Hariadi Sabar, Generasi Pertama Perajin Cor Kuningan Majapahitan Mojokerto

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Selasa, 6 Desember 2022 | 16:45 WIB
MELEGENDA: Hariadi Sabar, 65, tengah menata karyanya di workshop pribadinya di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong. Ia generasi pertama pelopor cor kuningan yang masih menekuni seni rupa warisan budaya Majapahit tersebut. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojok
MELEGENDA: Hariadi Sabar, 65, tengah menata karyanya di workshop pribadinya di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong. Ia generasi pertama pelopor cor kuningan yang masih menekuni seni rupa warisan budaya Majapahit tersebut. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojok
Utamakan Pakem dan Kualitas, Karyanya Dipesan hingga Mancanegara

Serupa tapi tak sama. Kalimat itu terus dipegang teguh oleh Hariadi. Sehingga karya generasi pertama pelopor kerajinan cor kuningan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, ini pun dikenal hingga mancanegara.

MARTDA VADETYA, Trowulan, Jawa Pos Radar Mojokerto

BAGI pelaku seni majapahitan, mungkin tak asing dengan nama Hariadi Sabar. Ya, dia adalah putra pelopor kerajinan cor kuningan di Desa Bejijong, mendiang Sabar (1912-1996).

Mewarisi darah seni dari sang ayah, anak kelima dari tujuh bersaudara ini terus melestarikan budaya yang disebut-sebut warisan era Kerajaan Majapahit itu. Selain mewarisi darah seni mendiang sang ayah, cita-cita Sabar untuk mewujudkan Desa Bejijong dikenal sebagai kampung seni jadi salah satu faktor yang membuat Hariadi terus bertahan.

”Awalnya, beliau (Sabar) belajar cor kuningan (Majapahitan) dari orang Belanda. Sejak menekuni itu, cita-citanya ingin menjadikan Desa Bejijong sebagai kampung cor kuningan sebagai identitas. Mulai ajak saudara sampai tetangga bikin cor kuningan,” sebut pria 65 tahun itu. Benar saja, bisa dibilang cita-cita Sabar saat ini sudah terwujud. Sejauh ini sekitar 126 warga Desa Bejijong jadi perajin cor kuningan.

Sejak usia 15 tahun, Hariadi menelurkan karyanya berkat didikan langsung oleh ayahnya. ”Awal belajar dulu saya bikin patung dari kayu dan batu. Sampai akhirnya bikin cor kuningan ini,” sebutnya. Kalimat serupa tapi tak sama yang dipegangnya hingga kini ditempa sejak Hariadi belajar menekuni seni rupa tersebut. Itu berasal dari pakem mendiang sang ayah yang merupakan asisten Henry Maclaine Pont. Arsitek Belanda yang concern akan peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto sekaligus pendiri Museum Majapahit.

”Beliau (Sabar) menekankan kalau membuat patung (Majapahitan) harus mengacu dari sumber aslinya. Tidak boleh asal dan sembarangan. Jadi acuannya sumber literasi dan temuan-temuan peneliti purbakala. Nilai tersendiri bagi kami adalah membuat karya semirip aslinya,” beber mantan guru penjaskes yang terjun ke dunia cor kuningan sejak 1983 itu.

Pakem yang terus dia pegang itu mengantarkan Hariadi menggelar pameran tunggalnya pada tahun 1984 silam di Bentara Budaya Yogyakarta. Memboyong 113 karya patung logam Majapahitan dari Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, karyanya ludes terjual. ”Pulang dari Yogyakarta cuma bawa satu patung saja,” kenangnya. Menurutnya, proses cor kuningan yang dilakukannya tidak berbeda seperti umumnya. Hanya saja, sentuhan Hariadi menekankan detil dan kualitas bahan.

”Pembuatan cor kuningan sampai 11 tahapan. Mulai bentuk model, proses lilin, cor, sampai finishing,” sebutnya. Seiring berjalannya waktu, karya-karya Hariadi dikenal hingga mancanegara. Berikut sejumlah pejabat, pesohor, maupun selebritas dalam negeri mendatangi workshop sederhana di belakang rumahnya itu. ”Salah satunya Pak Habibie (mantan presiden ketiga). Kalau artis, yang sedang dikerjakan ini, pesanannya Dwi Sasono,” ucapnya sembari menunjuk patung Dewi Sri berukuran sekitar dua meter.

Sejumlah karyanya saat ini sudah tersebar di penjuru negeri. Mulai dari wilayah Sumatra hingga Papua. Mulai dari monumen Joko Samudro di GOR Joko Samudro Gresik, Monumen Perjuangan Kapten Mudita di Bali, hingga Patung Lidah Api di Jayapura. ”Sekitar tahun 1994 juga dapat pesanan patung Airlangga dan Garuda Wisnu yang dijadikan monumen di Melbourne – Australia,” terangnya. Tak hanya itu, karyanya pun juga telah tersebar di sejumlah negara Asia Tenggara.

Hingga Hariadi mendapat penghargaan Anugerah Kebudayaan Kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2009 silam. Itu bukan isapan jempol belaka. Sang maestro cor kuningan itu pun jadi salah satu pemrakarsa aliran patung lebur yang ditekuninya sejak beberapa tahun terakhir. Yakni patung yang terdiri dari kombinasi beberapa jenis batu dengan logam. ”Itu tercetus setelah ada yang minta tolong dibuatkan patung yang melogam. Kalau sekarang ini salah satunya ya Dwi Sasono itu yang minta,” tukasnya. (ron)



Editor : Fendy Hermansyah
kabupaten mojokerto Majapahit perajin cor kuningan Mojopahit kerajaan majapahit Kota Mojokerto majapahitan mojokerto soekarno cor kuningan bejijong trowulan onde-onde kampung cor