Makam Tujuh menjadi salah satu jujukan para peziarah di kompleks Makam Islam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Dalam tradisi lisan, situs yang berada di tengah-tengah pemakaman umum ini merupakan bekas tempat musyawarah para wali. Versi lain menyebut Makam Tujuh sebagai bukti pengaruh Islam pada era Kerajaan Majapahit.
YULIANTO ADI NUGROHO, Trowulan, Jawa Pos Radar Mojokerto
Malam itu, Kamis (8/12), hilir mudik peziarah tak ada habisnya. Mereka khusyuk berzikir di hadapan tujuh nisan di area Makam Tujuh Troloyo. Untuk sampai di situs ini, pengunjung cukup berjalan ke area belakang kompleks Makam Islam Troloyo yang terkenal itu.
Berjarak sekitar 300 meter dari pintu masuk makam umum Desa Sentonorejo, pengunjung bisa mengikuti jalan setapak di antara makam-makam warga. Situs Makam Tujuh berupa area bertembok setinggi setengah badan. Di dalamnya, terdapat tujuh makam membujur utara dan selatan lazimnya makam Islam.
Makam Tujuh termasuk spesial lantaran berbahan dari batu andesit. Pada nisannya, terdapat guratan tahun saka, lafal syahadat, dan lambang menyerupai Surya Majapahit. Secara masehi tahun itu menunjukkan abad 13-15. Di nisan sisi lainnya, terukir kaligrafi tauhid. Tidak tertulis nama sosok yang dikubur di tujuh makam tersebut.
Berdasarkan tradisi lisan masyarakat, makam tujuh merupakan kuburan tujuh resi dan patih era Majapahit. Mereka adalah Pangeran Noto Suryo, Patih Noto Kusumo, Gajah Permodo, Naya Genggong, Sabda Palon, Emban Kinasih, dan Polo Putro. ”Makam Tujuh ini tempat sesepuh-sesepuh di era Majapahit termasuk resi tujuh,” kata Surya Alam, peziarah sekaligus pendiri Padepokan Sambung Roso Mojopahit.
Menurut dia, Makam Tujuh diabadikan sebagai jejak para leluruh yang berpengaruh pada zaman Kerajaan Majapahit. Mereka merupakan penasehat raja dalam menelurkan kebijakan. ”Mereka adalah sesepuh yang memberi pertimbangan baik buruknya perintah raja,” ujarnya. Dalam pandangannya, Makam Tujuh adalah petilasan. Pada era kejayaan Majapahit belum ada tradisi pemakaman.
Hal serupa juga diungkapkan Agus. Warga Desa Sentonorejo ini menyebut, Makam Tujuh merupakan petilasan. Namun demikian, dari cerita yang berkembang di tengah masyarakat setempat, makam ini diyakini sebagai bekas tempat para wali yang menyebarkan Islam pada zaman Majapahit. Kawasan yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh BPCB Jatim itu dipercaya merupakan tempat bermusyawarah.
”Jadi para wali dulu waktu ngawulo ke Majapahit kalau ada masalah bermusyawarahnya di Makam Tujuh itu. Di situ termasuk Raden Ontowiryo, Sunan Kalijaga, di situ,” terangnya. Kebenaran akan Makam Tujuh menjadi keyakinan masing-masing peziarah. Yang jelas, mereka datang untuk berdoa kepada tuhan dan dengan niat menghormati leluruh serta tradisi sejarah.
Agus mengungkapkan, yang perlu diingat, makam wali memang sengaja dikaburkan. Para penyebar agama Islam itu diklaim dimakamkan di berbagai tempat. Hal ini dilakukan supaya tidak menjadi tempat jujukan sehingga menimbulkan sifat syirik.
Di samping Makam Tujuh, di area makam umum Desa Sentonorejo terdapat Makam Ratu Ayu Kencana Wungu dan Raden Ayu Anjasmara. Nisan membujur timur ke barat yang dilindungi bangunan bertembok ungu ini dipercaya sebagai petilasan pemimpin Kerajaan Majapahit.
Surya Alam bersama rombongan mengaku kerap berkunjung ke Makam Kencana Wungu. Selain sudah jadi tradisi, mereka ingin menapaktilas dan mendoakan para leluhur. ”Seperti terpanggil untuk datang ke sana. Ketika di dalam makam, saya bisa merasakan aura yang berbeda," Ida Rofi, anggota rombongan yang berasal dari Sidoarjo. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah