INDAH OCEANANDA, Prajurit Kulon, Jawa Pos Radar Mojokerto
Ditemui di ruko usahanya, Jalan Suromulang, Kelurahan Surodinawan, terpampang rak sederhana dipadati bahan produksi buket sekaligus hantaran. Dia pun tampak sibuk menuntaskan pesanan. Jarinya juga terampil menyusun hiasan agar tampak indah. Sesekali pernak-pernik dicopot, dipindah ke sisi lainnya. Itu demi hasil yang memuaskan. ”Saya baru mulai usaha saat pandemi ini. Kira-kira ya 1,5 tahun,” ujarnya mengawali percakapan.
Ibu empat anak ini menceritakan, keahliannya merangkai buket maupun hantaran, sudah berlangsung sejak duduk di bangku kuliah. Saat itu, dia kerap menerima jasa pembungkusan kado atau hantaran untuk teman-teman kampusnya. ”Waktu itu masih kecil-kecilan aja, buat ngisi waktu senggang dan jadi hobi,” beber warga asli Desa Mlirip, Kecamatan Jetis tersebut.
Meski sudah menikah, dia masih rutin dihubungi temannya untuk membungkus kado atau sekadar membuat paket hantaran. Namun, permintaan itu semakin melonjak saat pandemi Covid-19 melanda. Sebab, jasa pengiriman hadiah justru laku keras kala itu. ”Pemasarannya dari mulut ke mulut, malah saya juga nggak nyangka kok ramai. Ya, akhirnya saya fokus mulai usaha buket ini sama hantaran dengan buka ruko di sini,” imbuh Lilik.
Diakuinya, pembuatan buket maupun hantaran juga membutuhkan kesabaran. Sebab, banyak model yang perlu dipelajari. Estimasi waktu yang dibutuhkan saat proses produksi sekitar 15 menit hingga 1 jam.
Ciri khas produk Lilik yakni, penambahan aksesori sederhana namun berkesan mewah. ”Paling sering pakai tanaman kering yang ditemuin di jalan, nanti dirangkai sendiri sesuai kreasi,” ucap wanita 37 tahun ini.
Dia menambahkan, tak sedikit perajin yang menekuni bisnis hadiah berbahan baku kertas hias ini. Jumlahnya pun terlampau banyak jika dicari di media sosial. Salah satu upaya untuk tetap menuai hasil manis, yakni terus berinovasi menyusun model baru. Ini merupakan kiat yang dia terapkan tiap waktu. ”Model-modelnya cukup menantang. Karena banyak banget. Orang gampang bosan, nah kita harus pintar cari referensi,” terangnya.
Lilik mengaku, pesanan mulai membanjir saat perayaan hari besar atau wisuda, dari lokal maupun luar kota. Praktis, momen itu menjadi kesempatan meraup cuan. Bahkan, saking ramainya permintaan, tak jarang ia menolak permintaan dari pembeli. ”Kalau menolak ya sering. Karena sehari bisa menggarap sampai 40 pesanan lebih, jadi kalau telanjur banyak ya mau nggak mau nolak,” ulas dia.
Disebutkannya, harga buket maupun hantaran bervariasi, tergantung tingkat kerumitan. Mulai dari Rp 10 ribu hingga menyesuaikan model dan bahan yang diperlukan. Melalui bisnis modern ini, dia bisa meraih omzet Rp 3-4 juta per bulan. Terlebih saat momen Hari Ibu saat ini, Lilik mengaku kerap kebanjiran pesanan dari kalangan pelajar.
Sebab, mereka biasanya berburu buket paket hemat. Yakni dengan custom Rp 10 ribu. ’’Kadang memang capek, tapi kalau capeknya karena hobi, rasanya malah senang. Makanya sekarang fokus mau mengembangkan bisnis ini terus,” tandasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah