarung terendah Rp 150 ribu dan tertinggi seharga Rp 450 ribu per pcs karena semuanya adalah handmade. Dengan kerja tangan, maka ketelitian, ketelatenan, dan istiqamah menjadi lebih dinilai dari pada buatan pabrik,’’ tandasnya.
Untuk pasar, Faris mengaku punya sasaran tersendiri, baik secara lokasi maupun konsumennya. Yakni kaum santri hingga jamaah haji yang paling banyak meminati. Sebagian besar mereka berasal dari daerah Jawa Tengah dan Timur Tengah.
’’Paling banyak dari daerah Jawa Tengah seperti Solo atau Magelang. Apalagi ketika waktu lebaran Idul Fitri, Lebaran Haji, atau ketika santri mulai masuk pondok, biasanya pesanan sangat banyak,’’ tambahnya. Dalam sehari, ia bisa memproduksi maksimal hingga 20-25 pcs sarung.
Dengan jumlah itu, Faris masih bisa mendapatkan untung bersih sebesar Rp 20 juta. Pihaknya juga berharap, ke depan aktivitas usaha tenun masih bisa eksis dengan dibukanya kesempatan pemasaran dan tidak lagi dibatasi oleh aturan seperti kala Pandemi Covid-19. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah