Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Keuletan Farit Febrianto, Perajin Boneka Bekas Kota Mojokerto

Fendy Hermansyah • Kamis, 8 Desember 2022 | 16:22 WIB
KREATIF: Dwi Indah Cahyani menunjukkan sejumlah produk suvenir buatannya yang banyak dipesan pelanggan dari berbagai daerah. (Indah Oceananda/JPRM)
KREATIF: Dwi Indah Cahyani menunjukkan sejumlah produk suvenir buatannya yang banyak dipesan pelanggan dari berbagai daerah. (Indah Oceananda/JPRM)
Berburu ke Pengepul Rosokan, Dipermak Jadi Horor

Menjadi pengusaha memang tidak selalu harus bermodal besar. Seperti yang dilakukan Farit Febrianto. Dengan menyulap boneka bekas menjadi seni bernilai tinggi, ia dapat mendulang rupiah, bahkan produknya menembus antardaerah.

INDAH OCEANANDA, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

RATUSAN boneka tampak berjajar rapi di ruang tamu kediaman Farit. Kendati demikian, jangan dibayangkan boneka yang dipajang ini memiliki badan utuh seperti mainan boneka pada umumnya. Justru, penampilannya cukup mengerikan. Seperti, boneka tanpa tubuh, boneka dengan bola mata yang tercongkel, boneka berlumur darah sampai boneka yang berbentuk beda dari penampilan aslinya. ”Justru boneka horor seperti ini yang banyak dicari. Di Mojokerto juga belum ada yang berani jual seperti saya,” kata Farit, saat ditemui di rumahnya, Jalan Benteng Pancasila, Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, kemarin (7/12).

Pria 32 tahun ini menceritakan, usaha boneka bekas ini digelutinya sejak lima tahun lalu. Dia menuturkan, awalnya usaha itu dimulainya dengan berjualan mainan bekas yang dipasarkannya saat Car Free Day setiap hari Minggu. Farit membeli mainan butut itu dari beberapa pengepul barang rongsokan. Selain mainan bekas, ia juga menjual barang antik. ”Waktu itu nyoba jualan saja. Kebetulan punya kenalan pengepul barang rongsokan. Kok dilihat mainannya banyak yang masih bagus tapi sudah dibuang, akhirnya saya coba pasarkan sekalian sama barang antik waktu CFD,” beber dia.

Gayung bersambut. Saat CFD, produk barang bekas yang dipajang Farit menarik minat pengunjung. Selain itu, beberapa barang antik seperti televisi, telepon jadul, hingga kaleng kerupuk juga menjadi incaran pembeli yang menyukai barang antik. ”Tapi, yang barang antik lakunya nggak secepat mainan bekas. Kalau mainan bekas, orang tua mikir-mikir. Dari pada beli di supermarket harganya mahal dan dapatnya sedikit, mending beli di saya,” kata alumni SMKN 1 Kota Mojokerto ini.

Sejak 2019, mainan bekas milik Farit tak lagi ramai. Dia pun tak kehabisan ide. Farit mengatakan, mainan bekas yang dibelinya dari pengepul masih tersisa banyak. Terutama boneka yang sudah rusak. Lantas, ia pun mencoba menyulap boneka itu dengan menambahkan desain mengerikan agar terkesan horor. ”Kalau rusaknya sudah parah dan nggak bisa diperbaiki, ya saya desain sendiri biar terlihat horor. Ternyata saya coba tawarkan di CFD, banyak yang beli,” imbuh Farit.

Tahun 2020, usaha boneka bekasnya terdampak pandemi Covid-19. Itu membuat Farit akhirnya kini banting setir memasarkan boneka horornya secara online. Dengan memanfaatkan media sosial, seperti Instagram dan Facebook, kini ia bisa memasarkan produknya hingga luar pulau. Seperti Sumatra, Kalimantan, hingga ke Nusa Tenggara Timur (NTT). ”Paling banyak cari biasanya Jakarta, justru kalau di Mojokerto sendiri peminatnya masih jarang,” ucap mantan sales rokok di salah satu pabrik Sidoarjo ini. Setiap bulan, Farit mengaku pembelinya bisa mencapai ratusan orang.

Dikatakannya, biasanya ia memasok boneka bekas dari pengepul rongsokan di Jombang dan Kabupaten Mojokerto. Dengan bermodalkan Rp 150 ribu, ia sudah bisa mendapatkan sekarung mainan bekas. Dari hasil perburuannya itu, lalu dipilah kemudian ia tawarkan melalui komunitas dan medsos. ”Lumayan, saya beli sekarung Rp 150 ribu. Tapi, saat dijual per item bisa laku sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 350 ribu,” ungkap dia. Total koleksi boneka bekas yang dimilikinya hingga kini ada sekitar 700.

Mengandalkan barang bekas untuk mendulang keuntungan, diakui Farit memang tak mudah. Sebab, ia juga kerap dicemooh oleh teman dan warga sekitar. Tak jarang, ia juga dicibir karena pulang pergi membawa boneka bekas. ”Ya banyak juga yang bilang masak laki-laki nyari boneka terus. Padahal, mereka nggak tahu kalau itu bisa jadi keuntungan asalkan ditekuni dan bisa masuk ke pasaran,” tandasnya. (ron)


Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #boneka bekas #Mojopahit #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #mojokerto #perajin boneka bekas #soekarno #trowulan #mainan bekas #onde-onde